

inNalar.com – Berikut adalah teks khutbah Jumat singkat yang mengusung tema bersyukur atas nikmat lahir dan batin bagi seorang muslim.
Artikel ini dapat dijadikan referensi sebagai materi teks khutbah Jumat bagi khatib ketika melaksanakan shalat Jumat.
Adapun tema yang diangkat dalam teks khutbah Jumat ini adalah pentingnya bersyukur atas nikmat lahir dan batin dalam diri umat Islam.
Teks khutbah Jumat ini dapat menjadi refleksi bagi kaum muslimin yang kerap dilanda perasaan kecewa maupun merasa tidak cukup atas segala sesuatu yang dimiliki.
Pembahasan teks khutbah Jumat dalam artikel ini akan tersaji secara singkat. Selain itu juga akan dilengkapi dengan sejumlah dalil pendukung beserta penjelasannya.
Dalam teks khutbah Jumat ini dijelaskan bahwa bersyukur atas nikmat lahir dan batin merupakan suatu upaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang.
Dikutip dalam laman NU, berikut penjelasan selengkapnya mengenai teks khutbah Jumat singkat terbaru yang membahas tentang bersyukur atas nikmat lahir dan batin.
Simak Teks Khutbah Jumat Singkat: Manfaat Bersyukur atas Nikmat Lahir dan Batin Bagi Umat Muslim
Teks khutbah Jumat singkat
Khutbah pertama
اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل: 18)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pada siang hari Jumat yang berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk berwasiat kepada diri sendiri,
Terutama kepada khatib pribadi untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan apa yang diharamkan agar kualitas keimanan dan ketakwaan kita semakin meningkat.
Baca Juga: Prediksi Iran vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2022: Laga dengan Misi Wajib Menang
Jamah shalat Jumat rahimakumullah
Sudah selayaknya kaum muslimin agar senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan kepada kita. Tak ada satupun manusia yang mampu menghitung kenikmatan yang Allah berikan.
Sesuai dengan tema khutbah Jumat kali ini, terdapat dua kategori nikmat, yakni nikmat lahir dan nikmat batin. Sebagaimana firman Allah ta’ala berikut ini:
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: 20)
Artinya: “Dan Allah telah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu.” (QS. Luqman: 20).
Nikmat lahir merupakan bentuk kenikmatan yang Allah berikan dalam wujud yang terlihat. Seperti harta, penampilan fisik, penghormatan, kemudahan (taufiq) dalam melakukan ketaatan, kesehatan, kedudukan adalah bentuk nikmat lahir.
Baca Juga: Udah Gak Ada Alasan Lagi! Berikut Sedekah dalam Keadaan Susah yang Dijelaskan oleh Syekh Ali Jaber
Begitupun dengan alam dan karunia yang ada di sekitar kita, seperti hujan, tanaman, hewan, air dingin, panas, dan lainnya juga merupakan nikmat lahir yang turun dari Allah SWT.
Sedangkan nikmat batin berbeda dengan nikmat yang dapat kita lihat, nikmat batin adalah nikmat yang dirasakan oleh seseorang dalam dirinya sendiri. Nikmat batin diperoleh seseorang atas keyakinannya terhadap Allah. Bentuk kenikmatan ini juga berupa dijauhkannya seseorang dari penyakit dan marabahaya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf (manusia baligh dan berakal) untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat lahir dan nikmat batin.
Bersyukur kepada Allah dengan tidak melakukan segala laranganya, tidak kufur kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang senantiasa bersyukur kepada Allah, maka ia adalah hamba yang bertakwa.
Lantas bagaimana dengan bersyukur sebatas ucapan? Seseorang yang mengucap syukur kepada Allah hanya dari lidahnya, meski dalam jumlah sebanyak apapun, namun masih tetap kufur terhadap nikmat Allah bahkan tetap berbuat maksiat, maka hakikatnya ia belum bersyukur kepada Tuhannya.
Sebagaimana telah diwajibkan, bersyukur terhadap nikmat Allah harus dilakukan dalam wujud dan tindakan nyata agar membawa seseorang pada tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi.
Baca Juga: Syekh Ali Jaber Ungkap Dahsyatnya Surat Al Fatihah saat Dibaca dengan Hati Khusyu’
Jamaah yang dirahmati Allah
Hendaklah kalian ketahui bahwa semua hal yang kita lakukan saat ini, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Seperti dalam sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ. (رواه الترمذيّ وصحّحه)
Artinya: Seorang hamba tidak akan berpindah dari suatu fase ke fase yang lain di hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya dalam hal apa dihabiskan, tentang ilmunya dalam hal apa digunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa disalurkan dan tentang jasadnya dalam hal apa difungsikan.” (HR. at-Tirmidzi).
Maka dari itu, kita bisa renungkan sudahkah kita bersyukur sebagaimana mestinya atas nikmat dan karunia yang Allah berikan?
Saudara-saudara seiman, di antara nikmat batin adalah nikmat teragung yang tidak sebanding dengan nikmat apapun, yaitu nikmat iman kepada Allah dan nikmat-nikmat yang mengikutinya, yaitu berserah diri kepada Allah, mencintai orang-orang shaleh, kokohnya keyakinan kita kepada Allah, mengagungkan ilmu agama dan semacamnya.
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah modal utama bagi seorang muslim, sehingga ia adalah nikmat yang paling agung, paling utama dan paling tinggi yang diberikan kepada manusia.
Orang yang diberi dunia (harta, jabatan dan semacamnya) namun tidak diberi iman, maka seakan ia tidak diberi nikmat apapun. Sebaliknya, orang yang diberi iman dan tidak diberi dunia, maka seakan ia tidak terhalang dari satu nikmat pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Saudara-saudara yang dirahmati Allah
Di antara nikmat, ada nikmat teragung yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apapun. Yaitu nikmat iman kepada Allah dalam bentuk keimanan yang mengikutinya, seperti berserah diri kepada Allah.
Iman kepada Allah merupakan nikmat yang paling utama dan paling tinggi yang Allah berikan pada manusia.
Orang yang diberikan nikmat dunia namun tidak diberi iman, maka seakan tidak memperoleh kenikmatan apapun. Pun sebaliknya, orang yang merasakan nikmatnya iman meski tidak diberi dunia, ia merupakan orang yang beruntung.
Nikmat iman tidak hanya membuat kadar keimanan seseorang meningkat, tetapi juga dapat mencicipi manisnya buah dari nikmat iman.
Jamaah yang dirahmati Allah, nikmat sehat badan kita saat ini, nikmat melaksanakan kewajiban dan hasrat menjauhi perkara haram dan memperbanyak amalan sunnah adalah bentuk dari nikmat iman.
Jamaah shalat Jumat berbahagia, kita harus tahu sadar bahwa nikmat iman juga akan membawa keselamatan pada hari kiamat nanti. Tapi orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan akan datang di hari kiamat dengan kondisi yang rugi.
Jika Allah menghendakinya untuk selamat maka ia akan selamat. Tetapi jika dia meninggal dalam dosa yang besar maka jangan harap Allah mengampuninya.
Itulah pentingnya rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang lahir dan batin. Karena Allah akan memberikan balasan kenikmatan yang abadi dan tidak akan sirna bagi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi perkara haram dan menggunakan anugerah nikmat dalam jalan ketaatan pada Tuhannya.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka dari Tuhannya adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al Bayyinah: 7-8).
Jamaah yang Allah rahmati, makhluk yang disebutkan dalam qur’an surah Al-Bayyinah ayat 7 & 8 itu disebutkan sebagai makhluk yang berbahagia karena mendapat ridha Allah. Ridha Allah ini adalah salah satu sifat-Nya yang tidak menyerupai ridha suatu makhluk.
Sedangkan ridha para hamba kepada Allah adalah bentuk keimanan mereka, menerima segala ketetapan dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Seseorang yang beriman tidak akan memprotes dan menyalahkan Allah dalam suatu apapun yang menimpa mereka.
Sungguh beruntung orang-orang yang mampu selalu bersyukur atas nikmat lahir dan batin yang Allah berikan. Dengan kenikmatan itu kaum muslimin akan mendapat balasan untuk mereka adalah ridha Allah terhadap mereka. Sungguh beruntung dan alangkah berbahagianya mereka.
Khutbah kedua
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Demikian teks khutbah Jumat singkat tentang bersyukur atas nikmat lahir dan batin bagi seorang muslim yang bisa dijadikan referensi.***
Sumber NU Online
https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-bersyukur-atas-nikmat-lahir-dan-batin-l0Xi0