

inNalar.com – Jakarta dan polusi buruknya jadi perbincangan hangat akhir-akhir ini , bahkan para kreator konten di jejaring sosial ramai-ramai membuat video dari dalam pesawat, membandingkan udara dari atas langit Jakarta dengan kota lain.
Tentu saja, langit kota Jakarta terlihat lebih hitam seolah mendung padahal saat itu cuaca sedang cerah. Tak hanya dapat dilihat dari pesawat, di jalanan pun masyarakat Jakarta akan menyadari bahwa udara Jakarta sedang tidak baik-baik saja.
Asap dari knalpot kendaraan sering dianggap jadi penyebab utama polusi, khususnya di Jakarta. Namun ternyata penyebab buruknya kualitas udara Jakarta ini cukup kompleks.
Baca Juga: Digadang-gadang Tingkatkan Ekonomi, Bandara 350 Miliar di Jawa Tengah Ini Justru Sepi Penumpang
Sebagaimana diilansir dari beberapa sumber terpercaya, bahwa penyumbang utama polusi di Jakarta berasal dari sektor industri pembangkit listrik (PLTU) dan pabrik.
Sampai saat ini kurang lebih ada 16 PLTU yang dibangun di sekitaran Jakarta, 10 di wilayah Banten dan 6 di wilayah Jawa Barat. Asap yang dihasilkan oleh banyaknya PLTU berdampak buruk pada kualitas udara Jakarta.
Belum lagi pembangunan pabrik yang kian masif, hingga 2019 tercatat ada 418 pabrik berada di radius 100 km dari ibu kota. Sebagian pabrik tersebut berfokus di bidang produksi semen, kaca, penyulingan minyak dan gas, plastik, dan lain sebagainya.
Perlu diketahui, hasil pembakaran pembangkit listrik berbahan fosil dan pabrik tidak hanya menghasilkan pencemar CO2 tapi menghasilkan zat-zat lain yang mengancam kesehatan.
Adapun penyakit yang disebabkan polusi udara di antaranya: Branchopneumonia, asma, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), Pneumonia, hingga kanker paru.
Selain PLTU dan industri manufaktur, polusi di Jakarta juga disebabkan oleh hal-hal lain seperti asap kendaraan, banyaknya gedung bertingkat, hingga musim kemarau.
Dilansir dari jakarta.bps.go.id, sampai 2020 jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 20.221.821 unit. Adapun presentasinya adalah 79,83% sepeda motor, 16,64% mobil penumpang, 3,36% truk dan 0,17% bus.
Polusi udara di Jakarta diperparah oleh musim kemarau, selain itu embusan angin yang rendah serta banyaknya gedung bertingkat juga menyebabkan polutan terjebak di satu wilayah saja.
Mengacu pada situs iqair.com, indeks kualitas udara Jakarta pada 21 Agustus 2023 pukul 21:00 WIB berada di angka 100 dengan konsentrasi PM 2.5 |35.3µg/m3.
Meski memasuki kategori sedang, indeks kualitas udara di Jakarta masih termasuk tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Demi melindungi diri dari polusi, sebaiknya kelompok sensitif mengenakan masker saat berada di luar, menyalakan penyaring udara, menutup jendela, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Terhitung sejak 21 Agustus 2023, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan WFH untuk ASN guna mengurangi polusi udara dan juga kemacetan.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi