

inNalar.com – Musik klasik merupakan warisan musik global dan telah lama memikat para pendengarnya dengan melodi dan harmoninya yang terdengar tak biasa.
Biasanya masyarakat menganggap jenis musik ini identik dengan musik yang sering dimainkan oleh orkestra.
Tentu saja pendapat ini tidak sepenuhnya benar, dengan pengertian dari orkestra yang selalu diartikan sebagai musik yang dimainkan oleh pasukan musisi, didominasi oleh alat musik gesek atau string.
Baca Juga: Harganya Bisa Rp300 Juta Perkilogram, Ini Penampakan Rempah Termahal di Dunia, Tertarik Membeli?
Namun pada kenyataannya ‘gamelan’ juga termasuk ke dalam orkestra. Dalam pengertian aslinya, musik klasik adalah komposisi musik yang lahir dari budaya Eropa di tahun 1750 dan 1825
Di luar kecemerlangan artistiknya, ternyata genre musik klasik ini mempunyai implikasi fisiologis yang mendalam bagi pendengarnya.
Dilansir inNalar.com dari Gilmore Health, studi ilmiah baru-baru ini mulai menyoroti hubungan antara musik klasik dengan implikasi ini.
Ketika diliputi oleh komposisi klasik, nampaknya pendengar mungkin mengalami lebih dari sekedar pengalaman pendengaran.
Musik ini tampaknya memiliki potensi untuk mengatur serangkaian respons fisiologis yang tersinkronisasi.
Sehingga memperdalam pemahaman kita tentang pengaruhnya dan memperluas maknanya melampaui hiburan.
Baca Juga: Lihat Karakter Kepribadian dari Tipe Sepatu Seseorang, Bisa Jadi Kamu Sosok yang Pekerja Keras!
Hipotesis yang mendasarinya bermacam-macam. Namun para ilmuwan berusaha untuk menentukan apakah paparan kolektif terhadap komposisi klasik dapat menyebabkan pola fisiologis yang tersinkronisasi di antara pendengar.
Lapisan yang mendasari eksplorasi ini berguna dalam memeriksa apakah sinkronisasi akan menunjukkan korelasi dengan pengalaman emosional subjektif masing-masing peserta selama konser.
Lebih lanjut, dalam perpaduan antara psikologi dan fisiologi, penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya hubungan potensial antara respons tersinkronisasi yang diamati dan ciri-ciri.
Hasil penelitian ini mengungkapkan sebuah fenomena yang lebih dari sekadar apresiasi kolektif terhadap musik.
Tingkat sinkronisasi fisiologis yang mencolok terlihat di antara para peserta konser, sebuah kesatuan yang bergema di ruang hati mereka, irama napas mereka, dan bahkan respons kecil dari kulit mereka.
Musik klasik sendiri dapat mempengaruhi detak jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan volumenya.
Penelitian menyebut jika semakin lambat tempo musik, denyut jantung semakin lambat dan tekanan darah menurun.
Dengan menggunakan matrik penilaian kepribadian setiap peserta dalam beberapa dimensi, yakni kesesuaian, keterbukaan, dan ekstrovert.
Temuan menunjukkan bahwa individu dengan skor lebih tinggi dalam sifat keramahan dan keterbukaan menunjukkan respons fisiologis tersinkronisasi yang jelas.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa individu dengan sifat-sifat ini, mungkin karena kecenderungan bawaan mereka terhadap empati dan keterbukaan terhadap pengalaman, terutama di lingkungan yang dipenuhi dengan rangsangan emosional seperti musik klasik.
Selain itu terdapat potensi yang belum dimanfaatkan dalam memanfaatkan musik untuk meningkatkan intervensi yang menargetkan gangguan emosional, kecemasan , atau bahkan stres pasca-trauma .
Musik klasik sendiri memiliki salah satu ciri yaitu tempo yang lambat (ritardando).
Dengan memperdengarkan musik klasik yang memiliki tempo lambat tersebut kepada orang dengan gangguan emosional, kecemasan atau stres pasca trauma ini akan berubah menjadi lebih tenang.
Sehingga perilaku yang biasa ditunjukkan oleh orang dengan gangguan tersebut pun dapat berkurang dan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi