Terjemah Little Red Riding Hood, Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 10 SMA Kurikulum Merdeka: POV the Wolf (Part 2)

inNalar.com – Artikel kunci jawaban ini diperuntukkan untuk siswa kelas 10 SMA yang menggunakan bahan ajar Bahasa Inggris Kurikulum Merdeka.

Kali ini, materi yang akan diulas adalah terjemah alih bahasa Inggris-Indonesia dari teks ‘Little Red Riding Hood (A Fractured Fairy Tale)’.

Pada halaman 135-136, bacaan cerita rakyat ini sudah dibahas dari sudut pandang si Anak Kerudung Merah.

Baca Juga: Perpanjangan Finalisasi PDSS untuk Ratusan Siswa yang Sempat Gagal Daftar SNBP 2025, Ini Syaratnya

Berikut ini merupakan part 2 dari teks tersebut tetapi dongeng tersebut diubah dan kita akan melihatnya dari perspektif the wolf atau serigala sebagai tokoh antagonis.

Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 10 SMA Kurikulum Merdeka

Ini dia terjemah teks ‘Little Red Riding Hood (A Fractured Fairy Tale)’ part 2

Baca Juga: Terjemah ‘Little Red Riding Hood’, Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 10 SMA Kurikulum Merdeka: Chapter 7 Task 3 Hlm. 135-136

Little Red Riding Hood (A Fractured Fairy Tale)
POV: the Wolf

si Kerudung Merah (Dongeng yang Diubah)
Sudut pandang: Serigala

So I’m packing up my troubles in an old kit bag in the woods when I hear a twig snap.

Baca Juga: Calon Maba Wajib Catat! Universitas di Surakarta Ini Buka 9 Program Studi Baru, Referensi SNBP dan SNBT 2025

Jadi, aku sedang membereskan barang-barangku ke dalam tas tua di hutan ketika aku mendengar ranting patah.

I turned to see a Little Red Hooded Teen with a picnic basket that said: “Mommy’s little girl” along with a picture of the girl yawning.

Aku berbalik untuk melihat seorang anak kecil bertudung merah dengan sebuah keranjang piknik bertuliskan, “Gadis kecil kesayangan Mommy” beserta gambar gadis itu sedang menguap.

“Hey, Lil Hood, I like that basket.” I rolled my eyes.

“Hei, Tudung Kecil, aku suka keranjang itu,” aku mendengus.
– mendengus: gerakan mengarahkan mata ke atas sebagai ekspresi kejengkelan atau ketidakpedulian akan suatu hal yang menurutnya terlihat lucu atau bodoh.

“Whateva’, I need to text Granny that you are utterly creeping me out.”

Baca Juga: Calon Maba Wajib Catat! Universitas di Surakarta Ini Buka 9 Program Studi Baru, Referensi SNBP dan SNBT 2025

“Terserah, aku harus mengirim pesan ke Nenek bahwa kamu benar-benar membuatku takut.”

She threw a piece of gum in her mouth and stared into my eyes while chewing.

Dia memasukkan permen karet ke mulutnya dan menatap mataku sambil mengunyah.

Baca Juga: Studi Ungkap Kinerja Dosen Jadi Lebih Buruk Jika Dievaluasi oleh Mahasiswa, Ini Alasannya

A few seconds later, she pulled out a smartphone and pushed me out of the way.

Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan smartphone dan mendorongku ke samping.

I started to follow her.

Baca Juga: Calon Mantu Idaman Banget, Ini Dia 8 Sekolah Kedinasan Sepi Peminat, Lulus Langsung Jadi PNS!

Aku mulai mengikutinya.

“So, what’s in the basket?” I asked. She backed away from me.

“Jadi, apa yang ada di dalam keranjang itu?” tanyaku. Dia bergerak mundur.

I reached into my pocket for the Friendship Coupon I got for my birthday.

Aku merogoh sakuku untuk mencari Kupon Persahabatan yang aku dapatkan di hari ulang tahunku.

Instead I pulled out an “I will eat you” coupon used for The Three Thousand Humongous Pigs restaurant, which enables you to get an all you ­can ­eat dinner.

Baca Juga: Diagram Sebab Akibat, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Hlm. 154-155

Tapi yang aku tarik malah kupon “Aku akan memakanmu” dari restoran The Three Thousand Humongous Pigs, yang memungkinkanmu makan malam sepuasnya.

She screamed an ear­piercing scream that made me roar and fall to the ground and curl up.

Dia menjerit dengan teriakan memekakkan telinga yang membuatku mengaum, terjatuh ke tanah, dan meringkuk.

Baca Juga: Kamu si Paling Ekstrovert? Kepoin Rekomendasi 5 Jurusan Kuliah Sesuai Tipe MBTI Ini Aja!

“It’s an armadillo­wolf and it’s going to, like, totally attack me!” She shrieked and ran into the woods. A troop of seven dwarves marched out of the trees.

“Itu serigala-armadillo dan dia akan, seperti, benar-benar menyerangku!” Dia menjerit dan berlari ke dalam hutan. Sekelompok tujuh kurcaci keluar dari balik pepohonan.

They all turned towards me.

Mereka semua menatapku.

Baca Juga: 5 Kota di Jawa Timur Ini Fasilitasi Pelajar dengan Bus Sekolah Gratis, Daerahmu Ada?

“We’re the Seven Levels of awesomeness,” a red shirted dwarf said in a squeaky voice and then played a high chord on an electric guitar.

Kami adalah Tujuh Tingkatan Kehebatan,” kata seorang kurcaci berbaju merah dengan suara melengking, lalu memainkan nada tinggi di gitar listrik.

The dwarf started to explain a boring history story. As soon as his eyes crossed, I stepped over the whole row of dwarves in one step.

Kurcaci itu mulai menceritakan kisah sejarah yang membosankan. Saat matanya mulai melotot, aku melangkahi seluruh barisan kurcaci dalam satu langkah. 

I continued to look for the Girl.

Aku terus mencari Gadis Tudung.

Baca Juga: Penutupan SPPI Batch 3 Dipercepat 1 Bulan! Calon ASN dengan Gelar Sarjana S1/D4 Wajib Lihat Perubahan Alur Pendaftaran Ini

“I want to be friends with you!” I yelled.

“Aku ingin berteman denganmu!” teriakku.

“You are, like, a liar!!!” She responded from behind an incredibly noticeable tree trunk.

“Kamu itu, seperti, pembohong!!!” Dia membalas dari balik batang pohon yang sangat mencolok.

Baca Juga: 10 Jurusan Sepi Peminat di UGM Yogyakarta untuk SNBP 2025, Ada Prodi Pilihanmu?

“You, like, just gave yourself away!” I replied.

“Kamu, seperti, baru saja membocorkan lokasimu sendiri!” balasku.

She ran out from behind the tree.

Dia berlari keluar dari balik pohon.

Baca Juga: Orang Indonesia Paling Ambis? Ini Dia Negara di Asia Tenggara dengan Jumlah Mahasiswa Belajar di Luar Negeri Terbanyak

“I don’t have a job! So please don’t eat me!” she yelled.

“Aku tidak punya pekerjaan! Jadi tolong jangan makan aku!” teriaknya.

What a terrible excuse.

Betapa buruknya alasan itu.

Baca Juga: Mengenal Kurikulum Cinta, Konsep Besutan Kemenag yang Bakal Segera Diterapkan

“Yes you do! You have a delivery job!” I spat back. She groaned.

“Kamu punya pekerjaan! Pekerjaanmu itu mengantar barang!” balasku cepat. Dia mengerang.

“Ugh! It’s like mom all over again!”

“Ugh! Ini seperti ibuku lagi!”

Baca Juga: Ingin Jadi Agen Rahasia BIN? Ini Syarat Masuk Sekolah Kedinasan STIN 2025

“Mom?” She led for the second time.

“Ibumu?” Untuk kedua kalinya, dia kabur.”

As she ran away I saw a label on her basket. It said ‘To Grandma, 2235 NE Forest Ct.’ Hmmm …. Maybe …, just maybe, I could be friends with Little Hood there.

Saat dia lari, aku melihat label di keranjangnya. Tertulis ‘Untuk Nenek, 2235 NE Forest Ct.’ Hmm… Mungkin… hanya mungkin, aku bisa berteman dengan Gadis Tudung.

I arrived at the old lady’s door when I saw my old friend, Bob­wolf, chasing three little pirates in the brig.

Aku tiba di depan rumah neneknya ketika aku melihat temanku yang lama, Bob-wolf, sedang mengejar tiga bajak laut kecil di kapal. 

He had recently chased three little famous pig chefs but that’s a whole different… uh… mall game, I think.

Dia sebelumnya mengejar tiga koki babi terkenal, tapi itu cerita lain… uh… permainan di mal, kurasa. 

Baca Juga: Sebab Akibat dalam Teks Mbah Sadiman, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Bab 7 Hlm. 150-152

Anyway, I knocked on the door.

Bagaimanapun, aku mengetuk pintu.

“Who is it?” a sweet voice of a grandma called.

“Siapa itu?” suara lembut seorang nenek terdengar.

Baca Juga: 10 Universitas Swasta dengan UKT Termurah di Indonesia, Biaya Terjangkau Tapi Kualitas Terjamin!

“The uh, Crayola department?” I answered. Wow, that was lame.

“Uh, bagian dari departemen Crayola?” jawabku. Wah, itu konyol sekali.

“Come in,” the grandma said. As soon as I entered, the grandma was so scared she jumped into my mouth.

“Masuklah,” kata sang nenek. Begitu aku masuk, nenek itu sangat ketakutan hingga dia melompat masuk ke dalam mulutku. 

I accidentally swallowed the sweet little woman. BLECH! Was she dis­gusting.

Aku secara tidak sengaja menelannya. BLECH! Rasanya menjijikkan.

At the worst time in possible times that are worse than worst times, Little Hood showed up.

Di saat yang paling buruk dari semua saat yang lebih buruk dari yang terburuk, Gadis Tudung muncul.

“Gra-any! I brought your cookies!” she sang. COOKIES!!! I DESPISE cookies.

“Neneek! Aku bawa kue untukmu!” nyanyinya. KUE!!! Aku BENCI kue.

I swallow an old lady to make friends with somebody because I want to know what’s in a basket, just for cookies! WOW, is my life messed up.

Aku menelan seorang nenek hanya untuk berteman dengan seseorang karena aku ingin tahu apa yang ada di dalam keranjang, dan ternyata isinya kue! Wow, betapa kacaunya hidupku.

“Okay, I’ll take the cookies now my beloved Hooded Girl — I mean, Granddaughter,” I said in my best old lady voice.

“Baiklah, aku akan mengambil kuenya sekarang, cucuku tersayang—maksudku, sayang, cucuku,” kataku dengan suara nenek terbaikku. 

I waited at least a minute.

Aku menunggu setidaknya satu menit.

“‘Kay Grandma. Now let me hand you the goodies,” she inally said. I reached a paw out.

“Baiklah, Nek. Sekarang biarkan aku menyerahkan barangnya,” akhirnya dia berkata. Aku mengulurkan cakar.

“Wow, Grammy, what big paws you have,” she said in a slightly frightened tone.

“Wow, Nek, betapa besarnya cakar yang kau miliki,” katanya dengan nada agak takut.

“Aren’t you a bit too old to be concerned about what your Granny looks like?” I scolded back with a hint of worry. I heard a bubble pop.

“Bukankah kamu sudah terlalu besar untuk peduli tentang bagaimana rupa nenekmu?” tegurku dengan nada khawatir. Aku mendengar suara gelembung pecah.”

“No and F-Y-I, I’m only, like, fourteen.” She sassed.

“Tidak, dan FYI, aku ini baru empat belas tahun,” balasnya dengan ketus. 

“Wait, humans can’t have paws! Hey, you’re the creepy armadillowolf who wrote a note card that said ‘I will eat you’!”

“Tunggu, manusia tidak punya cakar! Hei, kamu itu serigala-armadillo menyeramkan yang menulis kartu bertuliskan ‘Aku akan memakanmu’!”

I step guiltily out of the door. “You caught me red handed, wait no, you caught me by my hand.” I gazed at my hand.

Aku melangkah keluar dari pintu dengan rasa bersalah. “Kau menangkapku basah kuyup—eh, maksudku, kau menangkapku dengan tanganku.” 

The girl slapped it out of the way.

Aku menatap tanganku. Gadis itu menamparnya.

“Enough chit-chat!” She said and then screamed, “DOCTOR!!!” One quote unquote Seven Levels of Awesomeness dwarf with a doctor coat appeared on the top of my head.

“Cukup basa-basinya!” serunya lalu berteriak, “DOKTER!!!” Salah satu kurcaci dari Tujuh Tingkatan Kehebatan muncul dengan jas dokter di atas kepalaku.***