Sambut Ramadhan 2022, Simak Profil Syekh Abdul Qadir Jaelani, Ulama Sufi yang Lahir di Bulan Penuh Berkah


inNalar.com
 – Sayid Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir Al Jaelani adalah ulama sufi yang  lahir di daerah bernama Na’if, Kota Gilan Garb, Persia (Iran). Ia lahir pada malam Lailatul Qadar di Ramadhan tahun 470 H (1077 M). Nama Abdul Qadir sendiri mengacu pada waktu kelahirannya di malam Lailatul Qadar.

Beberapa ulama sepakat bahwa Syekh Abdul Qadir Jaelani lahir di sebuah tempat bernama Na’if, yang terletak di Jilan (Persia) atau Iran di masa sekarang. Sedangkan menurut Imam Yaqut Hamwi, Syekh Abdul Qadir Jaelani lahir di sebuah tempat bernama Bashtir. Dan sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa Na’iff dan Bashtir adalah dua daerah yang berbeda.

Sejak kelahirannya Syekh Abdul Qadir dikenal sebagai Al Jaelani. Mengenai kelahirannya, dia secara pribadi menyatakan dalam Qasidah Ghausia, “Saya Al Jaelani, nama saya Muhyidin, dan panji-panji saya berkibar di puncak gunung.”

Baca Juga: 4 Sunah yang Dianjurkan dalam Berbuka Puasa, Beserta Doa Niat Puasa Ramadhan

Ada dua riwayat tentang tanggal lahir Syekh Abdul Qadir Jaelani. Riwayat pertama adalah bahwa ia lahir pada tanggal 1 Ramadhan 470 H. Sementara menurut riwayat lainnya ia dilahirkan pada malam 2 Ramadhan 470 H.

Ayah dari Syekh Abdul Qadir Jaelani adalah Sayid Musa Jangi Dost, dan ibunya adalah Ummul Khayr Fatima binti Al Syekh Abdullah Sumi. Karena kedua orang tuanya adalah sayid (keturunan Nabi Muhammad), maka garis keturunannya disebut Silsilatil Zehep (Rantai Emas).

Syekh Abdul Qadir Jaelani diakui oleh beberapa ulama sebagai salah satu dari empat wali qutub sepanjang masa, yang merupakan maqam spiritual tertinggi setelah para nabi dan rasul. Dia dikenal sebagai Gavsul Azam (Penolong terbesar dan manusia yang telah mencapai tingkat maqam yang tinggi). Selain itu dia juga mempunyai gelar Sultanul Awliya (Sultan para Wali).

Baca Juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadhan 2022 untuk Wilayah Jakarta dan Sekitarnya Full Satu Bulan

Ia menerima pendidikan pertamanya di kampung halamannya. Setelah kemudian ia pergi ke Baghdad untuk belajar hukum Islam, teologi, dan halvet (retret spiritual). Ia tinggal di antara beberapa reruntuhan di dekat Baghdad selama 25 tahun untuk mempraktekkan ilmu tasawuf. Sumber kontemporer pada masanya mengatakan, “Dia telah meninggalkan dunia sepenuhnya, dan selama empat puluh hari terakhir dia tidak makan apa pun.”

Guru pertamanya adalah Hamad ibn Muslim Al Dabbas. Dan diantara guru-gurunya yang terhormat adalah Said Mubarek bin Ali Mahzumi’dir dari Madrasah Hanbali, orang yang merawat makam Abu Hanifah.

Pada usia 18 tahun, saat proses pembelajarannya di Baghdad, Al Jaelani pernah menghadiri kelas yang diadakan oleh Tibrizi, Filolog Arab terkenal pada zamannya. Di sana ia diinisiasi ke dalam tasawuf dari Sekolah Abul Khair Muhammad.

Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon Ramadhan 2022 atau 1443 H, Cocok Dibagikan untuk Menyambut Bulan Suci

Syekh Abdul Qadir Jaelani  adalah salah satu Sufi terbesar yang pernah hidup, dan salah satu yang paling banyak dibicarakan dan ditulis. Selama masa hidupnya, Baghdad adalah pusat budaya tasawuf dan ilmu pengetahuan.

Al Jaelani terkenal di Baghdad dan bahkan di seluruh dunia Islam karena ceramah, mukjizat, puisi, dan bukunya. Sejak saat itu dia sangat dihormati dalam komunitas Islam dan Sufi pada umumnya. Karena ajarannya banyak orang Kristen dan Yahudi menjadi Muslim, dan banyak muridnya menjadi wali dan ulama yang terkenal.

Ia adalah pendiri tarekat Qadiriyah, tarekat darwis Sunni yang dianggap paling toleran dan dermawan. Qadiriyah punya pengikut yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia, dan para pengikutnya mengenal Syekh Abdul Qadir Jaelani sebagai ‘Ghaus-e-Azam’ (tertinggi dalam hierarki Orang Suci) karena kesalehan, kerendahan hati, pembelajaran, dan kelembutan jiwanya.

Baca Juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadhan 1443 H atau 2022 di Pangandaran Selama Satu Bulan, Beserta Niat Puasa

Ia menerima gaun sufi yang disebut ‘Khirka’ dari pemimpin dan pelindungnya, Syekh Qazi Abu Sa’ad Mubarak, kepala Sekolah Hukum Islam di Hambalite. Tidak lama kemudian, sebuah Khanqah (pesantren) dibangun untuknya. Pada 1134, mazhab Mubarak al Mukharrini diperluas dengan berbagai dakwah dan kemudian Syekh Abdul Qadir Jaelani diangkat sebagai kepalanya.

Dan di era modern seperti saat ini, Syekh Abdul Qadir adalah ulama yang sangat dihormati oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Sementara Anggota tarekat Qadiriyah saat ini menyebar hingga ke wilayah Asia Tengah, China, dan bahkan Indonesia.

Syekh Abdul Qadir Jaelani wafat pada usia 91 tahun, yaitu pada tanggal 11 Rabiul Akhir 561 H (1166 M). Makamnya berada di Baghdad, di mana ribuan orang menziarahinya hampir setiap hari, bahkan makam Syekh Abdul Qadir Jaelani dianggap sebagai jantung dari kota Baghdad.***

Rekomendasi