Strategi Licik Soeharto di Masa Awal Kepemimpinan Era Orde Baru sebagai Presiden dalam Menyingkirkan Nasution

inNalar.com – Tantangan pertama bagi Soeharto dalam menciptakan stabilitas politik hadir dalam diri Nasution.

Pada saat itu, Nasution merupakan seorang jenderal Senior yang jelas secara tidak langsung berpotensi menjadi rival Soeharto dalam menuju kursi kepemimpinan.

Jenderal Nasution dikenal jago dalam merumuskan strategi dan dikenal jasanya membangun Angkatan Darat sejak masa revolusi.

Baca Juga: Jauh Berbeda dengan Soekarno, Ternyata Ini Alasan Soeharto Tidak Mau Kenakan Atribut Lengkap

Hal tersebut merupakan bukti sahih kapabilitas Nasution sebagai seorang pemimpin.

Kebenciannya terhadap PKI serta kehidupannya yang sederhana dan jauh berbeda dengan gaya hidup yang dipilih oleh Yani CS.

Hal tersebut membuat masyarakat mulai ramai membicarakan kemungkinan Nasution sebagai alternatif penggani Soekarno menjadi presiden.

Baca Juga: Membongkar Kisah Kabinet Ampera yang Didominasi Kalangan Militer, Soeharto Jadi Dalang Utama?

Hanya saja ada satu ‘cacat’ yang tak terlupakan dalam karir Nasution.

Pada peristiwa 17 Oktober 1952 telah memberikan kesan yang tidak baik di mata beberapa orang.

Pribadinya keras, bahkan berani menentang Soekarno tentu kurang bisa diterima oleh pendukung Soekarno.

Baca Juga: 7 Kehebatan Ini Jadi Rahasia Dibalik Lamanya Masa Jabatan Soeharto hingga 32 Tahun, Ada Aksi Meredam Konflik

Pecahnya peristiwa Gerakan 30 September, seharusnya membuka peluang bagi Nasution menggantikan Soeharto.

Namun, takdir berkata lain dan Soeharto lah yang pada akhirnya menjadi pejabat Presiden sementara Nasution masuk dalam keanggotaan MPRS.

Tak cukup setelah menjabat sebagai presiden, terdapat upaya pemerintah untuk mengganggu fungsi dari MPRS.

Kemacetan fungsi dari MPRS ini terjadi karena fraksi Golkar tidak mau berpartisipasi serta enggan mengakui susunan Badan Pekerja.

Otomatis, hal ini menghentikan kegiatan komisi serta panitia MPRS yang disusun oleh BP.

Kemudian, muncul lah berbagai spekulasi mengapa Soeharto ingin menyingkirkan Nasution.

Ada yang mengatakan bahwa Soeharto dendam terhadap Nasution lantaran membuahnya ke Bandung saat kasus Diponegoro.

Ada pula asumsi yang mengatakan bahwa Soeharto tidak suka mendengar kemungkinan Nasution ingin menjadi presiden.

Namun, menurut Nasution sendiri, dirinya disingkirkan oleh rezim Soeharto lantasan pemerintahan Orde Baru tidak menyukai cara kerja MPRS yang vokal dan kritis terhadap pemerintah.***

 

Rekomendasi