Ritual Unik Rebo Wekasan 1 September: Cara Menyambut Hari Rabu Terakhir Bulan Safar

inNalar.com – Dianggap menjadi hari sial atau hari yang penuh dengan musibah, Rebo Wekasan tahun ini bertepatan dengan tanggal 1 September.

Namun, bagai 2 sisi mata uang, tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa Rebo Wekasan juga merupakan hari penuh keberkahan.

Entah menjadi hari sial atau hari penuh keberkahan, di hari Rebo Wekasan masyarakat cenderung melakukan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa.

Baca Juga: Plot Twist? Ini Manuver Tim Kuasa Hukum Jessica Wongso Jelang Sidang PK Kasus Kopi Sianida

Lalu apa makna dan amalan apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyambut hari tersebut? Simak ulasannya berikut!

Selain disebut dengan Rebo Wekasan, masyarakat juga menyebut hari Rabu terakhir di bulan safar ini dengan Rebo Kasan, atau Rebo Pungkasan.

Saat tiba hari Rebo Wekasan, masyarakat pada umumnya melakukan ritual ibadah seperti zikir, bersedekah dalam bentuk gunungan atau selametan, melakukan sholat sunnah, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Dosa Besar Hakim Terbongkar! Tak Ada Bukti Satupun Jessica Wongso Racuni Mirna Pakai Sianida

Ritual ibadah tersebut dijalankan dalam upaya untuk menolak bala yang mereka yakini akan terjadi pada hari Rebo Wekasan.

Namun, sebagian ulama mengharamkan sholat sunnah yang dikhususkan untuk menyambut hari Rebo Wekasan karena tidak ada dalil yang meriwayatkannya.

Selain itu, meski tidak diperbolehkan dalam syariat islam, masayarakat juga melakukan ibadah puasa pada hari tersebut dengan niat agar mendapat perlindungan dari pemilik semesta.

Baca Juga: 10 Perusahaan Tertua di Jawa Tengah, Sudah Berdiri Sebelum Indonesia Merdeka

Ritual Rebo Wekasan pada awalnya merupakan upacara yang dilakukan masyarakat Yogyakarta di titik pertemuan antara Sungai Gajah Wong dan Sungai Opak.

Alasan mengapa ritual dilakukan di titik pertemuan 2 sungai tersebut adalah karena masyarakat meyakini di titik tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul dan Sultan Agung bertemu.

Seiring berjalannya waktu, ritual tidak lagi dilakukan di sungai karena dinilai banyak menimbulkan efek negatif.

Baca Juga: LAGI! Kali Ini Giliran Pria Tak Terima Dituduh Ngobat oleh Polwan Viral Putri Sirty Cikita

Sebagai gantinya, masyarakat melakukan ritual gunungan lemper sembari diarak keliling kampung atau wilayah tertentu.

Tak dapat dipisahkan, ritual Rebo Wekasan masih dalam satu rangkaian upacara adat Safaran yang berakhir pada Jumat Kliwon bulan Maulid sebelumnya.

Upacara adat Rebo Wekasan sendiri identik dengan bagi-bagi sedekah berupa makanan seperti ketupat, kue apem, dan nasi tumpeng.

Baca Juga: Bocor ke Publik! Ini Ultimatum Otto Hasibuan Kepada Terpidana Kasus Kopi Sianida Jessica Wongso

Meskipun menuai pro dan kontra di dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, ritual Rebo Wekasan masih menjadi hal wajib untuk dilakukan bagi sebagian orang.

Bagi mereka yang pro dengan ritual ini adalah karena ingin melestarikan budaya warisan dari pendahulunya dan ada ketakutan tersendiri jika tidak menjalankannya.

Sedangkan masyarakat yang kontra terhadap ritual ini kebanyakan adalah karena amalan yang dilakukan pada hari tersebut tidak ada tuntunannya menurut syariat islam.

Baca Juga: Gaji Guru PNS Naik, Segini Nominal Golongan I Hingga IV: Tertinggi Rp…

Memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan 2 pandangan ini, karena masing-masing pihak memiliki dasar untuk melakukan apa yang diyakininya benar.

Yang bisa kita lakukan adalah mnegambil jalan tengah yaitu tetap melestarikan tradisi sedekahnya karena memang ada kebaikan di dalamnya namun tetap memilah amalan mana yang sesuai dengan syariat islam.***

Rekomendasi