

inNalar.com – Flyover Djuanda di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi sorotan sebagai proyek jembatan layang termahal di Indonesia.
Dengan nilai pembangunan mencapai Rp 363 miliar, flyover ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 6 September 2024 sebagai bagian dari upaya besar untuk memperkuat infrastruktur nasional.
Flyover ini tidak hanya sekadar proyek fisik, proyek ini dirancang dengan misi khusus, yakni untuk mengenang jasa Pahlawan Nasional Djuanda Kartawidjaja.
Baca Juga: Urai Kemacetan, Magelang Bakal Punya Jembatan Flyover Rp99,66 Miliar dengan Panjang 781 M
Terletak di Taman Flyover Djuanda, jembatan ini menghubungkan dua titik penting di Jawa Timur, yaitu Sidoarjo dan Juanda. Flyover ini membentang sepanjang 858 meter, dengan rincian FO1 (Sidoarjo-Juanda) sepanjang 435 meter dan FO2 (Juanda-Surabaya) sepanjang 423 meter.
Jalur selebar 8 meter ini dibangun dengan konstruksi dua lajur serta tambahan jalur sepanjang 500 meter dan 260 meter di masing-masing ujung untuk memudahkan akses kendaraan.
Awalnya bernama Flyover Aloha, jembatan flyover di Jawa Timur ini kemudian diubah menjadi Flyover Djuanda sebagai penghormatan terhadap Djuanda Kartawidjaja, tokoh yang berjasa dalam menyatukan wilayah laut Indonesia melalui Deklarasi Djuanda pada 1957.
Baca Juga: Diprediksi Naik 10 Persen, UMP Sumatera Selatan 2025 Bakal Jadi Rp3,8 Juta per Bulan
Pahlawan nasional ini juga berperan penting dalam inisiasi pembangunan Bandara Internasional Juanda di Jawa Timur, yang kini menjadi salah satu akses utama ke Surabaya.
Lebih lanjut, Flyover Djuanda dibangun untuk mengurangi kemacetan yang sering terjadi di sekitar Bundaran Aloha, yang juga merupakan jalur padat di perlintasan kereta api di Jalan Bandara Juanda.
Proyek gagasan Jokowi ini diharapkan mampu memperlancar arus lalu lintas, mengurangi risiko kecelakaan, serta mempersingkat waktu perjalanan bagi pengguna jalan menuju bandara.
Baca Juga: Habiskan Rp22 Triliun, Kilang Minyak ‘Abadi’ Pertama dan Terbesar Dunia Ini Ada di Riau
Dengan adanya jalur layang ini, masyarakat dan wisatawan akan merasakan kenyamanan dan efisiensi yang lebih baik dalam perjalanan mereka.
Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengendara, Flyover Djuanda dilengkapi dengan lampu penerangan yang dipasang setiap 3 meter di sepanjang dinding pembatas jembatan. Area oprit dan frontage jalan juga dilengkapi dengan lampu PJU berbasis tenaga surya, memastikan penerangan yang ramah lingkungan. Selain fungsionalitas, flyover ini memiliki ornamen seni dan budaya lokal, yang menjadikannya lebih dari sekadar infrastruktur; ia merupakan ikon baru Sidoarjo.
Taman hijau di sekitar flyover dan monumen di dalamnya menawarkan ruang publik bagi warga untuk bersantai.
Di bagian atas flyover, terdapat simbol Garuda sebagai lambang negara, ikon udang dan bandeng sebagai ciri khas Sidoarjo, serta jangkar dan motto “Jalasveva Jayamahe” yang merupakan semboyan TNI Angkatan Laut. Semua elemen ini mencerminkan identitas bangsa dan semangat lokal.
Pada peresmian Flyover Djuanda, Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Pj. Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono, dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Kehadiran para pejabat tinggi ini menandakan pentingnya proyek ini sebagai simbol pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Flyover Djuanda kini menjadi ikon kebanggaan bagi warga Sidoarjo dan sekitarnya, serta bentuk penghormatan nyata kepada jasa Djuanda Kartawidjaja yang terus dikenang.