Menurut data, luas Pulau Bungin mencapai 7 hektare dan ditempati oleh sekitar 708 kepala keluarga (KK) atau 3.045 jiwa penduduk.
Mayoritas penduduk di pulau ini berasal dari suku Bajo dari Sulawesi Selatan sejak 200 tahun lalu. Desa Bungin dijuluki sebagai pemukiman terpadat di dunia.
Melansir dari YouTube Jelajah Bumi hampir tidak ditemukan lahan kosong di pulau tersebut. Desa Bungin juga diketahui tidak memiliki garis pantai atau hamparan lahan hijau.
Sebab, sepanjang pesisir pulaunya telah dibangun tempat tinggal sehingga kondisinya berdesakan yang membuat Pulau Bungin unik.
Jika biasanya Indonesia Timur ini dikenal dengan destinasi wisata dengan laut biru dan pasir putih maka lain halnya dengan Pulau Bungin.
Meskipun tak memiliki pesisir pantai pulau Bungin terkenal dengan wisata kuliner berupa seafood.
Buktinya, di Bungin ditemukan resto seafood apung yang menyajikan berbagai makanan olahan laut seperti ikan, lobster dan sebagainya.
Mata pencaharian penduduk desa Bungin sebagian besar adalah nelayan. Mereka menyebrangi lautan untuk mencari ikan.
Masyarakat Bajo di pulau Bungin yang semakin banyak jumlahnya membuat penduduk menimbun laut dengan karang mati untuk membuat daratan.
Bahasa sehari-hari disini adalah bahasa asli masyarakat yang tinggal di Bajo bukan bahasa umum di gunakan oleh warga Sumbawa.
Uniknya, hampir setiap rumah memiliki perahu pribadi untuk memancing ikan atau lobster di laut. Ditemukan juga berbagai hewan ternak milik warga.
Dulunya, daerah ini adalah gundukan pasir putih lalu mereka membangun rumah-rumah dengan tumpukan karang mati sebagai pondasi.
Rumah mereka terbuat dari papan dan atapnya tersusun atas seng atau genteng yang kokoh.
Kini rumah di sini tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Suasana perkampungan dengan penuh kesederhanaan dan keindahan alam dapat terlihat di sini.***