Teks Khutbah Idul Adha 2023: Memahami 5 Dimensi Kesan Filosofis di Balik Peristiwa Hari Raya Kurban


inNalar.com –
Teks khutbah Idul Adha 2023 kali ini mengupas makna filosofis secara meluas ke dalam berbagai dimensi kehidupan umat Muslim. Dimulai dari pentingnya pendidikan karakter hingga lini kesejahteraan sosial turut dibahas dalam naskah ini.

Momen Idul Adha 2023 hanya dilakukan sekali dalam setahun, sehingga teks khutbah yang meliputi berbagai aspek kehidupan pun akan sangat relevan bagi berbagai kalangan.

Teks khutbah Idul Adha 2023 berikut ini akan membahas lima hal yang akan dikupas dari aspek keagamaan, pendidikan, psikologis, sosial, dan ekonomi.

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Wanita Suka Bergosip dan Lakukan Ini Untuk Menghilangkan Kebiasaan Bergosip

Ada lima kesan atau i’tibar yang akan diulas dalam teks khutbah Idul Adha berikut ini.

Pertama, dimensi pendidikan karakter pada lingkup keluarga.
Kesan pertama yang diungkap dalam khutbah Idul Adha berikut ini adalah pentingnya orang tua mengutamakan pendidikan karakter bagi anak-anaknya agar menjadi pribadi yang saleh.

Kedua, sikap taat kepada Allah atas takdir yang telah digariskan sejak beribu-ribu tahun lalu lamanya dengan harapan ketentuan tersebut pastilah memiliki manfaat yang akan kembali pada dirinya sendiri.

Ketiga, kegigihan syaithan yang terus-menerus berusaha membolakkan hati agar manusia mempertanyakan takdir yang telah ditentukan Allah bagi seorang muslim. Inilah yang akan diangkat dalam kesan ketiga dalam teks khutbah Idul Adha.

Keempat, makna dibalik prosesi kegiatan kurban menjadi salah satu momen untuk memacu diri kita melawan hawa nafsu kesombongan yang perlu dibendung oleh muslim.

Tak kalah pentingnya, kesan kelima dalam teks khutbah Idul Adha ini membahas bagaimana dengan adanya hari penyembelihan kurban, umat muslim dapat berpartisipasi dalam menjalankan roda ekonomi dan sosial umat Islam.

Dengan adanya teks khutbah Idul Adha berikut ini, semoga menjadi ladang amal jariyah khatib dalam upaya menyampaikan banyak hal terkait tantangan umat Islam ke depannya.

Selain itu, dengan adanya teks khutbah Idul Adha ini bisa membuka cakrawala berpikir umat muslim terhadap hikmah dan manfaat di balik setiap perintah Allah.

Berikut ini ialah teks khutbah Idul Adha yang pernah disampaikan di Musholla Al Muhajirin-Heliconia, Legok Permai, Tangerang, semoga bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi khatib lainnya dalam menyampaikan ceramahnya saat usai melaksanakan sholat ‘id di tahun 2023.

KHUTBAH PERTAMA

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَر الله أَكْبَر وَلِلَّهِ الحَمْدُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ الفِطْرِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ وَعِيْدَ الأَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ .
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الـمَلِكُ العَظِيْمُ الأَكْبَر وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
اللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ أَمَّـا بَعْدُ .
فَـيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُـو اللهَ حَقَّ تُقَاتِـهِ وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُـوْنَ .

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Alhamdulillah, di pagi hari yang penuh khusyuk dan sendu ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah.

Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikanrangkaian ibadah haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang disebut pakaian ihram, melambangkan tidak ada pembeda diantara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

لَبَّيْكَ اللَّــهُـمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Kurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Kurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Kurban ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun.

Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْأَخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ .

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari memotong kurban
binatang ternak.

Yaitu tentang pengorbanan yang dalam Sejarahnya adalah bermula dari ujian yang berat yang diujikan kepada Nabiyullah Ibrahim A.S yaitu perintah untuk menyembelih anak yang disayanginya melalui mimpi beliau yang mana kita ketahui bahwa mimpi para nabi adalah Haqq atau benar dari Allah SWT

kisah tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 100 – 111

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108) سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Inilah sejarah pertamanya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Kurban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Itulah bentuk kasih sayang Allah kepada kita, semoga segala kekurangan dalam ibadaha kita diampuni oleh Allah SWT, Ibnu Athaillah Assakandari dalam kitabnya, Al Hikam menuliskan salahsatu hikmah yang berbunyi: “jikalau tidak karena indahnya bagaimana Allah menutupi kekurangan kita niscaya tidak ada amalan kita yang layak diterima oleh Allah SWT”.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah

Hikmah yang dapat diambil dari Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di

Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa Qurban Nabiyullah Ibrahim tersebut adalah:

Pertama, Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya.

Kedua, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.

Ketiga, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia kepada kehancuran dan kegelapan. Maka janganlah mengikuti bujuk rayu syaithon, karena sesungguhnya syaithon adalah musuh yang nyata.

Keempat, jenis sembelihan berupa bahimah/ binatang yaitu kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu hayawaniyah harus dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.

Kelima, yang tak kalah penting dan punya hubungan dengan kehidupan masa kini kita adalah dengan berkurban berarti kita juga telah berperan dalam menjalankan roda ekonomi dan sosial ummat, bagaimana tidak, ketika kita diberikan kecukupan oleh Allah SWT dan menyisihkan sebagian harta kita untuk berkurban dengan membeli hewan ternak dari para peternak lokal baik itu kambing, domba atau sapi bukan yang import berarti kita telah membantu perekonomian mereka dan setelah hewan itu disembelih kita bagikan kepada kaum muslimin lainnya yang mungkin hanya bisa makan daging kala idul adha datang.

Dapat kita bayangkan jika para peternak lokal dapat menjual sekian banyak hewan ternak mereka dalam 1 tahun yang diperuntukkan untuk Qurban maka satu lobang masalah ummat ini tertutupi yaitu lobang dimana para peternak lokal mengeluhkan serangan-serangan ternak import baik itu dari australia, new zealand atau lainnya.

Banyak dari kita mungkin lebih memprioritaskan ternak import dengan iming-iming hewannya lebih berkualitas dan lebih berbobot, akan tetapi ingatlah bahwa Allah menegaskan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Dan sesungguhnya jika para peternak lokal itu diperhatikan baik itu oleh negara ataupun institusi yang berperan dalam hal peternakan maka mereka pun bisa menyaingi kualitas ternak import, kurang sumber daya alam apa di negara kita, semua ada, yang kurang adalah jiwa-jiwa pemimpin yang mampu mensejahterkan ummat dan mengawal pertumbuhannya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Tepatlah apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah hati kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta, yang tidak pernah luput dirundung kesusahan.
Dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa, semoga Allah menjadikan kita semua, para pemimpin kita, elit-elit bangsa kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, bukan hanya pencitraan supaya dilihat oleh orang-orang bahwa mereka melakukan sesuatu yang baik tapi semoga -betul berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya.

Tak luput juga kita sebagai suami semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk dapat bercermin dari Nabiyullah Ibrahim yang penuh pengorbanan dan ketabahan, sebagai istri diberikan juga kekuatan untuk bercermin dari sayyidah Hajar yang penuh pengertian dan kesabaran, sebagai anak diberikan kekuatan untuk berpanutan kepada Nabiyullah Ismail yang penurut dan yakin.

Ya Allah melalui perayaan Idul Adha kali ini kiranya Engkau mengembalikan kepada kami kejayaan dan kehebatan Islam dalam memakmurkan kehidupan Umat manusia di alam jagat raya, Aamiin Allahumma Aamiin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم . بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ . إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ . وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيـهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم .
وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ .فَاسْتَغْفِرُوا إِنَّه هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْم .

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَاللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر وَلِلَّهِ الحَمْدُ

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ .
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ .
اللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .

أَمَّـا بَعْدُ فَيَا أَيُّـها النَّـاسُ اِتَّـقُوا اللهَ فِيـمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوا أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيـهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّـهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّـوا عَلَيْـهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَعَلَى آلِه سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الـمُقَرَّبِيْنَ .

اللَّــهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالـمُؤْمِنَاتِ وَالـمُسْلِمِيْنَ وَالـمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّــهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَم وَالـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالـمُشْرِكِيْنَ وَاْنْصُرْ عِبَادَكَ الـمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُـرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الـمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

اللَّــهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَم وَالـمُسْلِمِيْنَ ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي سُورِيَّا ، وَفِي العِرَاقِ وَفِي لِيبِيَا ، وَفِي فِلَسْطِيْنَ وَفِي بُـورْمَا ، وَفِي كُلِّ مَكَانٍ .
اللَّــهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ . اللَّــهُمَّ افْتَحْ لَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا وَاْصُرْهُمْ نَصْرًا عَزِيْزًا .

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالـمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتْنَةِ وَالـمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ الـمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ .

رَبَّـنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ .

عِبَادَ الله! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالـمُنْكَرِ وَالبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُ اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ .

***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]