Rumah Kerucut Berusia 800 Tahun Jadi Warisan Arsitektur Budaya di Kampung Adat Wologai, Flores

InNalar.com – Tak jauh dari Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna yang menjadi magnet wisatawan desa Flores, terdapat satu tempat yang menyimpan warisan arsitektur rumah kerucut yaitu Kampung Adat Wologai, Flores.

Kampung Adat Wologai yang sangat kental dengan adat dan budaya ini, konon telah berusia 800 tahun.

Kampung ini terletak sekitar 37 Km di arah timur Ende dan dapat ditempuh kurang lebih selama dua atau tiga jam.

Baca Juga: Tingginya Capai 50 Meter! Suku di Papua Ini Tinggal di Rumah Pohon Demi Terhindar dari Roh Jahat Laleo

Ketika sampai di tempat ini, kita akan disambut dengan sebuah pohon beringin besar dengan akar raksasa.

Di samping itu, kita juga akan termanjakan dengan udara yang menyejukkan. Sebab, kampung adat ini terletak pada ketinggian 1045 mdpl.

Posisi kampung ini berada di sebuah lembah di dekat kaki Gunung Lepembusu. Mata kita akan terpana dengan hamparan pemandangan indah di kampung adat ini.

Baca Juga: Istana Manusia Purba Akhirnya Ditemukan di Padalarang: Dari Luar Tampak Biasa, tapi di Dalamnya Megah

Salah satu keunikan Kampung Adat Wologai adalah arsitektur bangunan rumah di sana berbentuk kerucut atau sering disebut rumah kerucut.

Rumah-rumah dibangun dengan posisi melingkar, kemudian ada tiga tingkatan dimana setiap tingkatannya disusun bebatuan ceper di atas tanah.

Semakin ke atas, pelataran yang disusun semakin menyempit hingga menyerupai kerucut.

Baca Juga: Ternyata Ada Kampung Terpencil di Papua Barat dengan Pemandangan Seperti Surga: Lokasinya…

Rumah panggung di kampung ini terbuat dari kayu yang diletakan di atas 16 batu ceper yang disusun tegak sebagai tiang dasar penyangga bangunan.

Bangunan ini memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar sekitar 5 meter.

Uniknya lagi, rumah panggung ini memiliki atap berbentuk kerucut yang terbuat dari alang-alang atau ijuk.

Tinggi bangunannya sekitar 4 meter dan atapnya mencapai 3 meter.

Tidak hanya bentuk bangunannya yang unik, pada eksterior bangunan di rumah inipun sangat penuh dengan filosofi.

Terdapat ukiran bangunan yang menceritakan terkait keseharian masyarakat adat seperti kegiatan bertani, ukiran hewan-hewan, dll.

Kemudian yang lebih uniknya lagi, di rumah kerucut ini juga terdapat ukiran dua bentuk payudara di tiang bagian muka rumah.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa ukiran payudara pada tiang itu sebagai simbol kehidupan.

Warisan budaya yang diturunkan tak hanya bangunan tetapi juga tradisi dan upacara adat. Dalam setahun terdapat dua ritual besar Kampung Adat.

Dua ritual itu yakni panen padi, jagung dan kacang-kacangan atau disebut Keti Uta pada bulan April.

Kemudian ritual tumbuk padi atau disebut Ta’u Nggua yang dilakukan pada bulan September.

Puncak dairi ritual Ta’u Nggu’a adalah Pire.

Menurut penuturan Leo, juru bicara para tetua adat di kampung ini, pada saat ritual Pire, masyarakat tidak akan menjalankan aktivitas hariannya selama 7 hari. Mirip seperti ritual Nyepi di Bali.

Tidak sampai di situ, setelah melewati berbagai upacara, maka komunitas adat Wologai akan menggelar ritual Gawi atau menari bersama di atas pelataran di sekeliling Tubu Kanga.

Tarian ini sebagai simbol mengucap kegembiraan dan kebersamaan.

Hingga saat ini, Kampung Adat Wologai menjadi tempat yang banyak dikunjungi wisatawan untuk melihat kearifan lokal di Flores, NTT.

Dilansir dari YouTube Cak Hanto, untuk masuk ke kampung adat itu pengunjung wajib menggunakan sarung kain tenun.

Kampung Adat Wologai ini menjadi salah satu warisan budaya yang penting untuk tetap dilestarikan.

Menjaga dan mencintai budaya Indonesia menjadi salah satu bentuk bakti kita terhadap bangsa.*** (Aliya Farras Prastina)

 

Rekomendasi