Terima Rp72 Triliun! Bandara di Aceh Ini Tak Hancur Walau Diterjang Tsunami Setinggi 30 Meter, Jadi Tempat Evakuasi?

InNalar.com – 19 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004 terjadi bencana tsunami yang sangat dahsyat.

Bencana tersebut terjadi di Aceh, hingga hancurkan ribuan bangunan di daerah tersebut.

Namun, ternyata selama bencana itu terjadi terdapat satu bandara yang tidak rusak, bahkan dijadikan pula sebagai tempat evakuasi pasca bencana.

Baca Juga: Estimasi Serap Tenaga Kerja 1.500 Orang, Proyek Kontroversi Senilai Rp290 Miliar di Padang Ini Berakhir Tragis?

Padahal bencana ini sangatlah dahsyat, karena banyak sekali infrastruktur, sekolah, rumah, ataupun kantor yang hancur.

Walaupun memang tetap ada bangunan-bangunan lain yang tidak mengalami kerusakan separah itu.

Salah satunya adalah Masjid Raya Baiturrahman, karena tempat ibadah ini tidak mengalami kerusakan seperti bangunan lainnya.

Baca Juga: Cegah Konflik dan Sengketa Lahan, Jokowi Sukses Bagikan 1.000 Sertifikat Tanah Wakaf di Jawa Timur

Selain itu ada pula bandar udara di daerah Aceh ini yang juga tidak mengalami kerusakan, sehingga dijadikan sebagai tempat evakuasi korban.

Berdasarkan sejarahnya, sebenarnya bandar udara ini telah berusia cukup tua, karena awalnya dibangun oleh Jepang.

Ketika dibangun oleh Jepang, lapangan terbang ini landasan pacu sepanjang 1.400 meter yang didesain berbentuk “T”.

Baca Juga: Gerus Dana Rp780 Miliar, Bendungan di Gowa Sulawesi Selatan Ini Pakai Desain Seismic Coefficient, Apa Itu?

Usai Indonesia merdeka, pada tahun 1968 akhirnya bandar udara ini dijadikan komersil oleh pemerintah.

Karena dijadikan komersil, pemerintah memperpanjang landasan pacu di bandar udara tersebut menjadi 1.850 meter yang lebarnya mencapai 45 meter.

Adapun nama lapangan terbang yang tetap kokoh walau diterjang tsunami 19 tahun yang lalu adalah Bandara Sultan Iskandar Muda.

Baca Juga: 4 Ribu Hektar Hutan di Jember Disulap Jadi Area Tambang Emas, Tapi Izinnya Malah Dicabut Menteri ESDM Padahal Masih 1 Tahun Beroperasi

Dilansir InNalar.com dari Setneg, meski Aceh pasca tsunami 2004 masih terbilang berbahaya, namun kawasan di bandar udara Iskandar Muda ini merupakan tempat yang aman untuk dijadikan lokasi evakuasi.

Pasalnya, walau terjangan ombak setinggi 30 meter itu sudah berlalu, namun daerah tersebut masih mengalami gempa susulan tiap 30 menit.

Ditambah lagi, lokasi bandar udara ini juga jadi pusat pengiriman bantuan selama bencana kemanusiaan terbesar itu terjadi.

Baca Juga: Sumber Dayanya 975 Juta Ton, Tambang Batu Bara Adaro di Tabalong dan Balangan Kalimantan Selatan Makin Menciut Usai Perpanjang IUP, Kini Tersisa…

Bahkan karena terjadi bencana kemanusiaan terbesar ini, terdapat dana bantuan dari asing yang jumlahnya mencapai Rp 72 triliun.

Beberapa tahun usai tsunami itu terjadi, akhirnya pada tahun 2007 bandara Internasional Iskandar Muda dilakukan perbaikan dan pengembangan.

Pada tahun 2009, akhirnya perbaikan dan pengembangan itu selesai digarap, dan dilakukan peresmian oleh presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. ***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]