

inNalar.com – Pemboikotan Rusia atas agresi militer yang dilakukan ke Ukraina tak terbatas hanya di dunia ekonomi dan politik. Terbaru, pada Jumat (25/02/22) UEFA memilih untuk memindahkan venue final Liga Champions musim 2021/22 ini.
Laga yang awalnya direncanakan akan dilaksanakan di St. Petersburg, Rusia, akan dipindahkan ke Paris, Prancis. Ini dilakukan sebagai bentuk boikot atas invasi Rusia ke Ukraina.
Pertandingan yang akan dilaksanakan pada Sabtu (28/05/22) mendatang, sebelumnya telah dijadwalkan untuk dimainkan di St. Petersburg, di sebuah stadion yang dibangun untuk Piala Dunia 2018 dan dibiayai oleh perusahaan raksasa Rusia, Gazprom, yang juga jadi sponsor utama badan pengatur UEFA.
Sebagai gantinya, laga pamungkas tersebut akan dilaksanakan di Stade de France, di pinggiran utara Saint-Denis, Paris, Prancis. Ini akan menjadi pertama kalinya bagi Prancis menjadi tuan rumah final Liga Champions sejak tahun 2006.
UEFA mengatakan telah membuat keputusan sebagai akibat dari eskalasi serius dari situasi keamanan di Eropa.
UEFA juga menyampaikan akan merelokasi semua pertandingan yang akan dimainkan di Rusia atau Ukraina, baik yang melibatkan klub atau tim nasional sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Salah satunya adalah pertandingan kandang Spartak Moscow versus Leipzig di leg kedua babak 16 besar Liga Europa, 17 Maret 2022 mendatang.
Baca Juga: Cintai Diri Sendiri dengan Self-love Language Ini
Langkah UEFA untuk memboikot Rusia akan memberikan tekanan baru pada badan sepak bola dunia, FIFA, untuk memindahkan pertandingan kualifikasi Piala Dunia yang akan diselenggarakan di Moskow pada Maret 2022 mendatang.
Sementara pada Kamis (24/03/22), federasi sepak bola dari Polandia, Republik Ceko dan Swedia menulis surat kepada FIFA yang menyerukan agar Rusia dilarang menjadi tuan rumah pertandingan play-off untuk Piala Dunia 2022.
Piala Dunia 2022 sendiri sedianya dijadwalkan pada Maret 2022 mendatang. Polandia sendiri dijadwalkan bermain melawan Rusia di Moskow pada 24 Maret 2022.
Jika Rusia memenangkan pertandingan versus Polandia, maka mereka akan menjadi tuan rumah dari pemenang pertandingan antara Ceko dan Swedia, dalam pertandingan untuk menentukan salah satu slot terakhir Eropa di Piala Dunia Qatar akhir tahun ini.
Baca Juga: Kehidupan Lala Berubah Semenjak Viral, Berikut Hal yang Menjadi Perhatian Orangtuanya
“Eskalasi militer yang kami amati membawa konsekuensi serius dan keselamatan yang jauh lebih rendah bagi tim sepak bola nasional dan delegasi resmi kami,” tulis federasi Polandia, Ceko, dan Swedia dalam pernyataan bersamanya.
Mereka meminta FIFA dan UEFA, yang memiliki otoritas atas gelaran tersebut untuk segera menghadirkan solusi alternatif.
Federasi sepak bola Rusia, yang dikenal sebagai RFU, bereaksi atas pernyataan tersebut. RFU marah atas keputusan untuk memindahkan semua pertandingan yang digelar di Rusia.
“Kami percaya bahwa keputusan untuk memindahkan tempat final Liga Champions ditentukan oleh alasan politik, RFU selalu berpegang pada prinsip ‘olahraga diluar politik’, dan dengan demikian tidak dapat mendukung keputusan ini.” kata presiden RFU, Alexander Dyukov.
Baca Juga: Pihak Facebook Blokir Akses Jaringan Media Pemerintah Rusia Akibat Nekat Invasi Ukraina
“RFU juga tidak mendukung keputusan untuk memindahkan pertandingan apa pun yang melibatkan tim Rusia ke wilayah netral karena melanggar prinsip olahraga dan melanggar kepentingan pemain, pelatih, dan penggemar.” Lanjut Dyukov. Alexander Dyukov juga diketahui merupakan kepala eksekutif Gazprom dan presiden klub Zenit-St. Petersburg.
UEFA dalam beberapa hari terakhir, telah dilobi secara intens oleh pejabat Inggris. Lobi tersebut terkait pemindahan final Liga Champions ke London. Namun, gagasan itu dengan cepat ditolak karena alasan logistik.
Alasan lain adalah UEFA khawatir jika hal ini akan menjadi alat politik bagi anggota parlemen Inggris, yang diketahui sering menggunakan sepak bola sebagai alat politik mereka baik di dalam dan luar negeri.
Menteri luar negeri Inggris misalnya, pada minggu ini menyarankan tim Inggris untuk memboikot pertandingan jika mereka lolos dan tidak dipindahkan dari Rusia.
Baca Juga: Kolaborasi TXT dengan Salem Ilese dan Alan Walker di Lagu PS5 Bikin Candu, Berikut Liriknya
Paris muncul sebagai kandidat teratas untuk menggantikan St. Petersburg karena tidak menjadi tuan rumah pertandingan tersebut sejak 2006. Selain itu juga karena Prancis saat ini memegang jabatan presiden bergilir Dewan Uni Eropa, salah satu badan pembuat keputusan utama blok barat.
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, diketahui telah melakukan perjalanan ke ibukota Prancis pada Kamis kemarin untuk bertemu dengan presiden Prancis, Emmanuel Macron. Lawatan Ceferin ke Paris bertujuan untuk menyelesaikan kesepakatan pemindahan partai final Liga Champions Eropa 2021/22.
Baca Juga: Kata Joe Biden ‘Perang Dunia Ketiga’ Jadi Alternatif Sanksi untuk Rusia dan Vladimir Putin
Ini akan menjadi pemindahan venue final Liga Champions yang ketiga secara berturut-turut, dengan dua edisi sebelumnya dipindahkan ke Portugal karena masalah virus corona. Final di Paris juga akan menjadi yang pertama kalinya sejak merebaknya virus corona, dengan pertandingan yang akan dimainkan dengan penonton penuh.
Sebelumnya pada final Liga Champions 2020, laga tersebut dimainkan tanpa penonton karena alasan pandemic. Sementara pada laga final tahun lalu, pemerintah Portugal memperbolehkan pertandingan tersebut untuk dihadiri penonton dengan pembatasan kapasitas hanya seperempat kursi di stadion Dragão, Porto.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi