

inNalar.com – Menurut kabar yang beredar, Hamas telah memabantai sejumlah warga sipil Israel yang jumlahnya sebanyak 1.400 pada 7 oktober lalu.
Kabar terkait pembantaian warga sipil Israel tersebut pun terus diinvestigasi kebenarnya.
Namun tanpa disangka, kebenaran terkait pembantaian 1.400 warga sipil Israel tersebut adalah hoax belaka, bagaimana penjelasannya?
Baca Juga: Nama Ketua MK Baru Keluar! Saldi Isra Tetap Jadi Wakilnya, Siapa Sosok Hakim Pengganti Anwar Usman?
Sebenarnya, Hamas melakukan serangan adalah dalam konteks pembalasan dan penistaan Masid al- Aqsa, blokade jalur Gaza, serta permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.
Seperti halnya yang disampaikan Abu Ubeida, bahwa tujuannya adalah untuk menghancurkan tentara Israel Divisi Gaza di beberapa titik utama dan militer lain.
Sebelumnya, Hamas juga dilaporkan telah menyandera ratusan warga Israel.
Namun hal tersebut dilakukan untuk kepentingan agar 5.300 warga Palestina yang ditahan dapat dibebaskan.
Hingga akhirnya, pada serangan yang dilakukan di tanggal 7 Oktober lalu, sebanyak 683 orang Israel terbunuh, dan dapat terverifikasi.
Namun, dari jumlah tersebut hampir dari setengahnya berasal dari tentara dan polisi Israel, dan sisanya baru merupakan warga.
Dalam peristiwa tersebut sebenarnya tentara Israel juga ikut andil atas terbunuhnya warga maupun militernya sendiri itu.
Dilansir dari laman twitter.com akun milik @Greschinov, Yasmin Porat salah satu saksi mata yang berhasil selamat memberikan kesaksian bahwa tentara Israel menembaki rumah-rumah ke arah Pejuang Hamas.
Nah, di dalam rumah tersebut ternyata ada ratusan warga Israel yang disandera untuk menjadi tebusan tadi.
Dari pernyataan ini dapat disimpulkan sebenarnya orang Israel yang terbunuh bukan sebanyak yang dilaporkan.
Serta, sebenarnya bukan Hamas yang menjadi penyebab utama dari kerusakan di Jalur Gaza sendiri, tetapi Israel lah yang paling berperan dalam hal ini.
Warga sipil Israel dalam beberapa laporan ternyata malah diperlakukan baik oleh Hamas saat disandera.
Itulah sekilas informasi terkait konflik di Gaza yang kabarnya ternyata belum terverifikasi kebenarannya.***