Sederet 6 Bukti Kekejaman Masa Orde Baru Soeharto yang Otoriter, No 4 Bikin Nyesek Sampai ke Ubun-Ubun!

InNalar.Com – Masa Orde Baru di bawah tampuk kekuasaan Presiden Soeharto memang membawa berbagai spekulasi dari masyarakat.

Pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto memang mampu mengangkat perekonomian negara Indonesia yang mana beberapa waktu sebelumnya sempat terpuruk.

Dalam waktu yang terbilang sangat cepat, Soeharto mampu menekan inflasi rupiah yang awalnya 650 persen menjadi 120 persen.

Baca Juga: Terkenal Sejak 1771, Motif Kain Tenun Asal Pontianak Kalimantan Barat Ini Jadi Bentuk Cinta Lingkungan

Soeharto juga sukses mengangkat hasil pertanian dengan adanya revolusi hijau yang dijalankan hingga pada masa itu sepat mendapat gelar sebagai Macan Asia.

Namun, tak dapat dipungkiri, Soeharto menjalankan kepemimpinan dengan cara otoriter yang menimbulkan pro dan kontra.

Berikut jejak sejarah yang menyebutkan 6 bukti keotoriteran Presiden Soeharto di masa itu:

Baca Juga: BRI Yakin Ruang Pertumbuhan Kredit Masih Besar di Tengah Tantangan Ekonomi Global 

1. Terjadinya Invansi Indonesia di Timor Timur (Operasi Seroja) pada tahun 1975 yang menewaskan hingga 180.000 korban jiwa.

2. Petrus (Penembak Misterius), merupakan sebuah operasi rahasia yang bertujuan utama untuk menurunkan tingkat kejahatan yang tinggi pada 1980.

Tercatat sebanyak 1.123 orang menjadi korban dari Penembak Misterius ini. Korbannya kebanyakan adalah mereka yang dicap sebagai preman atau yang tampak berpotensi melakukan tindak kriminal.

Baca Juga: Ini Daftar 5 Kota Terkaya di Indonesia, Nomor 1 Kota Kecil di Jawa Timur, Alasannya Karena Ada Pabrik Rokok?

Mirisnya, dalam operasi ini para korban penembakan biasanya dibiarkan begitu saja setelah dieksekusi dengan tembakan.

3. Tragedi Tanjung Priok merupakan kejadian tak terlupa yang terjadi pada 12 September 1984 yang menyebabkan kurang lebih 700 orang hilang/meninggal.

4. Darurat Militer di Aceh 1990-1998 merupakan sebuah operasi khusus untuk melawan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang bertugas atas perintah Soeharto diduga melakukan rudapaksa pada sekitar 300 wanita dan anak dibawah umur.

Sementara itu, sekitar sebanyak 10.000 hingga 12.000 orang dinyatakan tewas selama berjalannya operasi ABRI tersebut.

5. Penculikan Aktivis yang Pro-Demokrasi pada tahun 1997-1998 menjelang Pemilu (Pemilihan Umum)

6. Pemenjaraan Presiden Pertama Republik Indonesia sekaligus Sang Tokoh Proklamator selama bertahun-tahun sejak 1967 hingga akhir nafasnya pada 1970.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]