

inNalar.com – Momentum puasa 2022/1443 H di Indonesia akan diwarnai dengan perbedaan awal Ramadhan antara Muhmmadiyah, NU dan Pemerintah. Kemudian berlanjut pada perbedaan penentuan 1 Syawal 1443 H.
Dikutip inNalar.com dari CNN Indonesia, menurut Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur, Shofiullah, membenarkan akan ada peluang terjadinya perbedaan awal Ramadhan.
“Ini nanti seru, masyarakat akan ditawari dua pilihan awal Ramadhan, Sabtu dan Minggu (2 April atau 3 April 2022),” ungkap pria yang kerap disapa Gus Shofi itu.
Baca Juga: Sambut Ramadhan 2022 dengan Berbagi 15 Ucapan Penuh Makna, Menyentuh Hati Pembaca
Muhammadiyah telah terlebih dahulu mengeluarkan maklumat penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1443 H.
Didalamnya termaktub bahwa pada hari Jumat Pahing, 29 Sya’ban 1443 H bertepatan dengan 1 April 2022 M, ijtimak jelang Ramadan 1443 H terjadi pada pukul 13:27:13 WIB. Itu artinya 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada Sabtu Pon, 2 April 2022.
Di lain pihak, pemerintah dan NU baru akan melaksanakan sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1443 H pada 1 April 2022. Keduanya menyandarkan pada metode rukyatul hilal.
Lalu apa perbedaan antara metode yang ditetapkan Muhammadiyah, NU dan pemerintah dalam menyikapi permasalahan awal Ramadhan ?
Menurut pendapat peneliti dari Kemenag RI, Suhanah, penyebab perbeaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal antara Muhammadiyah dan NU dapat ditinjau dari metodenya.
Yang paling mendasar adalah Muhammadiyah menyandarkan pada metode hisab atau perhitungan, sedangkan NU menggunakan metode rukyatul hilal atau mengamati hilal secara langsung.
Kedua organisasi masyarakat ini memiliki landasan fikih masing-masing. Walaupun berbeda namun keduanya memiliki landasan fikih yang kuat, hisab dan rukyatul hilal sama-sama memiliki dasar hukum.
Metode Hisab Muhammadiyah
Walaupun menggunakan metode hisab, Muhammadiyah tidak sepenuhnya meninggalkan proses rukyat.
Tiga ketentuan hilal dengan metode ini:
1. Sudah terjadi konjungsi atau ijtimak
2. Ijtimak terjadi sebelum terbenamnya matahari
3. ada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud)
Ringkasnya, metode hisab ini menganggap apabila bulan baru sudah nampak setelah terbenamnya matahari, maka sudah dikatakan sebagai bulan baru.
Baca Juga: Ustadz Abdul Somad Ungkap Bacaan Doa Ziarah Kubur yang Banyak Dilakukan Orang Sebelum Ramadhan 2022
Berdasarkan maklumat yang dikeluarkan Muhammadiyah, pada 1 April 2022, tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta ( f = -07° 48¢ LS dan l = 110° 21¢ BT ) = +02° 18¢ 12² (hilal sudah wujud).
Dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam itu Bulan berada di atas ufuk. Itu artiya keesokan harinya sudah memasuki awal Ramadhan 2022.
Rukyatul Hilal NU dan Pemerintah
Menurut dua lembaga ini, penentuan hilal awal Ramadhan disandarkan pada penglihatan fisik bulan secara langsung (rukyatul hilal bil fi’ly).
Bulan yang dimaksudkan adalah bulan sabit muda tipis pada fase awal bulan baru. Jika pada malam ke 30 bulan Sya’ban hilal sudah terlihat, maka malam itu pula sudah dimulai bulan baru.
Begitupun bila belum terlihat, maka malam berikutnya baru dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi