Serap 5.450 Pekerja Asli Papua, Megaproyek Tangguh Train 3 Lecut Kapasitas Produksi Kilang Gas di Papua Barat Jadi 11,4 Juta Ton, Biaya Investasinya..

inNalar.com – Megaproyek Kilang LNG Tangguh Train 3 di Papua Barat ini akhirnya resmi beroperasi secara komersial.

Itu artinya, kapasitas produksi kilang gas di Kabupaten Teluk Bintuni ini bertambah 3,8 juta ton per tahun.

Dengan begitu, total produksi dari seluruh unit Kilang Tangguh LNG bisa mencapai 11,4 juta ton per tahun.

Baca Juga: Pakai Anggaran Pusat Rp329 Miliar, SPAM Baru di Semarang Barat Ini Siap Jadi Pilot Project Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Perpipaan

Kapasitas jumbo yang bakal terpasang ini mampu mengisi peran 35 persen dari total produksi nasional.

Sebagai permulaan informasi, Megaproyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengembangkan fasilitas produksi gas alam cair di Indonesia.

Berkat Proyek Tangguh Train 3, terdapat penambahan dua anjungan lepas pantai, adanya dermaga LNG dan 13 sumur produksi yang baru.

Baca Juga: Baru Rampung, 2 Infrastruktur SDA di Magelang Ini Diramal Jamin Ketersediaan Air Baku hingga Tekan Banjir Lahar dari Gunung Merapi

Pengerjaannya membutuhan nilai investasi yang sangat besar, yakni mencapai USD 4,83 miliar atau Rp72,45 triliun.

Alasan di balik begitu pentingnya Kilang Gas di Papua Barat ini adalah karena 75 persen dari produksi tahunan LNG dipasok ke PT PLN (persero).

Artinya ada 3.000 Mega Watt (MW) yang dipenuhi dari kilang ini untuk kebutuhan listrik dalam negeri.

Baca Juga: Diplomat Iran Temui Sekjen PBB Singgung Konflik Panas di Palestina, Gaza Berpotensi Dihantui Krisis Pangan

Fokus pasokannya akan melayani pasar domestik dan disebut mampu penuhi kebutuhan listrik bagi 18 juta rumah.

Kemajuan progres megaproyek ini sangat mencerahkan masa depan ketahanan energi gas nasional, terkhusus bagi tanah Papua sendiri.

Alokasi gas yang difungsikan sebagai pasokan listrik Papua mencapai 20 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Baca Juga: Habiskan Biaya 1 Juta Gulden, Masjid Megah di Medan Sumatera Utara Ini Dirancang Arsitek Belanda, Siapa?

Dengan harapannya pula hingga 2029, akan ada 85 persen tenaga kerja putra daerah yang terserap dalam megaproyek ini.

Sejauh ini daya serap tenaga kerja asli Papua mencapai 5.450 pekerja dengan porsi sejauh ini sudah mencapai 70 persennya.

Sebagai informasi, progres pengerjaan kilang gas di Papua Barat ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2016.

Baca Juga: Klasemen Timnas Indonesia di Grup D Piala Asia 2023: Tertahan di Peringkat 3, Adu Nasib Perebutkan Babak 16 Besar

Pengerjaannya sempat tersendat karena kondisi pandemi COVID-19, tetapi berkat komitmen kuat Megaproyek Tangguh Train 3 berhasil terwujud.

Kilang gas alam cair ini dikelola oleh BP Berau Ltd yang merupakan kontraktor utama bagi SKK Migas.

Perusahaan migas tersebut diketahui mendominasi porsi saham, “BP memegang saham mayoritas, yakni 37,16%,” dikutip dari Kementerian ESDM.

Baca Juga: Investasi Rp89 Triliun, Emiten Asal China Bangun Smelter Aluminium di Bintan Kepulauan Riau Demi Bidik Pasar 3 Benua

Adapun BP Berau Ltd turut menggaet sejumlah kontraktor lainnya, yaitu CNOOC Muturi Ltd, Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc, dan KG Berau.

Selanjutnya ada MI Berau BV, Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd, dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd.***

Rekomendasi