

inNalar.com – Jaksa Italia telah meminta surat perintah penangkapan internasional, untuk mantan pemain depan Brasil dan Manchester City, Robinho, setelah dijatuhi hukuman karena kasus pemerkosaan.
Kejaksaan Italia juga sudah meminta proses ekstradisi dari Brasil terhadap Robinho dan Ricardo Falcao, rekannya yang juga divonis bersalah.
Berdasarkan informasri yang dihimpun, Kejaksaan Italia sedang menuntut agar pemain berusia 38 tahun itu diekstradisi oleh pihak berwenang Brasil sehingga ia dapat menjalani hukuman di negara tempat pelanggaran itu dilakukan.
Namun sistem hukum di Brasil, disebut tidak memungkinkan adanya proses ekstradisi terhadap warga negaranya ke negara lain. Maka kemudian, ada kemungkinan bahwa Robinho akan menjalani masa hukumannya di Brasil.
Sebelumnya, bersama dengan lima orang Brasil lainnya, Robinho dinyatakan bersalah atas pemerkosaan bergilir terhadap seorang gadis berusia 22 tahun, di sebuah klub malam di Milan pada 2017 dan dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara.
Robinho divonis bersalah dan dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, namun kemudian ia mengajukan banding.
Baca Juga: Hikayat Sepak Bola Indonesia: ‘Nasab’ Olahraga si Kulit Bundar di Nusantara
Selama bandingnya, Robinho mengaku bahwa dia melakukan hubungan badan dengan korban. Sedangkan eks pemain Real Madrid tersebut bersikeras bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah suka sama suka.
Namun Pengadilan Banding Milan menemukan fakta lain, bahwa Robinho telah melecehkan dan mempermalukan secara brutal korban, setelah putusan awal selama sidang pada Desember 2020. Pada bulan Januari, Mahkamah Agung Italia kemudian menolak banding terakhir Robinho.
Barang bukti yang diperlihatkan untuk menjerat mantan punggawa Timnas Brasil itu antara lain adalah pesan yang telah disadap, panggilan telepon, dan pesan antara Robinho dengan orang lain yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Baca Juga: Jarang Diketahui, Ternyata Dorce Gamalama Pernah Mendapat Gelar Kehormatan dari Keraton Solo
Salah satu pesan menunjukkan bahwa pria asal Sao Paulo tersebut mengatakan: “Itu membuatku tertawa karena aku tidak tertarik, wanita itu mabuk, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi.”
Di bawah surat perintah penangkapannya saat ini, jika Robinho meninggalkan negara Brasil, maka eks pemain AC Milan ini masih bisa menghadapi penangkapan jika dia bepergian ke salah satu negara yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Italia. Pemerintah Italia diketahui memiliki perjanjian ekstradisi dengan 70 negara.
Sebelumnya, Robinho berstatus bebas transfer setelah meninggalkan klub Turki Istanbul Basaksehir dan terlihat tiba di tempat latihan Santos dengan Beetle-nya hampir setiap hari pada Oktober 2020.
Baca Juga: Ustadz Abdul Somad Tengah Berbahagia, Fatimah Az Zahra Melahirkan Putra Pertama UAS
Kehadirannya disambut oleh banyak ofisial, pemain, dan penggemar di Santos, yang tampaknya berharap bisa memikatnya untuk menandatangani kontrak untuk keempat kalinya dalam kariernya.
Santos kemudian benar-benar mencapai kesepakatan lima bulan, setelah mengumumkan penandatanganannya dengan Robinho pada 10 Oktober. Tepat di hari yang sama saat Brasil merayakan ‘Hari Nasional Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan’.
Bancada das Sereias, sebuah Komunitas Feminis yang dibentuk oleh penggemar Santos, kemudian mengatakan kepada majalah Placar: “Kami membutuhkan suara kami untuk didengar. Kami, penggemar wanita Santos, tidak menginginkan dia di klub.”
Baca Juga: Pengabdi Setan 2 Garapan Sutradara Joko Anwar Siap Menggebrak Layar Lebar Indonesia Tahun Ini.
Ketika sponsor membatalkan kontrak atas penandatanganan dan atas protes dari berbagai pihak, Santos kemudian menangguhkan kesepakatannya dengan Robinho. Mereka menyatakan bahwa Robinho akan diberi kesempatan untuk lebih berfokus pada kasus asusila yang menjeratnya.
Terlepas dari banyaknya protes dari publik sepak bola Brasil, salah satu lapangan akademi muda Santos, masih dengan nama Robinho. Dan gambar pesepakbola kelahiran 25 Januari 1984 tersebut masih dapat ditemukan di beberapa lokasi di dalam stadion Vila Belmiro.***