Tersisa 3 di Dunia, Kereta Api Lokomotif Uap dengan Rel Bergigi Ini Ada di Stasiun Semarang, Tepatnya…

inNalar.com – Indonesia, bukan hanya memiliki rel reguler seperti yang ada di jalur kereta api biasanya.

Namun terdapat juga berbagai rel dengan bentuk bergerigi, salah satunya berada di stasiun Bedono, Ambarawa Semarang.

Dilansir dari akun Kereta Api Indonesia (KAI), stasiun Bedono memiliki struktur rel bergigi yang jarang dijumpai.

Baca Juga: Terpanjang di Indonesia, Jembatan Kereta Api di Bandung Ini Dibangun Gunakan Besi Eropa, Berapa Muatannya?

Dibangun pada tahun 1873 oleh perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), stasiun ini ditujukan untuk mengangkut hasil bumi.

Terutama, hasil perkebunan kopi sebagai komoditas andalan di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Awalnya, perusahaan NIS membangun jalur kereta api Semarang-Kedungjati- Solo- Yogyakarta, dan beroperasi pada tanggal 10 Juni 1872.

Baca Juga: Bakal Punya Transportasi Bawah Tanah, LRT Bali Akan Dibangun Sejauh 20 km, Kuras Dana Investasi Rp9,10 Triliun

Termasuk cabangnya Kedungjati- Ambarawa-Secang-Magelang, untuk keperluan militer pada tahun 1873.

Bangunan stasiunnya masih asli dan terawat dengan baik dalam kesederhanaan.

Dilengkapi prasarana kebutuhan kereta api uap, seperti pengatur sinyal, bak penampungan air, corong air, hingga rel putar.

Baca Juga: Nilai Investasi Rp38,7 Triliun, Benarkah MRT North South di Jakarta Ditopang Hutang dari Jepang?

Stasiun ini menggunakan lebar jalan sebesar 1067 milimeter karena jalurnya melewati daerah perbukitan dan guna menekan biaya pembangunan agar tidak terlalu mahal.

Panjangnya hampir 5,6 kilometer, dan resmi beroperasi pada tanggal 1 Februari 1905, dengan jalur Ambarawa ke Secang.

Karena rute jalur kereta api ini melewati bukit yang terjal, dengan kemiringan 65 derajat, maka dibangunlah rel bergigi pada tahun 1902.

NIS pun akhirnya membeli lokomotif uap khusus yang memiliki roda bergigi yaitu seri B25.

Fungsi ini agar lokomotif uap tidak mengalami kesulitan untuk menanjak jalur tersebut.

Kereta api lokomotif uap ini bertugas untuk mengait rel bergigi yang ada di bawahnya sehingga dapat mendaki daerah curam.

Baca Juga: KA Argo Semeru Anjlok, Akibatkan Arus Lintasan ke Surabaya Beralih ke Semarang, Penumpang Kalang Kabut?

Tanpa lokomotif uap, maka kereta api biasanya hanya dapat menanjak 5 % kecuraman.

Jika menggunakan lokomotif uap ini, maka kecuraman dapat mencapai 65% meskipun dengan kecepatan rendah 10km/jam.

Sebagaimana jalur Ambarawa merupakan perbukitan dengan jalur berkelok dan memiliki kemiringan yang curam.

Lokomotif uap yang dibeli oleh NIS ini berasal dari Esslingen Jerman, dan merupakan salah satu yang tersisa dari 3 di dunia, dimana 2 lainnya berada di Swiss dan India.

Pada tahun 1978, stasiun Bedono dinonaktifkan, dan sempat dijadikan jalur kereta api uap wisata dengan rute Ambarawa-Bedono.

Namun, saat ini hanya beroperasi sebagai museum kereta api uap hingga stasiun Tuntang saja.

Inilah gambaran stasiun Bedono yang memiliki rel bergerigi, dan menyimpan salah satu dari 3 lokomotif uap yang tersisa di dunia.*** 

 

Rekomendasi