

inNalar.com – dr Zaidul Akbar, seorang praktisi pengobatan sunnah Indonesia menjelaskan tentang bahaya kebiasaan makan di malam hari. Menurutnya, perilaku tersebut dapat memicu dua penyakit berbahaya.
Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun sebagai dokter, dr Zaidul Akbar menyampaikan banyak pasien yang terserang 2 penyakit ini setelah terlalu sering makan di malam hari.
“Memang ternyata makan malam itu salah satu penyebab tingginya gula atau bermasalahnya pankreas seseorang,” kata dr Zaidul Akbar, Jumat 11 Oktober 2024.
Baca Juga: Self Healing ke Alam Terbukti Mampu Kurangi Depresi, Efek Domino Ini Ternyata Jarang Disadari
Fenomena tersebut terjadi, kata dokter kelahiran 30 November 1977 itu, akibat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pemulihan sel.
“Malam itu sudah waktunya tubuh kita untuk ‘tutup toko’ alias sudah tidak ada aktivitas lagi yang berhubungan dengan pencernaan. Suruh istirahat!” terangnya. Berikut 2 penyakit yang dimaksud:
1. Kerusakan Fungsi Pankreas
Dikutip dari Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), perilaku makan di atas jam 8 malam dapat menyebabkan gangguan ritme sirkadian tubuh. Jam alami tubuh memainkan peranan penting dalam fungsi pankreas dalam memproduksi dan sekresi insulin.
Akibatnya pankreas bekerja lebih keras di luar waktu optimalnya, yang dalam jangka panjang mengakibatkan produksi insulin tidak optimal resistensi insulin.
2. Gula Darah Tinggi
dr Zaidul Akbar juga menekankan bahwa kebiasaan makan di malam hari dapat mempengaruhi metabolisme tubuh.
Sehingga pada akhirnya meningkatkan risiko tekanan gula darah tinggi. “Ada dua kelompok penelitian yang dilakukan pada malam hari dan siang hari, dengan dikasih kalori. Ternyata yang makan malam hari gula darahnya lebih tinggi meningkatnya,” paparnya.
Studi yang dipublikasikan Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism juga mendukung pandangan tersebut.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa seseorang yang makan di malam hari, terutama mendekati waktu tidur, dapat menyebabkan disregulasi glukosa dan peningkatan risiko gula darah tinggi.
Pasalnya, kondisi tersebut disebabkan sensitivitas insulin lebih rendah pada malam hari, sehingga membuat tubuh kesulitan dalam mengontrol gula darah.
Baca Juga: Makin Kece, Creative Hub di Kota Bandung Rp40 Miliar Jadi Wadah Kreativitas Milenial dan Gen Z
Pandangan Ahli: Jam Makan Malam Terbaik
Di lain sisi, dr Saddam Ismail, seorang dokter dan vlogger kesehatan yang fokus pada edukasi kesehatan dan diet turut menjelaskan, bahwa kebiasaan makan larut malam bukan hanya buruk untuk pencernaan, tapi juga mengganggu kualitas tidur.
“Sebaiknya makan malam itu batasnya jam 7 atau 8 malam paling maksimal. Kemudian bagusnya, 2-4 jam sebelum tidur itu bagus,” ungkapnya.
Saddam menekankan porsi makan di malam hari tidak boleh seperti makan siang. Artinya, porsinya harus lebih sedikit. Sehingga terhindar dari risiko gangguan asam lambung.
Baca Juga: Lintasi Beberapa Rezim, Daerah di Sulawesi Selatan Hingga Kini Masih Berjuang Jadi Provinsi Baru
“Kemudian, hindari makanan yang berlemak, makanan terlalu asam, makanan terlalu manis dan terlalu pedas juga,” pungkas dr Saddam Ismail.
Kompetensi dr Zaidul Akbar dalam Kesehatan Alami
Sebagai praktisi pengobatan sunnah Indonesia, dr. Zaidul Akbar sering membahas topik kesehatan dengan pendekatan pola hidup sehat bergaya Islami.
Kajiannya pun sering menjadi acuan masyarakat dalam mengobati berbagai penyakit secara alami. Tak sedikit dari mereka yang berhasil sembuh dengan pengobatan dokter Zaidul.
Baca Juga: Gaet China, Bendungan di Gowa Rp4,1 Triliun Diproyeksi Jadi Penangkal Banjir Sulawesi Selatan
Pria yang lahir di Kota Jambi ini sukses meraih gelar dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada 2003 setelah 6 tahun pendidikan.
Lebih lanjut, dr Zaidul Akbar juga menulis resep pengobatan alami dalam buku bertajuk Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dan diterima oleh masyarakat banyak.
Menurut dr Zaidul Akbar, kunci utama 2 penyakit berbahaya di atas adalah dengan mengatur pola makan.
Makan malam sebaiknya dilakukan di antara pukul 7-8 malam dengan porsi yang ringan. Selain itu, penggasa JSR itu menganjurkan untuk memilih makanan yang sehat seperti sayuran dan buah, serta menghindari makanan berlemak atau tiggi gula.
Referensi: