

inNalar.com – Teks khutbah Idul Adha 2023 yang mengangkat tema mengharukan menjadi topik yang banyak dicari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda sampai dengan yang sudah berkeluarga.
Pembahasan dari sejarah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as yang mengharukan di dalam sebuah teks khutbah Idul Adha 2023, tak hanya mengandung dalil perintah melaksanakan ibadah kurban, tetapi banyak sikap filosofis yang dicontohkan oleh keduanya dalam membangun hubungan keluarga .
Oleh karena itu, khatib perlu melihat beberapa perspektif yang bisa diangkat dari kisah Nabi Ibrahim as dalam teks khutbah Idul Adha 2023 agar pesan mengharukan dapat tersampaikan dengan baik kepada para jamah yang hadir sholat ‘id.
Khutbah Idul Adha menjadi momen yang pas bagi umat muslim dari kalangan muda hingga tua untuk menyampaikan pesan mengharukan kepada para jamaah, karena ketika sholat ‘id mereka semua datang bersama keluarganya dan saling bertemu dengan sanak saudara lainnya ataupun teman-teman, bahkan muslim yang belum dikenalnya.
Momen yang mengharukan adalah ketika setiap generasi umat muslim berkumpul untuk bersama melakukan refleksi diri dengan menyimak khutbah Idul Adha yang hanya digelar setahun sekali.
Oleh karena itu, berikut ini rekomendasi teks khutbah Idul Adha 2023 yang bisa khatib angkat dari sisi bagaimana pola komunikasi yang terbangun di antara Ayah dan anak dengan semangat penghambaan kepada Allah, di dalamnya memiliki banyak pesan haru.
Di balik koneksi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang terbangun, terdapat sikap bijaksana yang bisa umat muslim pelajari dari kisah mereka.
Di dalam teks khutbah Idul Adha ini terdapat sikap bijaksana yang bisa kita teladani dari Nabi Ismail sebagai anak saat menghadapi situasi yang tidak terduga.
Sikap kehati-hatian Nabi Ibrahim as saat menyampaikan perintah kurban kepada putranya, Nabi Ismail, bisa menjadi keteladanan bagi kita. Yaitu, bagaimana pemilihan gaya bahasa yang lembut dan sesuai dengan kondisi masing-masing pihak menjadi sangat penting.
Pada isi teks khutbah Idul Adha berikut ini, dijelaskan bagaimana Nabi Ibrahim as memberikan jeda berpikir kepada Nabi Ismail, putranya, saat menyampaikan perintah kurban agar putranya bisa membuat keputusan tanpa adanya paksaan.
Selain itu, teks khutbah Idul Adha berikut juga mengangkat makna dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam proses membuat keputusan dalam kurban.
Dikutip oleh inNalar.com dari laman Nahdlatul Ulama pada Jumat, 23 Juni 2023, teks khutbah Idul Adha 2023 ini mengangkat tema Pesan mengharukan dalam Dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
KHUTBAH PERTAMA
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ الْخَالِق
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَالْخَلَائِقِ
أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَنَّانُ. الَّذِيْ اَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِسْلَامِ وَالْاِيْمَانِ. وَ أَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اِلَى جَمِيْعِ الْاِنْسَانِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِهِمْ اِلَى اٰخِرِ الزَّمَانِ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah, aneka nikmat telah kita diterima sehingga dapat berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Demikian pula kita dapat bertemu kembali dengan tetangga dan sahabat yang sangat jarang ditemui lantaran kesibukan masing-masing. Semoga sejumlah kebaikan yang diterima saat ini akan menambah takwallah yakni kemampuan kita menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang, amin ya rabbal alamin
Hadirin yang Berbahagia
Hari ini, 10 Dzulhijjah, merupakan hari yang sangat mulia, hari yang sarat akan ibadah beserta keutamaan-keutamaannya. Saudara-saudara kita tengah melaksanakan ibadah haji di Makkah, sedangkan kita menjalankan shalat Idul Adha. Di hari ini, kita juga diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban.
Jamaah yang Berbahagia
Hari Raya Idul Adha tidak akan bisa terlepaskan dari sebuah kisah ribuan tahun lalu, saat Nabi Ibrahim AS diberi cobaan yang sangat berat. Di usianya yang menginjak 86 tahun, ia begitu senang karena dikaruniai seorang anak yang sangat salih sebagaimana yang ia panjatkan dalam doanya: “Rabbi hab lii minasshalihin” yang maknanya: Duhai Tuhanku, karuniakanlah bagiku keturunan yang salih.
Allah SWT pun mengabulkannya dengan menciptakan Nabi Ismail AS melalui rahim Siti Hajar. Namun, saat putra yang begitu ia cintai beranjak besar, diperintahkan melalui sebuah mimpi untuk mengorbankannya. Dalam suatu hadits Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa mimpi bagi seorang nabi merupakan wahyu. Namun, pada mulanya, Ibrahim ragu dengan perintah tersebut. Akan tetapi, mimpi tersebut berulang kembali pada malam berikutnya. Dengan begitu, ia yakin bahwa mimpi tersebut merupakan perintah yang harus ditaati.
Kisah inipun termuat dalam dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 102 sebagai berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
.Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.
Jamaah yang Dimuliakan Allah SWT
Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bagi kita mengenai sikap yang ditunjukkan Nabi Ibrahim. Ia menunjukkan cara berkomunikasi yang baik dengan tidak tiba-tiba langsung mengeksekusi putranya. Dengan tenang, ia menceritakan duduk perkaranya, apa yang telah dialaminya, dan perintah yang ia terima melalui mimpi tersebut. Ia pun meminta pertimbangan atas perintah tersebut kepada putranya. Sementara itu, sebagai anak yang salih, Nabi Ismail menurut dan pasrah akan perintah tersebut.
Perlu digarisbawahi, bahwa Nabi Ismail menaati perintah itu menunjukkan tidak memberikan ruang pengingkaran terhadap perintah tersebut. Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitabnya Qishashul Anbiya halaman 94 menyebutkan:
وَ لَمْ يَقُلْ: يَا اَبَتِ افْعَلْ مَا تُرِيْدُ, حَتَّى يَأْخُذَ الْاِبْنُ ثَوَابَ عُبُودِيَّةِ الطَّاعَةِ
Artinya: Ia tidak menjawab: Duhai ayahku, lakukan apa yang engkau kehendaki, sehingga Nabi Ismail memperoleh pahala ibadah atas ketaatannya.
Nabi Ismail AS tidak menjawab permintaan tanggapan itu dengan “terserah ayah”. Tetapi pendapat yang disampaikannya adalah pelaksanaan atas perintah tersebut. Itulah bentuk ketaatan yang ditunjukkan Nabi Ismail AS.
Selanjutnya, jamaah sekalian, kita melihat bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menggunakan bahasa yang sesuai dengan orang yang diajak bicara. Nabi Ibrahim menggunakan kata: “Ya bunayya, duhai putraku”, untuk menyapa putranya. Sedangkan Nabi Ismail memilih kata: “ya abati, duhai ayahku”, untuk menyapa ayahnya.
Syekh Abi Hayyanal-Andalusi (654-754) dalam kitab Al-Bahrul Muhith, juz 9 mengatakan bahwa pilihan kata yang digunakan Nabi Ibrahim itu merupakan wujud sayangnya terhadap anak. Pun Nabi Ismail menggunakan sapaan yang menunjukkan penghormatan dan pengagungannya terhadap orang tua. Hal itu juga sejalan dengan sebuah hadits Nabi No. 1843 yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi sebagai berikut:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
Artinya: Bukan termasuk dari golongan kami orang yang tak menyayangi anak kecil dan tak menghormati orang tua (orang dewasa).
Oleh karenanya, sudah selayaknya, kita sebagai orang tua untuk memberikan kasih sayang penuh kepada putra-putri kita dengan sapaan yang lembut memberikan sentuhan kesejukan di hati anak-anak. Pun kita sebagai seorang anak, harus sepenuh takzim kepada orang tua kita, dengan mendengarkan pembicaraannya, melaksanakan perintahnya, menjawab panggilannya, dan lain sebagainya. Inilah ilmu komunikasi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.
Demikian khutbah Idul Adha yang saya sampaikan. Semoga kita semua dapat meneladani laku keduanya dalam kehidupan kita berkeluarga dengan menerapkan komunikasi yang baik serta penuh dengan kasih sayang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيوَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ يَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
KHUTBAH KEDUA
اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ.الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِشَرِيْعَةِ الْاِسْلَامِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْرَفِ الْاَنَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَرَبُّ الْعَالَمِيْنَ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا اِمَامَ الْمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنِ السِّتَّةِ الْمُتَمِّمِيْنَ لِلْعَشَرَةِ الْكِرَامِ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَ التَّابِعِبْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا خَالِقَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَ الطَّاعُوْنَ وَ الْاَمْرَاضَ وَ الْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا هٰذَا خَاصَّةً وَ عَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْاِحْسَانِ وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ