Serangan Umum 1 Maret, Kala Ibukota Yogyakarta Diduduki Belanda

inNalar.com –  Serangan umum 1 Maret 1949 merupakan sebuah respon atas Agresi Militer Belanda ke-II yang menjadikan Yogyakarta sebagai sasaran utamanya. Saat itu, Yogyakarta menjadi ibu kota Indonesia karena situasi di Ibu Kota Jakarta tidak aman setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelah kota Yogyakarta diduduki, Belanda berturut-turut berusaha menduduki kabupaten-kabupaten sekitar Kota Yogyakarta yaitu Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan akhirnya Gunung Kidul. 

Pada akhir bulan Januari Sultan Hamengku Buwono IX menangkap berita radio bahwa permulaan Maret akan diadakan sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa -bangsa (PBB) yang juga akan membahas masalah Indonesia.

Baca Juga: Tradisi Unik di Bulan Ramadhan yang Dilakukan di Rusia: Puasa Hingga 22 Jam

Pada awal Februari Sultan Hamengku Buwono IX berkirim surat kepada Jenderal Sudirman untuk meminta izin agar diadakan suatu serangan umum tetapi pada siang hari.

Jenderal Sudirman menyetujuinya dan Sultan Hamengku Buwono IX diminta berhubungan langsung dengan komandan yang bersangkutan yaitu Letkol Soeharto.

Pada waktu itu Soeharto masih menjadi Komandan Brigade 10/Wehrkreise III. Tanggal 14 Februari 1949 Letkol Soeharto masuk kota dan diterima oleh Sultan Hamengku Buwono IX di Dalem Prabuningratan.

Tempat tersebut yang menjadi pertemuan empat mata antara Sultan Hamengku Buwono IX dengan Letkol Soeharto. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan untuk mengadakan Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk membuktikan ke pada dunia khususnya Dewan Keamanan PBB dan memulihkan kepercayaan rakyat Indonesia bahwa TNI masih ada dan masih kuat.

Baca Juga: Abu Thalib, Orang Pertama di Dunia yang Meyakini Peristiwa Isra Miraj, Ini Dalil-dalilnya

Setelah perencanaan yang matang, tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dimulai, dengan fokus serangan adalah Ibukota Republik, Yogyakarta.

Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro.

Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki sebagai pimpinan.

TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula, seluruh pasukkan TNI mundur.

Baca Juga: Promosi Album Baru Weekly Play Game: AWAKE akan Dilakukan Tanpa Shin Jiyoon, Ini Alasannya

Serangan Umum 1 Maret 1949 terbukti ampuh untuk mengalahkan Belanda dan kembali merebut Yogyakarta. Belanda merasa terkejut dan kurang persiapan dalam menghadapi serangan ini sehingga perlawanan yang diberikan kurang begitu berarti.

TNI berhasil menguasai selama kurang lebih 6 jam dari jam 06.00 pagi sampai 11.00.

Berita kemenangan ini segera disebarkan lewat radio PC2 di Playen kemudian diteruskan ke pemancar di Bukit Tinggi, kemudian diteruskan oleh sebuah pemancar militer di Birma (Myanmar) ke New Delhi (India) lalu sampai pada PBB yang sedang bersidang di Amerika Serikat.

Baca Juga: Putuskan Bersalin di Amerika, Nikita Willy akan Ditangani oleh Dokternya Kylie Jenner

Serangan Umum 1 Maret 1949 membawa dampak yang sangat besar bagi pihak Indonesia yang sedang bersidang di Dewan Keamanan PBB.

Setelah cukup lama berunding dan sampai pada puncaknya di 29 Juni 1949, kota Yogyakarta mulai bersih dari kawanan tentara Belanda yang berhasil dipulangkan.

Momentum ini menjadi penanda bahwa Yogyakarta telah kembali resmi menjadi bagian wilayah Republik Indonesia, secara berangsur pula saat itu para pemimpin serta tokoh negara pun kembali ke Yogya.

Pemerintahan baru pun mulai ditata dan berjalan pada 1 Juli 1949, lalu disusul oleh kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.***

Rekomendasi