

inNalar.com – PT Adaro Energy Indonesia Tbk, perusahaan tambang batu bara yang memulai perjalanan bisnisnya di Kalimantan Selatan tampak melebarkan sayapnya ke provinsi lainnya.
Sebab, lahan tambang andalannya yang berada di Tabalong dan Balangan, Kalimantan Selatan ini semakin mengecil usai raih izin IUP terbarunya.
Sebelumnya, emiten batu bara metalurgi ini diketahui mengajukan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) kepada Kementerian ESDM.
Merujuk pada data yang diterbitkan pihak MODI ESDM, akhirnya perusahaan berkode ADRO ini berhasil memperpanjang usia konsesi dua wilayahnya.
Lebih lanjut, perusahaan tambang ini mendapatkan izin eksplorasi mulai 13 September 2022 dan masa berlakunya mencapai 10 tahun.
Dengan demikian, kini Adaro diizinkan untuk melakukan aktivitas pertambangan batu bara di Tabalong dan Balangan hingga 10 Januari 2032 mendatang.
Namun sayangnya, area konsesi yang berada di kedua wilayah tersebut diketahui semakin menciut jika dibandingkan dengan izin konsesi periode sebelumnya.
Apabila sebelumnya luas lahan tambang perusahaan di dua area ini mencapai 31.380 hektare, maka kini menyempit sebanyak 7.438 hektare.
Alhasil, luas izin eksplorasi batu bara milik perusahaan ini diketahui hanya memiliki sisa lahan keruk seluas 23.942 hektare.
Menurut catatan publikasi Adaro Energy di tahun 2020, sebagian besar pertambangan garapannya tersebar di Kalimantan Selatan.
Jalur pengangkutannya dibawa melalui Sungai Barito menuju laut lepas yang berada di sisi selatan provinsi.
Berdasarkan pencatatannya, cadangan yang tersimpan di area konsesi milik Adaro Indonesia mencapai 821 Metric Ton (Mt).
Sementara lahan tambang garapan Balangan Coal menyimpan cadangan batu bara hingga 135 Metric Ton (Mt).
Diversifikasi aset pun akhirnya menjadi pilihan utama perusahaan sehingga kini lahan tambang Adaro tersebar di beberapa daerah mencakup di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Melansir dari situs resmi perusahaannya, total area konsesi batu bara yang telah diamankan pihak emiten kini mencapai 146.579 hektare.
Adapun total cadangan yang berhasil dihimpun ADRO mencapai 165,4 juta ton, sedangkan sumber dayanya tembus hingga 975 juta ton per Desember 2022.
Sebagai informasi tambahan, perusahaan ini telah memulai bisnis komoditas ini sejak tahun 1976 dengan kepemilikan 8 blok yang tersebar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Konsesi batu bara yang berada di salah satu lahan tambang di Kalimantan Selatan sendiri dipegang oleh Balangan Coal Companies.
Balangan Coal Companies terdiri dari PT Semesta Centramas, PT laskar Semesta Alam, dan PT Paramitha Cipta Sarana.
Adaro sendiri diketahui memiliki 75 persen saham dari ketiga perusahaan tersebut.
Adapun karakteristik produk komoditasnya diketahui memiliki nilai kalor berkisar dari 4.200 – 4.400 kkal per kg.
Baca Juga: Telan Dana Rp310 Miliar, Smelter Pertama di Kalimantan Tengah Ini Dipasok Listrik PLN 39 MVA
Selain itu ada pula Adaro Indonesia yang juga diketahui mengoperasikan salah satu tambang di wilayah Kalimantan Selatan.
Pada tahun 2021, pihaknya berhasil mencatatkan produksi batu bara hingga 43,2 juta ton.***