
inNalar.com – Siswa kelas 10 SMA dapat mempelajari terjemah teks Social Media Status milik Sofia Sofa di buku Bahasa Inggris Kurikulum Merdeka.
Setelah mempelajari Expository Text, murid disajikan sebuah bahan bacaan berupa postingan status di media sosial milik seseorang.
Kandungan bacaannya masih seputar topik Chapter 5 ‘Graffiti’. Bedanya, kali ini siswa akan melihat beberapa point of view seseorang melalui curahan hati mereka di media sosial.
Sebagaimana teks dalam Task 3 bahwa setiap penulis menyajikan pro dan kontranya terhapa karya seni Graffiti.
Adapun pada Chapter V Task 5 ini juga demikian. Sebelum mengerjakan discussion yang ada di halaman 117, yuk pahami dulu terjemah teks berikut ini.
Sofia Sofa’s Social Media Status
There is no accounting for taste.
Tidak ada standar mutlak soal selera.
Baca Juga: Kalahkan Malaysia, Tingkat Akses Pendidikan Dasar Anak Indonesia Sentuh 97,9%: Tertinggi se-ASEAN?
Society is full of communication and advertising.
Masyarakat penuh dengan komunikasi dan iklan.
Company logos, shop names.
(Ada) logo perusahaan, nama dari sejumlah toko.
Large intrusive posters on the streets.
Poster besar yang mencolok di jalanan.
Are they acceptable? Yes, mostly.
Apakah itu semua dapat diterima? sebagian besar, ya.
Is graffiti acceptable? Some people say yes, some no.
Apakah graffiti bisa diterima? Sebagian orang mengatakan iya, sebagiannya lagi tidak.
Who pays the price for graffiti? Who is ultimately paying the price for advertisements? Correct. The consumer.
Siapa yang (mau) membayar harga untuk Graffiti? Siapa yang pada akhirnya (berani) membayar harga untuk iklan-iklan? Benar, konsumen.
Have the people who put up billboards asked your permission? No.
Sudahkah orang yang memasang papan reklame meminta izin darimu? tidak.
Should Graffiti Painters do so then? isn’t it all just a question of communication- your own name, the names of gangs, and large works of art in the street?
Haruskah Pelukis Graffiti meminta izin juga? Bukankah semua ini hanyalah bentuk komunikasi-menuliskan nama sendiri, nama-nama geng, dan karya seni besar di jalanan?
Baca Juga: Unik! 3 Sekolah Ini Memiliki Jurusan Musik, Ada yang Menjadi Sekolah Musik Pertama di Indonesia
Think about the triped and checkered clothes that appeared in the stores a few years ago.
Pikirkanlah tentang pakaian bergaris dan kotak-kotak yang muncul di pusat perbelanjaan beberapa tahun lalu.
And ski wear. The patterns and colors were stolen directly from the flowery concrete walls.
Dan pakaian ski. Pola dan warnanya diambil langsung dari dinding beton yang penuh warna.
Baca Juga: Mohon Maaf! Beasiswa Ini Tak Dibuka Kemenkeu di 2025 Imbas Pemangkasan Anggaran
It’s quite amusing that these patterns and colors are accepted and admired but that graffiti in the same style is considered dreadful.
Pola dan warna tersebut menjadi sangat lucu ketika keduanya diterima dan dikagumi, tetapi grafiti dengan gaya yang sama dianggap mengerikan.
Times are hard for the arts.
Zaman memang sulit bagi dunia seni.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi