

inNalar.com – Sebuah desa pelosok yang berada di wilayah Bantul, Jogja rupanya masih menyimpan histori masa kecil Soeharto sekaligus memori kelam penduduknya.
Hingga kini Desa yang bernama Kemusuk ini masih ada dan dapat dikunjungi oleh warga. Gapura pintu masuknya pun terlihat tak berganti nama, setidaknya sejak Soeharto mengisi masa kecil beliau di desa ini.
Tidak jauh dari gapura mungil Desa Kemusuk di Jogja ini terdapat sebuah bangunan besar dengan dinding putih birunya yang mencolok di antara bangunan rumah dan pertokoan lainnya.
Baca Juga: Profil Desa Sidowarno di Klaten Jawa Tengah: Sarana Mengenal Wayang Lewat Budaya Lokal
Bangunan tersebut adalah museum yang dahulu menjadi rumah saksi kelahiran Jenderal Soeharto dari ibundanya yang bernama Soekirah.
Terlihat di dalamnya terdapat pendopo besar bergaya arsitek khas budaya Jogja dengan banyak tiang pancang yang menghiasi estetika bangunannya, sebagaimana dilansir dari YouTube Jalan Amrita.
Apabila kita melanjutkan perjalanan, tak jauh dari komplesk Desa Kemusuk, memori yang menyimpan kisah haru Soeharto berjuang melawan kemiskinannya.
Maka kita akan melihat ada sebuah pagar panjang bergaya klasik dengan dominan warna putih dan campuran hitam. Adapun di baliknya adalah makam Pule Rejo.
Makam Pule Rejo adalah tempat peristirahatan terakhir Ibunda Soeharto, Soekirah.
Rupanya desa kelahiran Presiden ke-2 RI ini tidak memiliki banyak perubahan. Pada berbagai sudutnya, masih terlihat areal persawahan yang nampak subur.
Suasana desanya pun masih dipenuhi warna hijau dari pepohonan, tanaman hias yang cantik, dan persawahan yang menjadi sumber utama penghasilan warga di Jogja ini.
Lokasi tepatnya berada di Jalan Kemusuk Sawo, Dusun Srontakan, Kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Namun, siapa sangka di balik tenangnya suasana asri desa kelahiran Soeharto, ternyata ada sejarah kelam yang tertinggal dan tercatat di memori penduduk desa tersebut.
Memori kelam yang dimaksud adalah peristiwa pembantaian besar di Desa Kemusuk pada 1 Maret 1949.
Ingatan buruk ini kembali diungkap dalam sebuah Seminar bertajuk “Kemusuk Berdarah dan Letkol Soeharto” yang digelar di Museum Purna Bhakti Pertiwi pada Kamis, 16 Maret 2023.
Kejahatan genosida di desa kecil Jogja ini dilakukan oleh kolonialis Belanda yang kala itu geram karena tidak berhasil menemukan Soeharto di daerah asalnya.
Sebagaimana diketahui bahwa pada 29 Desember 1948, Soeharto yang kala itu masih menjabat sebagai Letnan Kolonel diketahui sering menyerang pos militer Belanda.
Serangan tersebut disebut telah menelan banyak korban jiwa dari pihak tentara Belanda. Sejak itulah sejarah dimulai di Desa Kemusuk, Bantul, Jogja.
Sejarawan Noor Johan Nuh, dalam seminar tersebut, mengungkap bahwa seketika desa yang dikenal dengan suasana damai dan tenang berubah menjadi wilayah yang penuh dengan darah.
Pihak militer Belanda menyusuri rumah-rumah yang ada di kampung tersebut untuk menanyakan keberadaan Letkol Soeharto.
Namun jawaban yang diinginkan pihak tentara Belanda tak kunjung didapatkan, akhirnya pihaknya meletuskan senjata secara membabi buta.
Pembakaran rumah di kampung dilakukan secara besar-besaran dan jasad para warganya diletakkan ke rumah yang terbakar.
Tercatat sebanyak 202 orang tewas akibat kejahatan Genosida di Desa Kemusuk yang terlupakan banyak sejarah.***