Sering Tertipu di Medsos? Ini Dia Alasan Banyak Generasi Muda yang Bepura-pura pada Media Sosial


inNalar.com – Seiring interaksi sosial sudah mengalami banyak sekali perubahan, hal tersebur dipengaruhi oleh laju pekembangan teknologi yang semakin pesat.

Seperti yang kita tahu, kini orang-orang sudah tidak perlu lagi berkumpul ditempat yang sama untuk bisa berinteraksi satu sama lain. Sosial media kini menjadi ruang berkumpul orang-orang untuk saling berinteraksi.

Sosial media seolah membuka dan menghilangkan batasan jarak diantara orang-orang, karena dengan sosial media orang-orang bisa saling menjangkau, berinteraksi, bahkan berkenalan meskipun berada dibelahan dunia yang berbeda.

Baca Juga: Sering Mengalami 10 Masalah Ini? Jangan Sedih, Itu Pertanda Kamu Punya Tingkat Kecerdasan Tinggi

Tidak secara langsung sosial media seperti menjadi dunia kedua bagi seseorang. Hingga akhirnya muncul fenomena persona online atau persona digital yang dimiliki seseorang.

Fenomena ini adalah sesuatu yang baru dan ditemukan pada generasi muda saja. Fenomena ini tumbuh di ruang yang dimana tidak ada generasi sebelumnya yang menetapkan aturan.

Pada masa orang tua kita atau orang pada generasi sebelumnya tumbuh dewasa, orang-orang mungkin hanya memilki satu personaliti saja. Yaitu persona yang ditunjukan pada keluarga, teman, dan orang sekitar.

Baca Juga: Inilah Urutan 12 Shio dalam Astrologi China Beserta Kepribadiannya: Apa Shio Kamu?

Meskipun kita memberikan respon atau menunjukkan prilaku berbeda pada beberapa orang, namun hal tersebut tidak mengubah ataupun persona yang kita miliki.

Berbeda dengan masa kini, yaitu era generasi internet. Orang-orang yang tumbuh dewasa berdampingan dengan ponsel pintar juga media sosial, cenderung memiliki dua atau lebih persona.

Generasi ini dapat menjalani keseharian mereka bersama orang lain secara online. Bahkan dapat saling mengenal secara dekat meskipun berada di belahan dunia yang lain. Selayaknya menjalin interaksi sosial dengan teman dekat yang biasa ditemui setiap hari.

Baca Juga: Kolaborasi BRI dan IPB University Perkuat Program Pemberdayaan Masyarakat

Mungkin terdengar positif tapi kondisi ini menimbulkan masalah juga pada kita sebagai generasi internet. Diri kita mungkin tetap terlihat, terdengar, dan memiliki impian juga aspirasi yang sama. Namun nyata nya tidak sepenuhnya sama.

Memang sedikit membingungkan, namun pada sosial media kita bisa membagikan ekspresi atau hal pada diri kita secara online dengan leluasa dibandingkan dengan secara nyata. Dan orang-orang di generasi ini cenderung hanya akan menyorot hal yang menonjol dari diri mereka saja.

Ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri memang bukanlah sesuatu yang salah, dan bahkan semua orang pun cenderung menginginkan nya. Namun hal ini juga memberi dampak pada diri kita selaku generasi internet.

Saat kita secara hati-hati memilih setiap gambar atau video yang akan kita bagikan, persona online kita akan mulai muncul dan mengambil bentuk berbeda dari diri kita yang sebenarnya secara offline.

Hal ini bisa saja bukan sesuatu yang besar dan cenderung akan baik-baik saja, namun manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memdabakan validasi atas diri mereka.

Kita tidak secara langsung mengubah hal ini layak nya sebuah kompetisi yang sangat mempengaruhi persepsi dalam diri kita. Hingga kita menggantungkan harga diri pada jumlah komentar, like, atau views yang kita dapatkan.

Kita hanya menilai, belajar, dan mengulang hingga akhirnya lebih menjadi merk dagang dibandingkan sebuah kepribadian yang tentu saja itu bukalah hal yang baik. Karena lupakan diri kita yang sebenarnya.

Keunikan pada seseorang tidak selalu soal hal baik yang dapat mendapatkan banyak like atau komentar. Manusia dapat menjadi unik karena memiliki kekurangan pada diri mereka.

Hal yang dibutuhkan generasi ini adalah perpektif lain, kita mungkin tetap bisa menggunakan sosial media, namun menyadari bahwa akan selalu ada perbedaan antara diri kita secara online dan offline. Kita harus betul-betul menyadari bahwa jumlah angka pada sosial media tidak memberikan validasi diri kita sebagai manusia dan kita tidak bisa menggantungkan kebahagian pada hal tersebut.

Kebahagian yang kita dapat haruslah berasal dari sesuatu di dunia nyata bukanlah dari dunia maya. Kita dapat menjadi autentik secara online, tapi kita juga harus mengingat bahwa dibalik semua sorotan tersebut, kita semua sangatlah tidak sempurna.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]