

inNalar.com – Bagi kamu, warga Yogyakarta atau yang sedang berkunjung ke kota istimewa ini pastinya sudah bisa menebak gunung api purba mana kah yang dimaksudkan ini.
Yogyakarta menjadi hamparan daratan geologis yang penuh dengan misteri. Bicara soal pegunungan rupanya tidak selalu berkaitan dengan Gunung Merapi ya.
Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi rumah bagi dua dataran tinggi fenomenal, yaitu Gunung Merapi dan gunung api purba yang berada di daerah Wonosari.
Tahukah bahwa dua gunung tersebut tidak lah serupa jika dilihat dari proses kesejarahannya?
Mari mengulik misteri keberadaan gunung purba yang ada di Kali Ngalang terlebih dahulu.
Kali Ngalang bukanlah sekadar hamparan situs bebatuan biasa yang hanya dinikmati keindahan alamnya saja.
Situs Bioturbasi Kali Ngalang akan membantu kita menjawab apa yang membuat Gunung Api Nglanggeran di Wonosari ini cukup mengagumkan.
Tidak hanya itu, dari jejak fosil di sanalah kita dapat mengetahui perbedaan mendasar antara Gunung Merapi yang kini masih aktif dan Gunung Api Purba favorit
warga Yogyakarta berwisata alam ini.
Dr. Ir. C. Prasetyadi, M. Sc. mengungkap bahwa hamparan bebatuan di Kali Ngalang ini adalah tempat ketika jejak perubahan batuan.
Baca Juga: Gak Cuma Mistis, Kampung Pasar Setan di Banjarnegara Rupanya Memendam Jejak ‘Harta Karun’ Ini
Jika kita mengamati bebatuan yang berserakan di Kali Ngalang ini, akan terlihat ukurannya yang lebih kecil dan halus ketimbang yang ditemukan di wilayah Gunung Api Purba Nglanggeran.
Material sekitar gunung purba itu cenderung seragam, banyak bebatuan berupa kepingan lava atau yang disebut dengan breksi vulkanik.
Asal-usul pembentukan Gunung Api Purba Nglenggeran Yogyakarta dapat diketahui dengan melihat banyaknya batuan beraneka warna di sekitar Kali Ngalang.
Keberadaan batuan andesit di sekitarnya membuat para peneliti mulai memahami bahwa dataran tinggi kuno ini sudah melalui fase erosi.
Fase erosi ini menandai pula berhentinya atau non aktifnya Nglanggeran sebagai gunung api aktif.
Mencengangkannya lagi, adanya temuan batu gampingan di sekitar tanah berpasir putih Kali Ngalang menunjukkan bahwa dahulu kaki gunung ini berada bukan di daratan.
“Jadi rupanya kakinya Gunung Nglanggeran itu dulu masuk ke apa? Masuk ke air. Masuk ke laut,” ujar Dr. Prasetyadi, dikutip dari Dokumenter Sinau Bhumi.
Jika kalian berkesempatan ke sana, coba amati tanah keras berwarna putih yang memiliki relief unik.
Tanah berpasir putih dengan tekstur keras bebatuan gamping itu menceritakan bahwa dulunya lereng gunung Nglanggeran Yogyakarta menapak ke lautan.
Sehingga banyak peneliti menyebut Kali Ngalang sebagai pantai purba kepunyaan Wonosari.
Berbeda halnya dengan Gunung Merapi, kaki pegunungan aktif ini jelas menapak ke daratan sehingga tidak ada jejak fosil serupa dengan yang ditemukan di lereng Nglanggeran ini.***