
inNalar.com – Indonesia masih terus bergulat dengan segudang tantangan yang entah kapan akan melandai hingga saat ini; mulai dari kurikulum yang terus-menerus dipermak, hingga disparitas pendidikan yang terjadi di wilayah kota dan pelosok. Seperti Sekolah Alam yang ada di Banyuwangi ini contohnya.
Lahir dari pemikiran idealisme penuh visioner dari Muhammad Farid pada tahun 2005. Di Banyuwangi, berdiri satu sekolah yang jauh dari kata biasa.
Alih-alih memiliki gedung megah yang serba wah, bahkan di sana tidak ada seragam formal yang mengungkung aktivitas siswa, pun tidak ada sederet bangku monoton yang membosankan mata.
Baca Juga: LINK Live Streaming Bali United vs Persib Bandung BRI Liga 1 2024 Indosiar, Prediksi Skor, dan H2H
Jika diibaratkan, sekolahan ini seperti simfoni sumbang dalam satu orkestrasi besar dalam merealisasi gegap gempita generasi emas Indonesia, karena di setiap penjuru kesederhanaan ini, terpancar satu hal yang mempesona, bahwa tempat belajar ini berhiaskan antusiasme belajar yang terus membara.
Sekolah alam ini adalah Banyuwangi Islamic School (BIS) yang terletak di Desa Genteng Kulon, Kabupaten Banyuwangi.
Lebih melegenda dengan nama Sekolah Alam, inilah yang justru menjadikan rumah belajar ini seringkali tampil beda. Di sini, para siswa dibebaskan untuk menyerap ilmu di aula, di saung, pun atau di sanggar sederhana.
Baca Juga: Kisah Pesantren Unik Al Kasyaf Bandung, Punya Usaha Bank Sampah untuk Biayai Kehidupan Santrinya
Seperti pada umumnya, ada beberapa jenjang di sekolahan ini, yaitu seperti SD – SMP – Ma’had.
Tidak jauh berbeda dengan sekolahan lainnya, kan? Tapi ada satu kebijakan yang membuat hati tertegun di sini, karena sistem pembayaran sekolah ini sungguh tidak lazim—hanya bermodalkan sayur dan doa.
Muhammad Farid, selaku sang pendiri Sekolah Alam Banyuwangi, memberi solusi yang sarat nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Berjuluk Sekolah Master, Sekolahan di Depok ini Ternyata Menjadi Tempat Belajar Anak Jalanan
Beliau membuka pintu pendidikan dengan opsi pembayaran diluar nalar; bukan hanya uang, para orang tua bisa membayar biaya sekolah dari hasil kebun berupa sayur-mayur, atau hanya untaian doa bagi kaum dhuafa.
Sayur-mayur itu tidak sekedar diterima, namun kembali dimanfaatkan untuk konsumsi para siswa.
Lebih dari itu, beliau juga membeberkan satu fakta lain, bahwa sayuran itulah yang juga menjadi penopang operasional sekolah.
Satu pelajaran yang bisa diambil, dalam keterbatasan yang seringkali jadi penghalang, justru tersimpan potensi besar yang bisa jadi roda penggerak untuk menyongsong perubahan yang tiada disangka.
Inilah yang menjadi tekad Muhammad Farid, beliau kini telah berhasil merealisasi mimpinya melalui satu sekolah di Banyuwangi yang inklusif dan berbasis pendidikan karakter.
Baca Juga: Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta, Jadi Tempat Aman Para Transpuan Beribadah
Selain unik dari segi pembayaran, ternyata ada fakta mengejutkan lain, lho! Lalu, apa saja sisi unik dari Sekolah Alam Banyuwangi ini?
Pertama, Sekolah Alam Banyuwangi ini ternyata juga berbeda dari segi kurikulumnya. Usut punya usut, sang pengampu sekolah mengkombinasi kurikulum modern dengan model pembelajaran seperti pesantren salafiyah.
Jadi, siswa di sini tidak hanya belajar mata pelajaran umum, tapi mereka juga belajar menghafal al-Qur’an dan beberapa bahasa asing seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan bahasa lainnya.
Baca Juga: Kuota Terbatas! Peacesantren Welas Asih, Pesantren yang Terapkan Kurikulum Kerukunan dan Kedamaian
Kedua, Sekolah Alam Banyuwangi inipun menghadirkan pembelajaran unik.
Di sini, para guru tidak hanya sekedar berteori dan beretorika, tapi mereka juga mengajak para siswa untuk terjun ke lapangan, sekedar untuk memberikan pengajaran yang lebih bermakna seperti beternak, berkebun, dan memasak.
Di setiap aktivitas inilah, para siswa disemai dengan nilai budi pekerti luhur perihal cinta kasih terhadap alam semesta.
Sekolah Alam Banyuwangi Islamic School adalah satu bukti konkret, bahwa sekolah sederhana ini adalah satu dari harapan bagi anak daerah yang kurang beruntung untuk menggapai mimpi besar mereka. ***