Sering Dikira China, Sub-Etnis Suku Dayak di Kalimantan Utara Ini Pernah Muncul di Uang Pecahan Rp75 Ribu

inNalar.com – Salah satu suku asli Kalimantan Utara ada yang sering dikira sebagai keturuan China.

Suku tersebut adalah Suku Tidung dan merupakan salah satu suku di Kalimantan Utara yang memeluk agama Islam.

Suku Tidung juga merupakan salah satu sub-etnis dari suku Dayak Murut. Nama Tidung berasal dari kata tiding atau tideng yang memiliki arti bukit atau gunung.

Baca Juga: Ditargetkan Rampung November 2023, Dana Proyek Pelebaran Alur Tano Ponggol di Danau Toba Capai Rp36,8 Miliar

Hal ini menggambarkan bahwa suku Tidung berasal dari wilayah pegunungan yang kemudian menyebar hingga ke daerah pesisir pantai dan pulau-pulau di sebelah timur.

Masyarakat suku Tidung tersebar di wilayah Kalimantan Utara, Indonesia hingga Malaysia.

Saat ini, Kalimantan Utara sendiri suku Tidung banyak bermukim di beberapa wilayah seperti Tarakan, Nunukan, dan Tanjung Selor.

Baca Juga: Biayanya Mencapai Rp1 Triliun, Stadion Bertaraf Internasional di Banten Ini Tak Kunjung Dipakai, Alasannya…

Suku Tidung ini pernah jadi perbincangan masyarakat luas saat perilisan uang pecahan Rp75.000 di HUT ke-75 Indonesia.

Hal ini karena suku Tidur sekilas terlihat seperti keturunan China, namun, pada kenyataanya, suku Tidung adalah suku asli Kalimantan Utara, bukan dari China.

Keturunan suku Tidung kebanyakan memiliki mata sipit yang mirip dengan keturunan China.

Baca Juga: Telan Dana Rp14,7 Triliun, Smelter Tembaga di Sumbawa Ini Diramalkan Mampu Produksi 900 Ribu Ton Konsentrat

Sedangkan pakaian adat yang sekilas terlihat mirip dengan mahkota raja China tersebut adalah merupakan bagian dari pakaian khas suku Tidung.

Dilansir inNalar.com dari tanatidungkab.go.id, pakaian khas yang muncul di pecahan uang Rp 75.000 tersebut adalah pakaian khas Sina Beranti.

Sina Beranti adalah pakaian khas yang dikenakan oleh pengantin pria suku Tidung.

Baca Juga: Dibangun Belanda 100 Tahun Lalu, Kilang Minyak Plaju di Palembang Ini Jadi yang Tertua se-Indonesia

Pakaian ini hanya digunakan oleh pengantin pria dalam pernikahan masyarakat muslim saja.

Sedangkan pakaian adat pengantin wanita suku Tidung bernama Antakusuma. Tentunya, kedua baju adat ini memiliki makna dan filosofi mereka masing-masing.

Pakaian khas Sina Beranti memiliki arti sebagai prinsip hidup. Mahkota yang dikenakan oleh kedua pengantin memiliki nama Tanduk Gelung.

Baca Juga: Kucurkan Dana Rp2,7 Triliun, Jalan Sepanjang 450 Km di Sumatera Utara Bakal Mulus, Lokasi Deli Serdang dan…

Mahkota ini memiliki makna untuk mendatangkan rezeki, menghindarkan dari bencana, kedamaian, serta kesejahteraan.

Selain itu, juga ada ornamen lain bernama Sulou dan Khalid. Keduanya adalah gelang yang dipakai oleh pengantin dan termasuk ke ornamen pakaian khas suku Tidung.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]