Sejarah Hallyu Part IV, Kebijakan Presiden Roh Moo-hyun Suntikkan 2 Triliun Won Pasca Jewel of the Palace

inNalar.com – Hallyu mengalami perkembangan yang signifikan pada periode pemerintahan Presiden Roh Moo hyun (2003-2008).

Korea Selatan berambisi untuk terus menyebarkan kebudayaan Hallyu ke seluruh penjuru dunia, Roh bahkan menyuntikkan dana dengan jumlah fantastis, hingga 2 triliun won untuk mewujudkan Korean Wave Hollywood.

Namun demikian, usaha dan pendekatan pemerintah Korea tersebut tidak serta merta terbebas dari kritik. Sebagian pihak melihat ini hanyalah sebuah bentuk modifikasi budaya untuk kepentingan-kepentingan komersil maupun diplonasi intermasional (softpower).

Baca Juga: Sejarah Hallyu Part I, Awal Munculnya Istilah Korean Wave, Ketika Korea Selatan Menjadi Kiblat Budaya Dunia

Kesuksesan serial Jewel of the Palace sering dianggap mewakili pandangan ini. Serial drama dengan latar belakang sejarah dinasti Joseon ini diproduksi pada tahun 2003 diproduksi dengan modal 15 juta dolar, namun mampu menghasilkan pendapatan 40 juta dolar atau dua kali lipat lebih.

Kemudian sebagai bentuk dukungan bagi mendunianya Hallyu, pemerintah memberikan subsidi hingga 40 miliar won pada 2007.

Yang lebih fantastis lagi, pemerintah berinvestasi sebesar 2 trilyun won pada tahun 2008 untuk mewujudkan Korean Wave Hollywood, sebagai upaya menciptakan Korea Selatan sebagai kiblat kebudayaan populer Asia layaknya Hollywood di Amerika.

Presiden Roh dibawah MCST juga menerapkan kebijakan Han Style. Kebijakan tersebut dirancang untuk menggaungkan budaya tradisional masyarakat Korea Selatan sebagai budaya yang bersifat global.

Baca Juga: Sejarah Hallyu Part II, Inilah Alasan Mengapa Hallyu dan Drama Korea Begitu Digemari di Asia

Dalam prakteknya, pemerintah menekankan kepada enam pilar budaya asli Korea Selatan yaitu Hangeul (abjad dalam bahasa Korea Selatan), Hansik (masakan Korea Selatan). Hanbook (pakaian adat), Hanok (bentuk arsitektur tradisional), Hanji (budaya tulis) dan Hangeuk Eumak (musik tradisional).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemerintah tidak hanya menjadikan Hallyu sebagai kebijakan dalam instrumen budaya dan pariwisata, namun sekaligus upaya mendidik masyarakat Korea Selatan agar senantiasa mengembangkan budaya secara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.

Menurut data Korean Ministry of Culture, Sports, and Tourism, dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh industri program drama televisi dan industri kreatif Korea pada masa presiden Roh sangat meningkat.

Diluar pendapatannya di dalam negeri, espor program televisi Korea meningkat pesat dari 13 juta dolar di tahun 2003 menjadi 162 juta dolar di tahun 2007, dan selanjutnya meningkat kembali menjadi 133 juta dolar.

Baca Juga: Sejarah Hallyu Part III, Tangan Dingin Pemerintah Korea Selatan dalam Globalisasi Korean Wave

Sejak akhir tahun 2007, era boomingnya media sosial telah memfasilitasi penyebaran Hallyu ke lingkungan internasional, seperti; Youtube, Melon, Facebook, Twitter dan lain-lain.

Meningkatnya penggunaan fasilitas internet, maka Kementrian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan mengeluarkan kebijakan High Speed Internet Service Program.

Kebijakan ini merupakan bentuk pemanfaatan internet melalui sosial media untuk menyebarkan konten-konten kebudayaan, seperti; K-Drama dan K-Pop.

Baca Juga: Keren! Jungkook BTS Lulus dari Global Cyber University dan Raih Penghargaan President’s Award

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Korea‟s National Internet Development (NIDA) menyebutkan bahwa 90.8% pengguna internet (netizen) menggunakan internet untuk mengakses konten-konten hiburan, seperti; film, drama, program musik dan acara-acara televisi lainnya.

Penggunaan intensif terhadap sosial media berdampak pada peningkatan jumlah ekspor kebudayaan. Hal ini terbukti melalui Korean Broadcasting System (KBS) menjadi jaringan televisi utama di dunia yang mengekspor konten-konten kebudayaan Hallyu senilai US$43 juta ke 38 negara di dunia.***

Rekomendasi