

inNalar.com – Selain Papua, ternyata masih terdapat daerah lain di Indonesia yang memiliki tambang emas yang cukup besar.
Daerah yang dimaksud adalah Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Bahkan ladang mineral itu diklaim jadi yang terbesar ke-2 di Indonesia setelah Grasberg.
Baca Juga: Tarifnya Rp0, Jalan Tol Bangkinang-XII Koto Kampar Dibuka untuk Nataru, Mulai 24 Desember sampai…
Mungkin orang-orang tidak begitu tahu atau paham dengan ladang mineral yang berada di Sumut ini.
Padahal kandungan mineral tersebut sudah ditemukan sejak tahun 2008.
Bahkan produksi dari ladang mineral itu juga akan dilakukan hingga tahun 2033.
Adapun nama dari sumber mineral ini adalah Tambang Martabe, yang luasnya mencapai 1.303 KM persegi.
Dilansir inNalar.com dari ANTARA, diketahui produksi dari Tambang Martabe ini mencapai 280.000 ons emas pada tahun 2022.
Ditambah lagi di tambang tersebut juga ditemukan tembaga, perak, dan enam deposit mineral emas yang sudah terdefinisi.
Baca Juga: BRI dan BP2MI Bersinergi Meningkatkan Literasi Dana Pensiun Pekerja Migran Indonesia
Disebut terbesar ke-2, sebab tambang Martabe di Tapanuli Selatan ini memiliki enam kawasan sumber mineral deposit.
Nama dari 6 deposit mineral itu adalah Tor Ulu Ala, Purnama, Rimba Joring, Uluala Hulu dan Horas.
Selain itu, terdapat pula cadangan yang terbukti sebesar 53,1 Mt.
Saat ini, perusahaan yang mengelola tambang Martabe di Sumatera Utara itu adalah PT Agincourt Resources (PTAR).
Menurut Laporan Tahunan tahun 2021 PTAR, diketahui perusahaan ini berhasil memberikan sumbangsih sebesar US$ 55.635.000.
Jumlah tersebut sama seperti Rp834.525.000.000, dengan kurs Rp15.000.
Sementara itu dalam melakukan program Corporate Social Responsibility (CSR), selama 4 tahun PT AR telah memberikan US$7 juta.
Jika dikonversikan ke mata uang Indonesia, jumlah tersebut sama dengan Rp103,5 miliar.
Dengan kata lain, PT AR selaku perusahaan yang mengelola tambang emas terbesar ke-2 di Indonesia ini tiap tahunnya mengeluarkan Rp26,3 miliar di program CSR untuk memberdayakan masyarakat.
Baca Juga: Ditanya Soal Ketuhanan, Begini Pandangan Konglomerat Dato Sri Tahir: Pasti Ada Masalah di Ibadahnya
Sebagai pembanding, bagaimana dengan program CSR yang diberikan PT Freeport Indonesia yang merupakan pengelola tambang emas terbesar?
Ternyata Freeport pada tahun 2021 telah memberikan uang sebanyak Rp1,51 triliun untuk menjalankan program CSR milik mereka.
Bentuk program CSR yang Freeport lakukan ini ada dalam bentuk pendidikan, ekonomi kerakyatan, kesehatan, infrastruktur dan lain-lain.
Sedangkan selama tahun 1991 hingga 2021, Freeport ternyata sudah memberikan Rp30 trilliun jika kurs dollar amerika USD1 dikalikan Rp15.000”.
Nah itulah perbandingan program CSR yang dimiliki perusahaan pengelola tambang emas terbesar ke-1 dan ke-2 di Indonesia.
Sebenarnya program CSR untuk perusahaan pengelola Tambang Martabe di Tapanuli Selatan ini dapat dibilang kecil jika melihat penghasilan yang mereka peroleh.
Karena pada tahun 2021 keuntungan yang diperoleh PTAR dari tambang Martabe ini mencapai US$242,6 juta atau sekitar Rp3,64 triliun.
Sementara itu, dari program CSR yang diberikan PT AR ini hanya sebesar Rp26,3 milyar pertahun.
Bagi yang merasa asing, CSR merupakan program yang pada dasarnya merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada masyarakat.
Jadi dengan adanya program CSR ini, perusahaan wajib memiliki layanan untuk memberdayakan masyarakat.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi