

InNalar.com – Indonesia akhir-akhir ini tengah banyak membangun smelter agar dapat mengolah hasil mineralnya sendiri.
Salah satunya adalah yang berada di Kalimantan Barat, yaitu pabrik pengolahan bauksit.
Sekedar informasi, proyek pembangunan ini sebenarnya pernah masuk proyek strategis nasional (PSN), namun sempat dikeluarkan hingga membuat rugi hingga triliunan.
Kerugian itu sendiri terjadi karena proyek pembangunan itu sempat mangkrak, atau pembangunannya sempat dihentikan.
Penghentian pembangunan pada pengolahan mineral itu bahkan cukup lama, karena terjadi selama 16 bulan.
Adapun pemberhentian itu terjadi karena adanya perselisihan antara dua pihak yang telah memenangkan tender proyek yang dimaksud.
Perselisihan itu terjadi pada PT Perumahan Pembangunan (PTPP) dengan China Aluminium International Engineering Corporation (Chalieco), yang merupakan perusahaan asal China.
Awalnya, tempat pengolahan mineral yang digarap sejak 2019 ini akan selesai pada tahun 2023, hingga akhirnya harus molor.
Meski begitu, pengolahan mineral Smelter Bauksit Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kalimantan Barat ini akhirnya akan dilanjutkan kembali.
Baca Juga: Pantas Aja TikTok Borong 75 Persen Sahamnya, GOTO Ternyata Punya Aset Segini, Capai Rp2 Triliun?
Pasalnya pemberhentian proyek penggarapan pengolahan mineral ini juga berpotensi membuat potential revenue loss atau bisa disebut dengan kerugian dari pendapatan yang hilang.
Sementara itu, kerugian dari pendapatan yang hilang itu sendiri bisa mencapai US$ 450 juta atau sekitar Rp6,75 triliun.
Dilansir InNalar.com dari laman mind.id, walau harus molor, namun saat ini progres penggarapan smelter bouksit ini akan dipercepat dengan Fase I akan selesai di semester II 2024 kelak.
Itulah cara dari MIND ID melalui anak perusahaannya, PT INALUM agar smelter bouksit yang berada di Mempawah, Kalimantan Barat dapat terselesaikan secepat mungkin.
Sebagai tambahan, bijih bauksit yang ada di pabrik itu nantinya akan diolah sehingga bisa menjadi alumina, atau orang-orang mungkin lebih menenalnya dengan alumunium.
Sementara itu, pengolahan mineral ini nantinya ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta ton alumina per tahun.
Hasilan sebanyak itu nantinya akan memanfaatkan biji bauksit sebanyak 3,3 juta ton per tahun.
Walau fase I akan beroperasi pada tahun 2024, namun nantinya smelter bouksit di Kalimantan Barat ini akan beroperasi sepenuhnya pada tahun 2025.
Saat sudah beroperasi tersebut, nantinya hasil dari mineral yang diolah itu bahkan mampu memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negeri, ataupun kebutuhan di dalam negeri.
Adapun anggaran yang diperlukan dalam membangun pabrik pengolahan ini harus menguras sebanyak USD 830. ***