Tekan Emisi 1,74 juta tCO2e, PLTP Garapan Pertamina Geothermal di Minahasa Sulawesi Utara Masuk Bursa Karbon, Ternyata Segini Cuannya

inNalar.com – Sulawesi Utara menjadi daerah yang paling potensial di Indonesia untuk pengembangan bisnis panas bumi.

Tidak heran jika PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) serius membidik PLTP di Kabupaten Minahasa ini sampai melantai di bursa karbon.

Infrastruktur berbasis energi panas bumi ini adalah PLTP Lahendong, teruntuk unit 5 dan 6, menurut Kementerian ESDM, proyeknya telah terdaftar dalam perdagangan karbon.

Baca Juga: Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala Asia 2023: Penentu Skuad Garuda Menatap Babak 16 Besar

Sebagai informasi, energi listrik pada unit Lahendong 1 diketahui telah beroperasi sejak Agustus 2001.

Sementara untuk unit yang ke-2 dan 3 diketahui mulai beroperasi pada April 2009.

Terkait unit Lahendong 5 dan 6, total emisi gas rumah kaca yang berhasil ditekan dari pembangkit listrik itu volumenya mencapai 1,74 juta tCO2e.

Baca Juga: Rampung 2021, Bendungan Rp63 Miliar di Kalimantan Timur Malah Mangkrak dan Tak Beroperasi, Mengapa?

Pembangkit listrik di Kota Tomohon ini merupakan salah satu proyek panas bumi terbesar di Indonesia.

Kapasitas yang terpasang untuk PLTP Lahendong unit 5 dan 6 sendiri mencapai 120 Mega Watt (MW).

Dalam pengoperasian proyeknya pun telah menggandeng Chevron dan beberapa perusahaan Jepang, melansir dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Baca Juga: Investasinya Rp6,6 Triliun, Proyek Pipa Gas Dumai-Sei Mangkei Diramal Menghemat Devisa Impor LPG Rp1,08 Triliun per Tahun

Pasokan listrik dari pembangkit listrik tersebut bakal memasok wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.

Adapun jika daya listriknya bisa dimaksimalkan maka pasokannya bisa mencapai 340 MW.

Sebagai informasi, Wilayah Kerja (WK) Lahendong terdiri dari dua blok pengeboran, yaitu mencakup blok eksisting yang ada di Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa.

Baca Juga: Habiskan Rp300 Miliar, Jembatan di Kalimantan Timur yang Diklaim Terpanjang se-Indonesia Direhabilitasi

Selanjutnya, ada pula Blok Tompaso yang masih berada di kawasan Kabupaten Minahasa Induk.

Dari kedua blok tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) berhasil memanfaatkan 51 sumur panas bumi.

Blok Lahendong diketahui memiliki luas 14 kilometer persegi dengan simpanan energinya mencapai 150 MW.

Baca Juga: Barcelona Bernafsu Datangkan Gelandang Jangkar Pengganti Sergio Busquets dari Manchester City di Bursa Transfer Kali Ini

Sementara untuk Blok Tompaso luasnya 28 kilometer persegi dengan pemanfaatan energi yang efektif sebesar 20 MW, baik PLTP Lahendong unit 5 dan 6.

Lantas, seberapa cuan pendapatan PT Pertamina Geothermal Energy dari hasil penjualan credit carbon?

Mengungkap Laporan Keuangan PGEO per Kuartal III Tahun 2023, dapat diketahui bahwa hasil penjualan kredit karbon sebesar USD 732.000.

Baca Juga: Serap APBN Rp63 Miliar, Bendungan di Kalimantan Timur Mampu Aliri Lahan Pertanian Seluas 1500 Hektar, Kapan Beroperasi?

PLTP garapan unit usaha Pertamina sektor energi panas bumi ini berhasil masuk ke dalam deretan 10 besar perusahaan panas bumi terbesar di dunia.

Adapun perusahaan selainnya dari Indonesia juga ada Barito Renewables Energy.

Sedikit kilas balik perjalanan bisnis karbon yang diupayakan Kementerian ESDM di sepanjang 2023.

Baca Juga: Gelontorkan Dana Rp520 Miliar, Indonesia Bakal Punya Landed House Hijau di IKN Nusantara, Per Unitnya Rp14,4 Miliar!

Sebagaimana diingat bahwa Februari di tahun tersebut menjadi momen pertama Kementerian ESDM meluncurkan perdagangan karbon di sektor pembangkit listrik.

Kemudian pada September, PGEO untuk PLTP Lahendong unit 5 dan 6 telah berhasil masuk ke dalam bursa karbon dan siap diperdagangkan.

Selain itu, PLTGU Blok 3 PJB Muara Karang dengan volume penjualan emisinya sebesar 900.000 tCO2e juga terdaftar dalam perdagangan karbon tersebut.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]