

inNalar.com – Perang Rusia dan Ukraina menyisakan kisah nyata Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang bekerja di luar negeri terjebak di tengah konflik, baru mengetahui berita adanya invasi langsung terdengar suara tembakan, merasa diantara hidup dan mati.
WNI itu bernama Iskandar (46) menceritakan pengalamannya menjalani peristiwa luar biasa dalam hidupnya, dirinya tidak sendiri tetapi ada 8 orang rekan lainnya yang berasal dari tanah air juga, hingga akhir Februari para pekerja pabrik itu pesimis bisa selamat.
Sulit sekali bisa keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan diri, bahkan harapan hidup hanya tinggal 10 persen saja, suasana pun mencekam seakan berada di garis tipis antara berhasil lolos atau menjadi korban perang Rusia Ukraina, dan tinggal nama.
Baca Juga: Jill Biden Mendadak Berkunjung ke Ukraina Bertemu Olena Zelensky, AS Dukung Rakyat Ukraina
Iskandar adalah seorang pekerja yang bertugas sebagai Quality Control (QC) pada sebuah pabrik plastik berbasis di utara Kota Chernihiv sesaat sebelum konflik dimulai, dirinya berasal dari Binjai Sumatera Utara mengetahui invansi dari video YouTube 24 Februari pagi hari waktu setempat.
Dikutip inNalar.com dari artikel Pikiran-rakyat.com berjudul “Kisah Sembilan Pekerja Pabrik Asal Indonesia Terperangkap di Tengah Invasi Rusia Selama Tiga Minggu” pada Selasa, 10 Mei 2022 tidak lama mengetahui invansi itu, kemudian serangan dimulai.
“Hanya beberapa saat setelah video selesai, penembakan dimulai,” kata Iskandar, yang telah bekerja di Ukraina sejak 2017.
Sembilan pekerja Indonesia pabrik, dua rekan Nepal mereka, dan seluruh staf Ukraina berkumpul di lantai pabrik, bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan.
“Semua orang pucat dan tampak sangat tertekan. Aku bahkan tidak bisa tersenyum. Kami mulai panik. Bos kami menyuruh kami mematikan mesin. Kami hanya meringkuk di sana dan mendengarkan suara roket yang terbang di atas kepala,” kata ayah empat anak itu.
Iskandar dan para pekerja pabrik terperangkap dalam Pengepungan Chernihiv. Secara strategis, kota ini terletak di utara ibukota Ukraina, Kiev, dan dekat dengan perbatasan Belarus dengan Rusia.
Baca Juga: Al Qaeda Sebut AS Tinggalkan Ukraina jadi Mangsa Rusia, Pasca Invasi 9 September Ekonominya Lemah
“Semua orang di tim Indonesia berusia dua puluhan kecuali saya. Mereka mencari saya untuk bertanya apa yang harus dilakukan, saya tidak tahu harus menjawab apa. Beberapa dari mereka bahkan tidak bisa berbicara sangking ketakutannya,” katanya.
Iskandar dan tim memanfaatkan bangunan bersejarah di halaman pabrik. Bangunan kecil tak terpakai itu menuntun mereka ke sebuah bunker bawah tanah rahasia.
“Suhu saat itu minus 5 celcius di bawah tanah, dan kami semua masing-masing mengenakan tiga mantel serta topi,” katanya.
Dia menjelaskan, mereka tidur di atas palet kayu yang telah disusun menjadi tempat tidur dan makan buah serta roti. Di sana terdapat alat pemanas kecil yang tidak terlalu berguna.
Entah bagaimana, Iskandar mengatakan tentara Ukraina berhasil menyelamatkan mereka dari pabrik. Sejak itu mereka berpindah dari satu bunker ke bunker lainnya.
Sementara itu, Kedutaan Indonesia di Kiev berusaha mati-matian untuk menyelamatkan orang-orang seperti Iskandar, tetapi rencana berturut-turut berakhir dengan kegagalan.
Setelah mendapat panggilan telepon dari pejabat kedutaan yang menyuruh mereka bersiap-siap, evakuasi nyaris selalu dibatalkan di menit-menit terakhir karena masalah keamanan.
Pada 17 Maret, tiga minggu setelah invasi dimulai, Iskandar dan rekannya akhirnya dapat melarikan diri, pulang ke rumah dengan bantuan kedutaan Indonesia serta orang-orang Ukraina.*** (Siti Aisah Nurhalida Musthafa/Pikiran Rakyat)