Swedia Rusuh Akibat Orasi Berisi Ujaran Kebencian Terhadap Islam, Bermula dari Pembakaran Al Quran

 
inNalar.com – Swedia salah satu negara di bagian Eropa Utara sedang dilanda kerusuhan besar, lantaran adanya ujaran kebencian terhadap agama Islam dan bermula dari pembakaran kitab suci Al Quran.
 
Kerusuhan besar tersebut dipicu oleh kegiatan selompok orang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat yang dipimpin seorang politisi sekaligus kritikus Islam Rasmus Paludan.
 
Rasmus Paludan sebelumnya menghina agama Islam dan merencanakan akan membakar Al Quran di tengah-tengah masa, menurut dirinya Negara Swedia menganut faham demokrasi yang bebas.
 
 
Hal itu disampaikan di hadapan publik dan melalui media sosial,  itulah yang membuat kemarahan kaum muslimin di negara termasuk wilayah Skandinavia pada bulan mulia Ramadhan 2022 ini.
 
Dikutip inNalar.com dari artikel Pikiran Rakyat berjudul “Kerusuhan Besar di Swedia Usai Orasi Menghina Agama Islam, Dipicu Pembakaran Al-Qur’an di Tengah Massa“Kerusuhan Besar di Swedia Usai Orasi Menghina Agama Islam, Dipicu Pembakaran Al-Qur’an di Tengah Massa pada Minggu, 17 April 2022 di luar dugaan aksi tersebut menjadi masalah.
 
Rupanya aksi yang disebut Rasmus Paludan sebagai kebebasan berbicara, malah menuai badai.
 
Ratusan orang Islam turun ke jalan menuangkan ekspresi ‘balasan atas kebebasan’ bicara politisi Swedia-Denmark dan kritikus Islam Rasmus Paludan.
 
 
Kemarahan warga memicu bentrokan bersar dengan polisi dan memicu kecaman dari Menteri Kehakiman Swedia, Morgan Johansson.
 
Kerusuhan dan kekerasan tersebut terjadi di Kota Linköping, Swedia sehubungan dengan pembakaran Al-Qur’an oleh Rasmus Paludan, yang sebelumnya telah menerima izin untuk mengadakan pertemuan publik.
 
Bahkan sebelum pembakaran Al-Qur’an, bentrokan sudah terjadi antara orang Islam dengan polisi yang memberi pengamanan pada Rasmus Paludan.
 
Dalam video dari tempat kejadian, pria terlihat berdiri di atap mobil polisi dan meneriakkan ‘Allahu akbar’.
 
“Saya tidak melihat mobil polisi yang tidak rusak,” kata seorang saksi mata kepada surat kabar Aftonbladet.
 
 
Polisi harus mundur dan berkumpul kembali setelah petugas dilempari batu dan mobil polisi dihancurkan dan dibakar.
 
Sebanyak tiga petugas polisi yang terluka dibawa ke rumah sakit. Selanjutnya, kerusuhan menyebar ke kota Norrköping dan melibatkan ratusan massa.
 
Surat kabar Norrköpings, Tidningar melaporkan, bahwa situasinya benar-benar tidak bisa dibayangkan.
 
Menurut penyiar nasional SVT, beberapa halte trem ditutup karena trem diserang oleh perusuh.
 
Dua orang ditangkap karena kerusuhan yang disertai kekerasan dan empat lainnya karena perilaku tidak tertib.
 
Menteri Kehakiman Morgan Johansson akhirnya turun. Melalui akun Twitter, dia mengutuk kerusuhan dan Rasmus Paludan.
 
 
“Tidak peduli apa yang dipikirkan orang tentang pesan kebencian ekstrimis sayap kanan yang diperjuangkan Paludan. Tidak dapat diterima untuk bereaksi dengan kekerasan serius seperti itu.
 
Ada baiknya polisi bertindak tegas untuk menangani para pelaku dan menjaga ketertiban. Saya harap polisi yang terluka dapat pulih dengan cepat,” kata Morgan Johansson melalui cuitannya.
 
“Orang-orang di balik kerusuhan dengan kekerasan tidak mewakili mereka yang tinggal di daerah itu. Sebagian besar wilayah rentan hanya menginginkan kedamaian dan ketenangan dan dapat menjalani kehidupan mereka,” katanya.
 
“Adapun provokator ekstrimis sayap kanan, reaksi seperti inilah yang ingin dia lihat. Tujuannya adalah untuk menghasut orang terhadap satu sama lain. Saya mendesak semua kekuatan kebaikan untuk tetap tenang dan tidak membiarkan diri mereka terprovokasi. Pemerintah terus mengikuti perkembangan,” ujarnya menambahkan.
 
 
Politisi Denmark-Swedia, Rasmus Paludan menjadi terkenal di Denmark melalui demonstrasi menentang Islam di daerah-daerah padat Muslim yang ditampilkan dalam daftar ghetto resmi negara itu, yang difilmkan dan dirilis sebagai video.
 
Selanjutnya, acara serupa diadakan di Swedia, sering kali mengakibatkan kerusuhan yang disertai kekerasan.
 
Demonstrasi tersebut dipandang memiliki sifat provokatif karena sering menampilkan penodaan terhadap Al-Qur’an, pusat Islam, namun mereka menyangkal aksinya itu sebagai penistaan.
 
Dia merasa apa yang dikatakannya benar atas nama demokrasi yang menjamin kebebasan berbicara oleh Paludan dan kelompoknya.
 
Laporan Pew Research tahun 2017 mendokumentasikan komunitas Muslim sebagai 8,1% dari total populasi Swedia yang berjumlah 10 juta.
 
Minoritas Muslim Swedia telah melonjak secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir, terutama setelah krisis migran 2015.***
 
(Rizki Laelani/Pikiran Rakyat)
 

Rekomendasi