

inNalar.com – Bendungan Tapin yang berada di Kalimantan Selatan ini masuk dalam daftar 65 infrastruktur waduk terbesar di Indonesia.
Namun siapa sangka di balik kemegahan bendungan ini, ternyata ada lika-liku pembangunan megaproyek berdana fantastis ini.
Tentu saja ada pengorbanan pula yang harus dibayar atas keraksasaan infrastruktur multifungsi senilai Rp986 miliar ini.
Rupanya apabila menarik mundur waktu menuju 20 tahun sebelum waduk ini diresmikan Presiden Jokowi pada Kamis, 18 Februari 2021.
Maka terungkap sebuah kisah tentang penolakan warga desa atas pembangunan infrastruktur ini.
Pada awal mula Bendungan Tapin masih berupa sekadar wacana, pemerintah setempat melakukan gelar sosialisasi bersama masyarakat Desa Pipitak Jaya dan Harakit di Kantor Kecamatan Piani.
Gelar sosialisasi yang terjadi pada tahun 2000 silam, berbicara mengenai proyeksi ditenggelamkannya dua desa yang akan diubah menjadi sebuah waduk raksasa berkapasitas 56,77 juta meter kubik.
Dengan harapan daerah irigasi pertanian Kabupaten Tapin dapat lebih berkembang hingga melega 5.472 hektare.
Potensi masa panen pun bakal berlipat ganda dan lebih lanjut bakal membuat kehidupan masyarakat yang ada di kedua desa tersebut jadi lebih baik dan sejahtera.
Baca Juga: Asupan Rp311 Miliar Macet saat Pencairan! Proyek Tower di Bali Ini Baru Rampung Pertengahan 2024
Berkat uraian penjelasan tersebut, 60 persen masyarakat menyatakan setuju atas pembangunan Bendungan Tapin, tetapi sebagiannya lagi menolak.
Alasan penolakannya adalah karena kekhawatiran jika tanah dan tempat tinggal para warga akan hilang bersama pula dengan kebudayaan yang telah lama melekat dalam diri mereka.
Namun usai berpikir panjang, masyarakat Tapin akhirnya mulai menyadari perlunya memajukan masyarakatnya di tengah perubahan sosial masyarakat yang semuanya telah menuju masa modernisasi.
Pada akhirnya, masyarakat Desa Pipitak Jaya dan Harakit menyetujui pembangunan infrastruktur dan bahkan kini dengan memaksimalkan potensi jaringan air di Kabupaten Tapin ada perubahan nasib, terutama bagi para petani.
Melansir dari situs Kementerian PUPR, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (p3A) membeberkan kondisi dulu dan sekarang usai dibangunnya waduk raksasa di daerah mereka.
Diungkapkan bahwa dahulu masa tanam para petani hanya sekali dalam setahun, tetapi usai pengairan semakin lancar dari bendungan tersebut ada perubahan signifikan.
Jadi setelah adanya infrastruktur setinggi 70 meter ini, masa tanam dapat berkembang hingga 2 atau 3 kali dalam setahun.
Begitu pula dengan capaian hasil produksinya, jika yang tadinya hanya 3 hingga 4 ton per hektare, usai adanya Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan menjadi berbeda.
Kini para petani mengungkap bahwa produktivitas pertaniannya bisa melesar hingga 7 hingga 8 ton per hektare.
Demikian sedikit mengenai dinamika masyarakat yang tinggal di lokasi pembangunan bendungan raksasa tersebut.***