Sudah Investasi 53 Triliun, Satu-satunya Kereta Api di Kalimantan Timur Ini Malah Batal Digarap, Tapi ….

inNalar.com – Rencana untuk membangun kereta api pertama kalinya di Pulau Borneo yang berada di daerah Kalimantan Timur telah dibatalkan.

Hal ini dikarenakan investor dari proyek tersebut, yaitu perusahaan Rusia, mengundurkan diri. Padahal, proyek ini telah didanai dengan investasi sebesar 53,3 Triliun Rupiah.

Pemerintah juga sempat melakukan kajian sosial, termasuk penelitian di beberapa lokasi di Kalimantan Timur yang akan digunakan sebagai jalur kereta api nantinya.

Baca Juga: Gunakan APBD Rp 81,4 Miliar, Jembatan Kaca Skywalk di Riau Ini Berhiaskan Lampu Menari Sepanjang 58 Meter

Pembangunan proyek ini dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 19 November 2015 dan dibatalkan pada tahun 2020.

Meski investor Rusia mundur, PT Kereta Api Borneo tetap akan berinvestasi di wilayah tersebut, hanya saja tidak di bidang perkeretaapian.

Tentunya berita mengenai batalnya perencanaan pembangunan kereta api di Pulau Kalimantan yang telah dirancang selama kurang lebih 5 tahun ini banyak membuat warga kecewa.

Baca Juga: Digadang Jadi Stadion Termahal Rp130 Miliar se-Sumatera Barat, Kini Kondisinya Miris Dilihat

Akan tetapi, pembangunan kereta api di Kalimantan Timur ternyata tetap berlanjut dan hadir di IKN, ibukota Indonesia yang baru.

Proyek pembangunan ini dikatakan akan menghubungkan daerah Balikpapan dengan IKN, dengan target pembuatan di atas tahun 2025.

Kereta api di Kalimantan Timur ini lagi-lagi dikabarkan akan mendapatkan investasi dari Rusia, dengan perkiraan dana melebihi 209,6 triliun rupiah.

Baca Juga: 170,67 Ribu Wisatawan Asing Masuk Indonesia Lewat Perbatasan

Biaya tersebut sudah masuk ke dalam pembangunan stasiun, jalur kereta api, KRL, dan lain-lain, namun hanya berupa hitungan awal yang bisa berubah nantinya.

Melihat tekstur tanah di Kalimantan, pembangunan kereta api terdengar sedikit mustahil dan memang membutuhkan biaya yang besar.

Jalur kereta nantinya akan dibangun sejajar dengan jalan tol di mana kereta api IKN akan menggunakan roda karet tanpa masinis atau Automated Guided Train (AGT).

Kapasitas kereta di IKN juga akan dirancang untuk menampung hanya 50 orang per set agar headway kereta lebih singkat.

Pemerintah juga berencana untuk mengajak kerjasama China Railway International (CRI) untuk membangun kereta api di IKN, di mana sudah pernah terlibat dalam pembuatan kereta cepat Bandung.

Pengembangan kereta api di IKN merupakan rencana yang menantang, namun Kemenhub optimis dapat berhasil mewujudkannya.

Meski belum ditetapkan investornya, pemerintah sedang berencana menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak terkait pengembangan kereta api di IKN, termasuk layanan KA Bandara, KA perkotaan, dan KA antarkota.***

Rekomendasi