
inNalar.com – Ribuan pelajar dari SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Paniai, Papua Tengah, memilih turun ke jalan bukan untuk berebut makanan gratis, karena tidak ingin piring mereka diisi secara cuma-cuma, tetapi justru ingin kepala mereka dipenuhi ilmu tanpa harus membayar mahal.
Dalam orasi penuh semangat, Obet Muyapa, salah satu koordinator aksi, menyampaikan pesan yang tajam: mereka bukanlah kelompok yang perlu dikasihani dengan makan siang gratis, tetapi generasi yang membutuhkan pendidikan gratis dan berkualitas tanpa biaya.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini adalah pernyataan keras dari generasi Papua yang ingin membuka mata pemerintah bahwa uang negara lebih baik digunakan untuk hal yang lebih berfaedah ketimbang sekadar mengisi perut yang sebenarnya sudah cukup kenyang.
Sebagai informasi, gelaran aksi demo ribuan pelajar se-Kabupaten Paniai ini berlangsung pada Senin, 24 Februari 2025, melansir dari Instagram Palembang Terekam.
Para pelajar di Paniai sadar betul bahwa masa depan mereka tidak akan ditentukan oleh sepiring nasi gratis, tetapi oleh kualitas pendidikan yang mereka terima.
Mereka menuntut agar anggaran negara yang begitu dermawan dalam hal makanan gratis bisa dialihkan untuk menggratiskan pendidikan dan memperbaiki fasilitas belajar yang sering kali jauh dari kata layak.
Ironisnya, di tengah gencarnya program makan gratis yang diklaim sebagai solusi peningkatan gizi anak, justru anak-anak Papua sendiri yang menyadari bahwa gizi otak jauh lebih penting.
Baca Juga: Inilah 5 Spot Ngabuburit saat Ramadhan Paling Favorit Warga Bandung, Ada Tempat Kesukaanmu?
Mereka lebih memilih bertarung dalam arena pendidikan ketimbang sekadar menikmati bantuan yang seolah-olah mengasihi tetapi sebenarnya mengerdilkan potensi mereka.
Sebagaimana diketahui, dalam dunia yang terus berkembang, di mana akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi kunci keberhasilan, para pelajar di Papua justru disuguhi pilihan absurd: menerima makanan gratis atau tetap berjuang membayar pendidikan yang mahal.
Anak-anak Papua, dengan kesadaran yang luar biasa, memilih untuk melawan kebijakan yang menurut mereka tidak lebih dari program instan yang hanya memberikan solusi sesaat.
Baca Juga: Sekolah Islam Ini Binaan Eks Menteri ESDM, Ini Dia Boarding School Termewah di Bogor
Mereka ingin sesuatu yang lebih dari sekadar kenyang sesaat—mereka ingin kenyang ilmu, kenyang masa depan, dan kenyang akan kesempatan yang lebih luas.
Meski pendidikan menjadi prioritas, bukan berarti kesehatan dan gizi harus diabaikan. Namun, solusi ideal bukanlah memilih salah satu, melainkan menyeimbangkan keduanya.
Tapi sayangnya, alokasi anggaran pemerintah sering kali lebih condong pada kebijakan populis yang bisa dipamerkan secara instan, ketimbang kebijakan jangka panjang yang benar-benar membangun.
Jika pemerintah benar-benar ingin membantu anak-anak Papua, mereka seharusnya bertanya dulu: apa yang benar-benar dibutuhkan? Apakah solusi instan berupa makan gratis, atau sistem pendidikan yang memungkinkan mereka bersaing di kancah global?
Diharapkan Pemerintah RI dapat memberi ruang diskusi terbuka bagi para pelajar Papua untuk dapat menyampaikan aspirasi dan program MBG ini pun diharapkan benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat daerahnya.***