Sejarah Singkat Munculnya NII di Indonesia, Kelompok Radikal yang Diduga Berafiliasi dengan Panji Gumilang

inNalar.com – Negara Islam Indonesia (NII) telah menjadi topik yang hangat diperbincangkan baru-baru ini, terutama setelah munculnya berbagai kontroversi yang melibatkan Pondok Pesantren Al Zaytun.

Ada hubungan yang disebutkan antara pimpinan Ponpes Al Zaytun, yaitu Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, dengan NII.

Dugaan adanya jejak Panji Gumilang dan Ponpes Al Zaytun dalam jaringan NII membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) semakin tertarik untuk menyelidiki lebih lanjut.

Baca Juga: Benarkah Bernyanyi Bisa Turunkan Gula Darah dan Sembuhkan Diabetes Melitus? Ini Kata dr. Hans Tandra

Negara Islam Indonesia (NII) didirikan oleh Sekarmadhi Maridjan (SM) Kartosoewirjo pada tanggal 7 Agustus 1949.

Pendirian NII ini merupakan hasil dari kekecewaan Kartosoewirjo terhadap pemerintah Indonesia pada saat itu.

Meskipun Kartosoewirjo ikut berperan aktif dalam perang merebut kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945-1949, sikapnya sering bertentangan dengan pemerintah.

Baca Juga: Perempat Final Euro U-21 2023: Timnas Spanyol Susah Payah Ladeni Swiss, Israel Tumpas Perlawanan Georgia

Pada waktu itu, Kartosoewirjo menolak untuk melakukan long march ke Jawa Tengah sebagai konsekuensi dari Perjanjian Renville.

Namun, Kartosoewirjo menolak tegas perintah long march tersebut dan menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap Indonesia.

Berdasarkan penolakannya ini, ia kemudian mendirikan NII yang juga dikenal dengan nama Darul Islam.

Baca Juga: Manfaat Daun Salam Bagi Kesehatan:Turunkan Gula Darah dan Berbagai Penyakit Komplikasi

Pendirian NII ini menjadi bentuk perlawanan Kartosoewirjo terhadap pemerintah Indonesia. Ia menganggap bahwa pemerintah tidak mengindahkan kehendak rakyat dan mengekang kebebasan agama.

Dengan mendirikan NII, Kartosoewirjo berharap dapat menciptakan negara yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.

Usaha pemerintah untuk menghentikan NII dan gerakan DI/TII mencapai puncaknya pada Juni 1962, ketika Kartosoewirjo ditangkap oleh pasukan keamanan. Ia kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati pada bulan September tahun yang sama.

Eksekusi Kartosoewirjo menandai berakhirnya kepemimpinan aktif NII dan gerakan DI/TII. Namun, meski Kartosoewirjo telah dieksekusi, beberapa kelompok sempalan NII tetap muncul di Indonesia.

Pemerintah Indonesia melakukan tindakan keras untuk menghentikan pergerakan NII.

Apalagi akhir-akhir ini muncul dugaan adanya hubungan Panji Gumilang dan Ponpes Al Zaytun dengan NII.***(Muhammad Tri Putra Agustino)

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]