

inNalar.com – Salah satu proyek pembangunan bendungan dengan dana yang diperoleh dari pinjaman luar negeri adalah Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Bendungan Bili-bili di Gowa, Sulawesi Selatan ini berada 30 km di sebelah timur Kota Makassar ke arah hulu pertemuan Sungai Jeneberang dan Sungai Jenelata dan membendung Sungai Jenelata di Desa Bili-bili, Kecamatan Parangloe.
Pembangunan dari fasilitas penampung air ini dilakukan pertama kali pada tahun 1992 dan selesai serta dilakukan penggenangan perdana pada tahun 1997.
Meskipun pembangunannya baru dimulai pada tahun 1992, namun, rencana dari proyek ini sudah ada sejak beberapa puluh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1974.
Pada tahun tersebut, terjadi banjir yang datang dari luapan Sungai Jeneberang dan menggenangi Kota Makassar serta kabupaten tempat bendung air ini berada.
Dari kejadian tersebut, sedikitnya tiga perempat wilayah Kota Makassar tenggelam.
Oleh karena itu, pada tahun 1980, dilakukan studi kasus secara intensif terhadap proyek pembangunan ini dengan tujuan untuk mengatasi banjir yang terjadi setiap tahun.
Sepeuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1990, desain dari bendung air ini selesai dan mulai dilakukan pembebasan lahan seluas 40,428 hektare.
Dilansir dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dari seluruh total luas tersebut, Bendungan Bili-bili di Gowa, Sulawesi Selatan ini dilengkapi dengan sarana dan prasana yang lengkap.
Adapun sarana dan prasarana yang dari bendung air ini adalah bangunan pengelak aliran air sungai, genangan, bendung air, dan bangunan fasilitas seperti kantor pengoperasian bendung air.
Bangunan pengelak aliran air sungai terdiri dari terowongan berbentuk lingkaran serta coffer dam yang memiliki panjang kurang lebih 560 meter.
Kemudian, genangan dari Bendungan Bili-bili di Gowa, Sulawesi Sleatan ini memiliki daerah tangkapan seluas 384,4 km persegi.
Selain itu, Bendungan Bili-bili juga memiliki kapasitas tampung efektif sebesar 346 juta meter kubik dan pengendalian banjir sebesar 41 juta meter kubik.
Karena tujuan utamnya adalah untuk mereduksi banjir, maka, bendung air ini juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan banjir di Sungai Jeneberang dari 2.200 m3/detik menjadi 1.200 m3/detik.
Fasilitas ini juga mampu mengendalikan banjir periode 50 tahunan.
Tidak hanya itu, bendung air ini juga memiliki manfaat untuk menyediakan air irigasi sebesar 3.000 meter kubik per detik bagi daerah irigasi seluas 23.690 hektare.
Adapun daerah irigasi (DI) tersebut meliputi DI Bili-bili seluas 2.360 hektare, DI Kampili seluas 10.545 hektare, dan DI Bissua seluas 10.785 hektare.
Selain itu, bendung air yang dikelola oleh Satker Operasi dan Pemeliharaan SDA Pompengan-Jeneberang ini juga digunakan sebagai PLTA berkapasitas 20,1 MW dan juga sebagai tempat wisata, olahraga, dan budi daya perikanan barat.
Pembangunan dari Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini menghabiskan dana sebesar Rp400 miliar yang berasal dari pinjaman OECF (Overseas Economic Cooperation Fund) Jepang.
Dalam pembangunan bendung air ini, terdapat setidaknya empat kampung atau desa dan sekitar 2.000 hektare sawah milik warga yang terendam.
Adapun empat kampung tersebut antara lain adalah Bonto Parang, Lanna, Pattalikang, dan Kampung Manuju. Para warga di empat kampung tersebut kemudian direlokasi ke daerah Mamuju, Sulawesi Barat.***