

inNalar.com – Di tengah pesimistis terhadap progres pembangunan smelter bauksit yang terkesan mandek, ternyata masih ada Pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) di Kepulauan Riau yang telah menjadi tumpuan pendapatan daerahnya.
Fasilitas pengolah bauksit menjadi SGA ini dibangun oleh PT Bintan Alumina Indonesia dan mulai ekspor perdana pada tahun 2021.
Setelah menghabiskan 3 tahun pengerjaan proyek ini, akhirnya smelter bauksit di KEK Galang ini berhasil terbangun dan menjadi yang pertama berdiri di Kepulauan Riau.
Smelter ini mengawali pengiriman produk olahan bauksitnya ke Malaysia sebesar 70.000 ton dengan nilai transaksinya sebesar USD 21 juta.
Hingga sepanjang tahun pertama pabrik ini berhasil pasok hasil produksinya sebesar 550.000 ton dengan total nilainya mencapai USD 212 juta.
Pada tahun kedua operasional smelternya, pihak perusahaan melakukan ekspor perdana alumina senilai Rp104 miliar.
Seiring berjalannya waktu, Smelter Bauksit PT Bintan Alumina Indonesia rutin memasok hasil produksinya ke Malaysia dan China.
Bahkan sepanjang tahun 2023, perusahaan pengelola pabrik ini mencatatkan nilai ekspor produksinya mencapai Rp9,4 triliun.
Demi hasilkan produk berkualitas tinggi, pemilik smelter mengambil pasokan bahan baku bauksit dari Kalimantan.
Pasalnya kadar alumina yang ada di dalam sumber daya bauksit Kalimantan dinilai cukup tinggi dan memiliki kualitas terbaik.
Di samping penuhi pembangunan smelter bauksit, PT Bintan Alumina Indonesia juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Total nilai investasi untuk seluruh fasilitas operasional itu mencapai Rp30 triliun.
Pada tahun pertama, kapasitas produksi pabrik bauksit ini sebesar 1 juta ton Smelter Grade Alumina (SGA) per tahun.
Kemudian seiring pengembangan dilakukan hingga tahun selanjutnya, smelter pertama di Kepulauan Riau ini bakal menargetkan kapasitas produksi mencapai 2 juta ton per tahun.
Adapun tenaga kerja yang telah diserap dalam proses pengoperasiannya sebanyak 2.000 orang dari tenaga lokal dan 1.194 orang dari tenaga asing.
Dengan dukungan lokasi strategis dari KEK Galang di Bintan ini, diharapkan pengembangan hilirisasi bauksit terus menggurita hingga produk aluminium ingot.
Agar nilai tambah dari komoditas bauksit bisa mengganda hingga 16 kali lipat.
Sebagaimana diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dari setiap penggunaan 6 ton bauksit yang diolah nantinya akan ada 2 ton Smelter Grade Alumina.
Selanjutnya dari 2 ton SGA itu harapannya mampu menghasilkan 1 ton aluminium ingot.
Apabila harga per ton bauksit diibaratkan sebesar USD 31,37, maka tentunya setiap 6 ton bauksit akan menghasilkan total USD 188,22.
Apabila nantinya mampu menghasilkan 2 ton SGA senilai USD 770, maka kenaikan nilainya menjadi 4 kali lipatnya.
Menurut Menko Airlangga Hartarto, tentu saja nilai produk akan berkali lipat mengganda apabila olahannya diteruskan hingga produksi aluminium ingot.
Adapun PT Bintan Alumina Indonesia terus mengekspansikan nilai tambah produksinya dengan target pengembangan smelter penghasil aluminium ingot berkapasitas 250.000 ton pada tahun 2025.
Dengan harapan tertingginya di tahun 2027, kapasitas produksi aluminium ingot bisa mencapai 500.000 ton per tahun.
Usai melalui permasalahan klaim lahan yang menyendat progres pembangunannya, akhirnya penggunaan lahan seluas 2.300 hektare telah menyumbang pendapatan bagi daerahnya.
“Ada kendala sedikit terkait klaim lahan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai penggarap lahan,” ungkap Direktur Utama PT Bintan Alumina Indonesia.***