

inNalar.com – Sebelum ketegangan antara Rusia dan Ukraina memanas dan diperkeruh dengan invasi penuh Rusia terhadap Ibukota Kyiv, kedua negara ini dulunya lahir dari satu rahim yang sama, yakni Uni Soviet.
Disintegrasi Uni Soviet atau yang disebut sebagai Union of Soviet Socialist Republics (USSR) merupakan klimaks dari berakhirnya negara bentukan Vladimir Ilyich Lenin pada 30 Desember 1922 tersebut.
USSR terjadi ketika Uni Soviet berada di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev (1985-1991). Dimensi persoalan yang timbul pasca USSR pun sangat kompleks.
Tidak hanya menyangkut aspek ideologi, politik, sosial, budaya dan keamanan. Namun juga terpecahnya negara itu dalam beberapa peta kekuasaan.
Pada tanggal 8 Desember 1991, Rusia, Belarus dan Ukraina mempelopori terbentuknya Commonwealth of Independent States (CIS).
Pembentukan CIS bertujuan untuk menyatukan negara-negara baru yang sebelumnya menjadi satu dengan Uni Soviet namun dalam kondisi yang lebih longgar.
Baca Juga: Volodymyr Zelensky Ungkap 137 Tentara Ukraina Tewas dan 316 Luka pada Invasi Hari Pertama
Setelah tiga negara itu bergabung, delapan negara lain menyepakati Alma Ata Protocol, mereka adalah Armenia, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgystan, Moldova, Turkmenistan, Tajikistan dan Uzbekistan.
Negara Baltik yakni Estonia, Latvia dan Lithuania bersepakat untuk tidak bergabung. Georgia sempat bergabung ke CIS namun keluar pada 2008.
Baca Juga: Bos Dorna Ungkap Keluhan Soal Sirkuit Mandalika, Aspalnya Tidak akan Kuat Menahan Tenaga Motor Balap
CIS yang beranggotakan Rusia, Ukraina dan Belarusia tadi membentuk sebuah kesatuan dengan pusatnya yang sekarang ini adalah ibukota Ukraina, Kiev.
Secara geografis, kedua negara ini adalah ‘tetangga’. Ukraina merupakan negara pecahan Uni Soviet, letak negaranya di sebelah timur berdekatan dengan Rusia.
Dimana negara Rusia merupakan negara pewaris Uni Soviet.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi