

inNalar.com – dr Zaidul Akbar, dalam salah satu sesi pembahasan kajian ilmiahnya, mengulas perbedaan antara intermittent fasting dan puasa dalam metode pola makan bagi kaum diet yang sedang berkembang di tengah masyarakat.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa puasa merupakan bagian dari bentuk ibadah yang disyari’atkan dalam Islam. Lantas apakah puasa ini sama dengan konsep diet intermittent fasting? Mari simak pembahasan dr Zaidul Akbar berikut ini.
Menurut dr Zaidul Akbar, diet intermittent fasting dan puasa pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu terdapat ruang waktu di mana kita dibolehkan makan dan ada sebagian waktu di mana kita dilarang untuk makan.
Baca Juga: Prospek Piala Dunia U-20 Jadi Peluang Penawaran Untuk Jendela Transfer Bagi Tim-tim Besar di Eropa
Lebih lanjut, dr Zaidul Akbar menyebut pola ruang waktu untuk makan dan puasa itu disebut sebagai pola jendela makan.
Adapun diet intermittent fasting, menurut penjelasan dr Zaidul Akbar, yaitu pola makan 16/8. Maksudnya, kita berpuasa selama 16 jam, sedangkan 8 jam sisanya menjadi jendela waktu makan baginya.
Sebagai gambarannya, diet intermittent fasting dengan pola makan 16/8 ialah ketika kita mulai puasa pada pukul 6 malam hingga pukul 10 pagi keesokan harinya. Kemudian kita dibolehkan makan pada rentang waktu jam 10 pagi hingga maksimal jam 6 malam berikutnya.
Baca Juga: Hari Raya Idul Adha 2023: NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah akan Berbeda?
Adapun porsi waktu intermittent fasting, kata dr Zaidul Akbar, tergantung dengan pola jendela makan yang dipilih para kaum diet. Adapun mengenai puasa, pelaksanaannya sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam.
Yaitu, kita melakukan puasa dimulai sejak adzan subuh berkumandang hingga maghrib tiba dan dilaksanakan pada hari tertentu.
Pada dasarnya, konsep jendela makan pada diet intermittent fasting sama dengan konsep puasa dalam Islam, kata dr Zaidul Akbar.
Hanya saja yang membedakan antara intermittent fasting dengan puasa ialah letaknya pada niat, ujar dr Zaidul Akbar.
Menurut dr Zaidul Akbar, ketika kita melakukan puasa, tentunya kita wajib berniat terlebih dahulu agar bernilai ibadah dan amal, sedangkan intermittent fasting tidak demikian.
“Apakah (keduanya) mirip? mirip. Cuma kalau puasa ada niat, kalau intermittent fasting kan nggak ada niat,” kata dr Zaidul Akbar.
Baca Juga: Rumor Transfer: Liverpool, Arsenal Dan West Ham United Saling Sikut Demi Joao Palhinha
Menurut dr Zaidul Akbar menjelaskan bahwa konsep diet intermittent fasting berbeda dengan puasa, meski dilihat dari pola penerapan waktu jendela makannya mirip.
Menurutnya, kita lebih baik mengoptimalkan puasa wajib atau sunnah dibanding intermittent fasting.
Pasalnya, puasa memiliki nilai plus amal dan ibadahnya tersendiri di hadapan Allah, sedangkan tidak demikian dengan intermittent fasting.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi