Tak Hanya di Gaza, Israel Juga Melancarkan Serangannya di Tepi Barat dan Tewaskan 260 Warga Palestina dalam 59 Hari

inNalar.com – Sejak gencatan berakhir, Israel memborbardir Gaza tanpa henti.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menyebutkan setidaknya 178 warga Palestina meregang nyawa.

Sementara itu, 589 orang terluka pada hari pertama pemboman Israel di Gaza pasca berakhirnya gencatan senjata.

Selain itu, dengan berakhirnya gencatan senjata, masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza juga berhenti.

Baca Juga: Apartemen Mewah Firli Bahuri Kembali Digeledah, Penyidik Polda Metro Jaya Angkut Koper Hitam

UNOCHA melaporkan hingga Jumat, 1 Desember 2023 malam, tidak ada konvoi bantuan atau truk bahan bakar yang memasuki Gaza.

Tak hanya itu, Israel memperluas daerah serangannya di sebuah kota di Selatan Nablus.

Israel juga telah melakukan serangan setiap malam di Tepi Barat yang diduduki sejak perang di Gaza dimulai

Selain melancarkan serangan demi serangam, Israel menangkap sejumlah warga Palestina.

Baca Juga: Pemerintah Iming-imingi PNS yang Mau Pindah ke IKN, Ada Bonus Insentif dan Bebas Pajak hingga 2035?

Kantor berita Palestina Shahab melaporkan bahwa serangan Zionis telah melukai sebanyak 3.200 orang di Tepi Barat.

Diketahui pula, Israel telah memenjarakan 3.580 orang di wilayah Tepi Barat, menurut pusat Palestina yang bertanggung jawab atas urusan para tahanan.

Sejak invasi Israel ke Gaza, Tepi Barat telah menyaksikan operasi anti-Zionis yang memperburuk agresi Zionis di wilayah ini.

Di wilayah Tepi Barat setidaknya terdapat 260 warga Palestina yang menjadi martir oleh pasukan Israel dalam waktu 59 hari.

Baca Juga: Song Hye Kyo dan Han Hyo Joo Dibayar Hampir Rp5 Miliar per Episode, Berkat Gaji dari Netflix yang Makin Tak Masuk Akal!

Jumlah syuhada Palestina di Tepi Barat berjumlah 468 orang sejak awal tahun 2023.

Pusat informasi pemerintah Palestina di Gaza sebelumnya menyatakan jumlah korban serangan rezim Israel di Jalur Gaza mencapai lebih dari 16 ribu orang.

Jumlah korban tersebut termasuk anak-anak dan perempuan yang presentasenya mancapai 70 persen.***

Rekomendasi