

inNalar.com – Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi yang kaya akan potensi ekonomi, alam, budaya dan sedang menghadapi proyek ambisius untuk mengembangkan Pelabuhan Internasional Kijing.
Proyek ini diharapkan akan menjadikan Kijing sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Kalimantan bahkan akan menjadi salah satu dari tujuh pelabuhan utama di seluruh Indonesia.
Pembangunan Pelabuhan Internasional Kijing berawal dari kebutuhan mendesak. Pelabuhan Dwikora Pontianak, Kalimantan Barat yang saat ini menjadi pelabuhan utama dan tidak lagi mampu menampung lalu lintas kargo yang terus meningkat.
Kedalaman kolam labuh kapal yang dangkal di Dwikora Pontianak karena sedimentasi di muara sungai yang terus meningkat telah membatasi kapasitasnya.
Seiring dengan pertumbuhan infrastruktur kota di sekitar muara sungai, kapasitas muatan kargo telah melebihi kapasitas hunian kontainer yang ada. Akibatnya, Dwikora Pontianak tidak lagi dapat dioptimalkan.
Pelabuhan Kijing adalah bagian dari upaya pengembangan Pelabuhan Pontianak yang sudah mencapai batas kapasitasnya.
Pelabuhan ini memiliki kedalaman kurang lebih 6 meter dan fasilitas untuk melayani cargo non-peti kemas yang sangat terbatas.
Namun, sejak tahun 2010, pertumbuhan rata-rata peti kemas di pelabuhan ini telah naik sebesar 5,4%, dampak dari penerapan ini terasa ketika pelabuhan ini mulai kekurangan ruang dan fasilitas.
Selama ini, ekspor komoditi seperti kelapa sawit dan karet dari Kalimantan selalu dilakukan melalui pelabuhan Melawanan dan Tanjung Priok.
Tidak ada pelabuhan besar yang mampu menangani potensi sumber daya alam ini. Keberadaan Pelabuhan Kijing yang terletak di Kecamatan Sungaikunyit sangat strategis.
Pelabuhan ini terhubung dengan jaringan jalan kolektor primer, yang menghubungkan kota Pontianak, Singkawang, dan Sambas di pesisir barat utara provinsi Kalimantan Barat.
Pembangunan Pelabuhan Kijing dilakukan secara bertahap. Tahap pertama melibatkan pembangunan lapangan penumpukan, gudang, tank farm, jalan, lapangan parkir, kantor pelabuhan, kantor instansi, dan jembatan timbang.
Pada tahap kedua, akan ada pengembangan empat terminal dan kawasan ekonomi khusus.
PT Pelabuhan Indonesia Persero (Pelindo II) menunjuk PT Wijaya Karya Persero Tbk (Wika) sebagai kontraktor pelaksana tahap pertama dengan nilai proyek mencapai 2,74 triliun.
Pelabuhan Kijing didesain dengan konsep pelabuhan digital yang dilengkapi dengan peralatan modern.
Terminal ini mampu melayani kapasitas besar, dengan kapasitas di atas 10.000 teus per tahun.
Kedalaman dermaga mencapai lebih dari 16 meter lebih dalam jika dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan pelabuhan Melawan, yang memungkinkan kapal besar bermuatan hingga 100.000 DWT untuk bersandar.
Dengan luasnya potensi bahan baku seperti bauksit, CPO, kayu, dan karet di Kalimantan Barat, Pelabuhan Kijing akan menjadi pusat smelter aspal, distribusi CPO, dan pengiriman bahan bakar.
Selain itu, Pelabuhan Pontianak akan menjadi feeder atau pengumpan bagi Kijing.
Pelabuhan Kijing akan dilengkapi dengan kawasan ekonomi khusus seluas kurang lebih 5.000 hektar yang akan dibangun secara bertahap.
Ini akan memberikan kemudahan bagi para investor untuk berbisnis dan memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di Kalimantan Barat.
Pembangunan Pelabuhan Internasional Kijing adalah langkah besar menuju pengembangan ekonomi dan infrastruktur yang lebih baik di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Digadang Tertinggi se-ASEAN, Gedung Pusat Hiburan di Kalimantan Timur Ini Bakal Saingi Dubai?
Proyek ini akan meningkatkan kapasitas pelabuhan, memfasilitasi ekspor komoditi, dan menciptakan peluang investasi yang menjanjikan bagi daerah ini.
Dengan lokasinya yang strategis dan fasilitas modern yang dimiliki, Pelabuhan Kijing berpotensi menjadi salah satu pelabuhan utama di Indonesia yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di wilayah ini.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi