Sekilas Tentang Honai, Rumah Khas Suku Dani di Papua yang Asal Usulnya Terinspirasi dari Sangkar Burung

 

inNalar.com – Papua menjadi salah satu provinsi terluas di Indonesia dan sebagai rumah beragam suku bangsa.

 
Menurut data dari Pemerintah Provinsi Papua diperkirakan jumlah suku yang mendiami Indonesia bagian Timur ini sekitar 225.
 
Melansir informasi dari YouTube KabarPedia salah satu suku yang terbesar di Papua adalah suku Dani. Jumlah suku Dani yang berada pegunungan tengah ini sebanyak 6000 jiwa. 
 
 
Seperti suku yang lainnya, mereka memiliki bahasa sendiri dan masih bertahan hingga sekarang.
 
Mereka dikenal memiliki rumah khas tersendiri yang sering disebut Honai. 
 
Honai adalah sebutan hunian untuk kaum laki-laki. Sedangkan Ebeai merupakan hunian bagi kaum perempuan di Papua.
 
 
Honai berupa hunian berbentuk bulat seperti jamur yang terbuat dari kayu dengan atap jerami tersusun rapi.
 
Tinggi rumah Honai sekitar 2,5 meter dan dibuat agak sempit serta tidak berjendela.
 
Konsep ini bertujuan untuk menahan hawa dingin di tengah kawasan Papua. 
 
 
Menariknya, kendati memiliki diameter yang mungil, Honai terbagi menjadi 2 lantai. 
 
Biasanya lantai bawah sebagai tempat tidur dan lantai atas digunakan untuk aktivitas makan, bersantai atau membuat kerajinan.
 
Rumah Honai menjadi tempat menyimpan alat perang atau berburu dan untuk melatih anak laki-laki menjadi lebih kuat.
 
Selain itu, kaum perempuan juga tidak diperbolehkan untuk tidur di rumah Honai walaupun mereka pasangan suami istri. 
 
Sebelumnya, suku Dani tidak tinggal di hunian tetapi di pepohonan besar. Ini membuat mereka kedinginan saat musim hujan.
 
Suatu hari, mereka mengamati burung yang membuat sarang. Biasanya burung akan memunguti kayu dan ranting untuk dibentuk bulat.
 
Oleh karena itulah, kemudian masyarakat Dani membuat rumah Honai.
 
Itulah asal mula terbentuknya rumah Honai yang saat ini masih kokoh berdiri untuk hunian suku Dani, Papua.***

Rekomendasi