

inNalar.com – Indonesia terkenal dengan keberagaman suku, budaya, dan bahasa, di mana setiap suku mempunyai ciri khas unik yang menggambarkan kehidupan mereka.
Di antara banyaknya suku di Indonesia, Suku Korawai adalah salah satu suku yang sangat unik.
Suku ini berasal dari wilayah ada Anim-Ha di Papua bagian Selatan.
Baca Juga: Eksplorasi Lubang Goa Misterius di Jawa Timur: Jejak Sejarah Majapahit yang Tersembunyi
Mereka hidup di hutan belantara Papua, lebih tepatnya di Kabupaten Merauke, Asmat, Mapi, dan Boven Digoel.
Suku ini menjalani kehidupan yang terpencil dan jauh dari dunia luar.
Mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Tinggalkan Aura Kampung Begal, Citra Kecamatan Jabung Sekarang Jadi Begini
Daya tarik utama dari suku ini ada pada rumah-rumah pohon mereka.
Rumah pohon tersebut dibangun dengan tinggi 15-50 meter di atas tanah.
Bagi Suku Korawai, rumah pohon mereka dibuat bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing, BRI Peduli Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Halal UMKM dari Berbagai Daerah
Menurutnya, tinggal di atas pepohonan merupakan cara untuk menghindari bintang buas serta melindungi diri dari gangguan roh-roh jahat.
Kepercayaan inilah yang mendorong mereka untuk membangun rumah setinggi mungkin.
Hal itu dilakukan agar bisa merasa lebih aman dari ancaman luar maupun dari “Laleo”, sebutan untuk para pendatang atau orang asing.
Rumah Suku Korawai dibuat dengan bahan-bahan alami seperti batang kayu, daun-daunan, dan kulit pohon sagu..
Proses pembangunan rumah ini bisa memakan waktu sampai 7 hari.
Rumah pohon ini hanya bisa bertahan sekitar 3-4 tahunan saja karena bahannya yang alami dan rentan terhadap cuaca dan usia.
Sebelum mendirikan rumah pohon, suku ini akan melakukan sebuah ritual khusus untuk mengusir roh jahat terlebih dahulu.
Mereka melakukan itu sebagai bentuk penghormatan dan usaha untuk mempertahankan adat istiadat para leluhur.
Walaupun tinggal di tengah hutan belantara, Suku Korawai mempunyai cara yang cerdik untuk memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Mereka adalah pemburu dan pengumpul ulung yang mencari makanan dengan berburu, memetik buah dan umbi, serta mengolah pohon sagu untuk dijadikan makanan pokok sehari-hari.
Pohon sagu ini akan diolah secara tradisional.
Cara pengolahannya dengan dicacah dan disaring untuk mengambil saripatinya yang kemudian akan dimasak dan dikonsumsi.
Untuk menambah lauk dalam hidangannya, mereka juga memasak ulat sagu dan sayuran lainnya.
Tidak hanya itu saja, suku ini juga memelihara seekor anjing untuk dijadikan sebagai hewan pemburu.
Ada pula hewan babi yang merupakan hewan bernilai sosial hanya akan disembelih pada acara khusus.
Suku Korawai menggunakan panah dan racun alami dari tumbuhan untuk berburu ikan di sungai.
Adanya suku ini menjadi bukti bahwa Indonesia kaya akan keragaman budaya.
Mereka adalah salah satu contoh bagaimana manusia dengan alam bisa terjaga tanpa adanya modernisasi.
Kehidupan terisolasi dan cara hidup Suku Korawai ini memberikan wawasan tentang cara hidup berkelanjutan dan seimbang di alam.***(Dea Fransisca)