Telan Biaya Rp29,9 Miliar, Sabo Dam Sungai Krasak di Magelang Jawa Tengah Mulai Difungsikan Guna Bendung Laju Lahar Gunung Merapi

inNalar.com – Dalam rangka menguatkan mitigasi bencana banjir lahar dari Gunung Merapi, Kementerian PUPR akhirnya merampungkan pembangunan sabo dam di aliran Sungai Krasak.

Kali Krasak ini mengalir di antara perbatasan Kabupaten Magelang di Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman di Yogyakarta.

Sudah sejak lama, aliran sungai ini dibidik pemerintah untuk dibangun infrastruktur pelengkap yang mampu mengelola air sekaligus mengurangi risiko bencana saat Gunung Merapi meletus.

Baca Juga: Catatkan Nihil Pendapatan, Emiten Sawit Pemilik Konsesi 28.300 Ha di Landak Kalimantan Barat Berakhir Pailit?

Setelah memakan waktu konstruksi pembangunan dari Februari hingga Desember 2023, akhirnya bendungan dengan pelimpas ini mulai difungsikan.

Sabo dam yang dirancang dengan 2 tingkat di tengah bendungnya, jika tidak mampu membendung laju material vulkanik yang mengalir maka bisa dilewatkan melalui bagian atasnya.

Diharapkan dengan cakupan area yang dibendung seluas 0,9 hektare, Sabo Dam Sungai Krasak di Kabupaten Magelang dapat meminimalisasi risiko banjir lahar dingin.

Baca Juga: Pangkas Waktu Jadi 3 Menit, Jembatan di Sulawesi Tenggara Habiskan Rp800 Miliar Dana APBN, Beroperasi Tahun…

Untuk membangun infrastruktur raksasa bertingkat ini, Kementerian PUPR menggelontorkan biaya sebesar Rp29,9 miliar.

Dengan dana fantastis tersebut, estetika tetap diperhatikan pihak pembangun guna menarik perhatian masyarakat sebagai destinasi wisata baru.

Fasilitas food court dan area mini soccer pun sengaja dibuat guna menyediakan area healing bagi masyarakat Magelang.

Baca Juga: Bayern Munchen Bakal Tikung Manchester United dalam Perburuan Gaet Denzel Dumfries dari Inter Milan di Bursa Transfer 2024

Penting untuk diketahui, sabo adalah bangunan yang biasanya dibangun di sepanjang sungai yang berpotensi dialiri oleh lahar dingin.

Sungai Krasak sejak lama menjadi perhatian pemerintah karena dampak kerusakan akibat banjir lahar sering melalui aliran kali ini.

Infrastruktur pembangunan ini awalnya dirancang oleh seorang insinyur Jepang bernama Tomoaki Yokota.

Baca Juga: Proyek Flyover Rp227 Miliar di Jatim Ini Dikebut Guna Raibkan Perlintasan Sebidang pada Jalur Ganda Mojokerto-Sepanjang

Selain difungsikan sebagai pembendung lahar dingin gunung berapi, bangunan ini juga difungsikan sebagai pengendali erosi hutan dan wilayah pertanian.

Jadi sengaja dibuat bertingkat apabila sabo pertama sudah penuh membendung lava dingin, aliran lava akan melimpas ke sabo berikutnya.

Dengan adanya infrastruktur ini, masyarakat dapat memanfaatkan material pasir, batu, dan kerikil yang terbendung dalam sabo tersebut.

Baca Juga: Punya Luas 10,74 Ha, Kampung Seni yang Berjarak 1,5 Km dari Candi Borobudur di Jawa Tengah Ini Bakal Jadi Magnet Wisata Baru?

Dari sabo dam tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengambil manfaat material tersebut guna menjadikannya bahan bangunan konstruksi.

Material berupa pasir dan batu-batuan yang tertahan di sabo dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai mata pencaharian, dikutip dari Kementerian PUPR.

Sehingga penggalian bahan material di yang terkonsentrasi di kawasan sabo dam dapat lebih aman bagi masyarakat dan tidak merusak lingkungan sekitarnya.***

Rekomendasi