

inNalar.com – Tahukah bahwa proyek trem listrik dahulu sempat berjaya di Jakarta setidaknya mulai April 1899.
Pihak pengelolanya adalah perusahaan swasta Belanda yang dahulu bernama Batavia Electrische Tram Maatshappij (BETM).
Uniknya perjalanan lini masa perusahaan tersebut sempat alami gonta-ganti nama.
Salah satu faktornya karena dahulu Indonesia sempat mengalami perpindahan kependudukan dari zaman penjajahan Belanda ke Jepang.
Jadi mulanya BETM ini menggeliatkan proyek trem listrik di kawasan Jakarta guna mempermudah akses mobilitas di kota tersebut.
Untuk merealisasikannya biaya yang ditelan kala itu mencapai 1,6 juta gulden Belanda.
Kemudian pada tahun 1929, BETM melakukan aksi merger dengan sebuah perusahaan swasta penggarap trem uap.
Nama perusahaan trem uap itu adalah Indische Tramweg Maatschappij (NITM).
Dari hasil merger tersebut, akhirnya pengelola trayek trem listrik di Jakarta berubah nama menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).
Perubahan drastis terjadi tatkala bala tentara Jepang mulai menduduki Indonesia dan mengambil alih proyek trem listrik tersebut.
Nama yang berbau Belanda tersebut banyak diubah oleh kolonialis Jepang hingga sistem transportasi dan trayeknya pun juga ikut diganti.
Pada zaman pendudukan Jepang, perusahaan yang mengelola moda transportasi ini berganti nama menjadi Rikuyu Sokyoku.
Baca Juga: Proyeksi Anggarannya Rp10 Triliun, UEA Tertarik Lakukan Investasi Proyek Kereta Bawah Tanah di Bali
Tidak lama berselang, namanya berganti lagi menjadi Rikuyo Kioko Batavia Shiden.
Setidaknya hingga tahun 1929, ketika pengelolaannya masih di bawah kolonial Belanda, total panjang rel trem listrik di Indonesia tercatat sepanjang 7.464 kilometer.
Lebih merincinya, 4.089 kilometernya statusnya milik pemerintah dan sisanya dimiliki oleh pihak swasta.
Namun pada saat pengelolaan trem listrik diambil alih Jepang, terdapat setidaknya 473 kilometer yang dirombak.
Usut punya usut, perombakan rel tersebut dipindahkan ke Burma guna pembangunan proyek kereta api barunya.
Kabar gembiranya, pada awal September 1945 akhirnya Indonesia berhasil merebut pengelolaan proyek ini sehingga namanya berubah lagi menjadi Tram Djakarta – Kota.
Namun berubah nama lagi menjadi BVM karena Belanda sempat merebut kembali pengelolaannya.
Pada saat kemerdekaan berhasil diraih secara sempurna, akhirnya BVM dinasionalisasikan dan berubah nama menjadi Maskapai Pengangkutan Djakarta.
Selanjutnya berubah lagi menjadi Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD).***