

inNalar.com – Indonesia terus mengupayakan pengurangan ketergantungan terhadap pipa baja dengan mendorong pembangunan pabrik terbesar di Asia Tenggara.
Pabrik Pipa Baja Seamless ini berlokasi di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon, Banten.
Proyek senilai Rp2,5 triliun tersebut digarap oleh PT. Inerco Global International dan PT. Artas Energi Petogas melalui Kerja Sama Operasi (KSO) guna mengoperasikan pabrik pipa baja seamless.
Baca Juga: Honorer Dengan Syarat Ini Bisa Mengisi 1.147 Formasi PPPK Tahap 2 Tahun 2024
TKDN proyek industri ini diketahui minimal 43%, sudah mencapai minimalnya, merujuk data dari uraian data yang dirilis oleh Kemenperin pada Rabu, 20 November 2024.
Proyek ini sejalan dengan visi hilirisasi yang diusung oleh pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
Baca Juga: Hari Anak Sedunia, Pentingnya Perlindungan dan Pendidikan untuk Masa Depan Generasi Bangsa
Saat ini, pipa baja seamless nasional yang dibutuhkan sebanyak 500 ribu ton pertahun. Akan tetapi, sekarang Indonesia masih impor dari luar negeri.
Menurut data Kementerian Perindustrian, kebutuhan pipa baja di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan infrastruktur, sektor energi, dan proyek konstruksi besar lainnya.
Namun, sekitar 60-70% kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor. Dengan adanya pabrik ini diharapkan nilai impor yang menyedot anggaran Rp15 triliun ini bisa ditekan.
Dengan adanya pabrik ini, Indonesia diharapkan mampu menghemat devisa secara signifikan dan memperkuat kemandirian industri trategis nasional dan menekan defisit neraca perdagangan.
PT Artas Energi Petrogas mengungkap pihaknya mampu memproduksi hingga 250 ribu ton setiap tahunnya.
Namun, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pabrik di Banten ini masih menjadi tantangan, baru mencapai 43-50% karena bahan baku masih harus diimpor.
Baca Juga: Solid, Calvin Verdonk Juga Jadi Kunci Penting Kemenangan Indonesia Kontra Arab Saudi
Pemerintah menargetkan peningkatan TKDN hingga 95% agar manfaat ekonomi lebih besar dirasakan domestik.
Salah satu aspek penting dari proyek ini adalah komitmen untuk mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.
Pemerintah telah menetapkan target TKDN sebagai upaya untuk mendorong penggunaan produk lokal dan mengurangi impor. Dengan adanya pabrik ini, diharapkan TKDN dapat mencapai target yang ditetapkan, sehingga memberikan dampak positif bagi industri dalam negeri.
Pembangunan pabrik pipa baja seamless di Banten ini merupakan langkah strategis yang tidak hanya mendukung sektor migas, tetapi juga meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.
Dengan kolaborasi antara investasi besar, teknologi modern, dan kebijakan pemerintah yang pro-industri, proyek ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi transformasi Indonesia menuju negara industri maju.
Dengan dukungan dari pemerintah dan pelaku industri, proyek pabrik pipa baja di Banten diharapkan dapat segera terwujud dan beroperasi.
Jika berhasil, ini akan menjadi langkah besar bagi Indonesia dalam mewujudkan kemandirian industri dan mengurangi ketergantungan pada impor.*** (Putri Fitratunnisah)